Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah terus mengakselerasi pengembangan ekosistem kewirausahaan nasional guna mencapai target 10 juta wirausaha baru pada 2029.
Salah satu strategi yang ditempuh ialah memperkuat kapasitas lembaga inkubator usaha sekaligus mengintegrasikan layanan pendampingan ke dalam platform digital SAPA UMKM agar akses pembinaan semakin luas dan merata.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik, mengatakan penguatan lembaga inkubator menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas wirausaha nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
“Pendampingan melalui lembaga inkubator kami integrasikan dengan program Bursa Wirausaha Unggulan dan Pro-Kesra Produktif agar target 10 juta penduduk berwirausaha dapat tercapai secara lebih efektif,” ujarnya lewat rilisnya, Kamis (25/6/2026).
Menurut Riza, hasil berbagai studi menunjukkan pelaku usaha yang memperoleh pendampingan melalui program inkubasi memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi dibandingkan mereka yang merintis usaha secara mandiri. Karena itu, penguatan kelembagaan inkubator terus dilakukan, termasuk peningkatan kualitas layanan dan kompetensi para pendamping kewirausahaan.
“Banyak orang memiliki ide bisnis, tetapi belum mampu mewujudkannya menjadi usaha yang berkelanjutan. Melalui lembaga inkubator, calon wirausaha dapat memperoleh pendampingan, akses pembiayaan, pemasaran, sertifikasi, dan standardisasi yang dibutuhkan untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan,” kata Riza.
Selain memperluas jangkauan layanan, Kementerian UMKM juga menerapkan standar pelatihan, sistem evaluasi, serta pemeringkatan lembaga inkubator untuk memastikan kualitas proses pembinaan semakin optimal.
“Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kapasitas lembaga inkubator, meningkatkan kualitas layanan pendampingan, dan memperluas peluang UMKM untuk berkembang hingga naik kelas,” kata Riza.
Di sisi lain, program pengembangan kewirausahaan pemerintah juga diperkuat melalui Bursa Wirausaha Unggulan yang dirancang sebagai ekosistem pembinaan terpadu. Program tersebut mencakup pelatihan, penguatan kapasitas usaha, fasilitasi legalitas dan sertifikasi, pengelolaan keuangan, hingga perluasan akses pembiayaan dan pemasaran.
Adapun Program Kesejahteraan Produktif (Pro-Kesra Produktif) diarahkan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya kelompok masyarakat pada desil 5 hingga 10, melalui pendampingan berkelanjutan mulai dari tahap pra-produksi hingga pasca-produksi.
Riza menilai keberadaan inkubator, termasuk yang berada di lingkungan perguruan tinggi, memiliki posisi strategis dalam melahirkan inovasi berbasis teknologi dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam secara berkelanjutan. Dengan demikian, inkubator tidak hanya berperan mencetak pelaku usaha baru, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan.
Dukungan terhadap penguatan inkubator juga datang dari kalangan akademisi. Head of BINUS Incubator, Aloysius Bernanda Gunawan, menilai pendampingan menyeluruh menjadi faktor krusial bagi calon pengusaha maupun startup sejak tahap perumusan ide hingga penyempurnaan produk.
“Generasi muda memiliki kemampuan belajar yang cepat, adaptif terhadap perubahan, dan kaya akan ide. Jika didukung dengan pendampingan yang tepat, mereka tidak hanya mampu membangun usaha, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru,” ujarnya.
Sementara itu, Founder Kasisolusi, Deryansha Azhary, menekankan pentingnya pelatihan kewirausahaan yang relevan dengan kebutuhan bisnis saat ini, termasuk penguatan kemampuan komunikasi, literasi, serta personal branding melalui platform digital.
Ia juga menyambut positif pengembangan platform SAPA UMKM sebagai sarana pendampingan yang dapat menjangkau pelaku usaha di berbagai daerah.
“Pendampingan usaha yang merata melalui SAPA UMKM memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh pelaku UMKM untuk berkembang. Dengan demikian, pertumbuhan usaha tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau daerah-daerah di seluruh Indonesia,” kata Dery.