Bisnis.com, JAKARTA — Peretas memanfaatkan celah di platform media sosialInstagram untuk manipulasi asisten chatbot dukungan berbasis kecerdasan buatan (AI) milik Meta.
Celah tersebut kemudian digunakan untuk memberikan izin akses ke akun korban. Dampak dari eksploitasi sistem proteksi ini sempat melanda akun-akun profil tinggi, termasuk akun Instagram era pemerintahan Presiden Obama yang tidak aktif sejak 2017 hingga akun milik Kepala Sersan Mayor Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat, John Bentivegna.
Aksi pembobolan siber ini mengemuka sepanjang akhir pekan setelah sejumlah pengguna di platform Reddit dan X memberikan peringatan mengenai adanya pembajakan akun dengan pola serupa.
Salah satu korban yang mengalami pengambilalihan akun adalah peneliti keamanan siber ternama, Jane Wong. Kondisi pembobolan berjalan cepat tanpa adanya notifikasi peringatan awal yang disadari oleh pemilik akun sah.
“Password tiba-tiba berubah tanpa meminta persetujuan saya,” kata Wong, dilansir dari Techcrunch Selasa (2/6/2026).
Berdasarkan rekaman video penayangan proses peretasan di platform X, pelaku kejahatan siber memanfaatkan jaringan VPN untuk memalsukan lokasi geografis target agar terhindar dari deteksi proteksi otomatis Instagram.
Selanjutnya, peretas membuka ruang obrolan dengan Meta AI Support Assistant guna meminta kecerdasan buatan tersebut menambahkan alamat surat elektronik (surel) baru ke dalam akun korban. Asisten virtual Meta kemudian mengirimkan kode verifikasi ke surel milik peretas, yang setelah dimasukkan kembali ke ruang obrolan, memicu bot untuk memunculkan tombol atur ulang kata sandi (Reset Password).
Skema manipulasi siber ini terbukti sangat berbahaya karena pelaku sama sekali tidak perlu meretas atau mengambil alih alamat surel asli yang tertinggal di dalam akun Instagram milik korban.
Validasi forensik digital menunjukkan bahwa kotak masuk surel publik milik peretas terbukti menerima kode verifikasi resmi dari sistem asisten AI tersebut.
Juru bicara Instagram, Andy Stone, memberikan konfirmasi resmi bahwa gangguan keamanan pada sistem pelayanan pelanggan berbasis AI tersebut kini telah sepenuhnya diperbaiki.
Kendati penambalan celah (patching) telah rampung dieksekusi, manajemen Meta belum memberikan rincian data resmi mengenai total jumlah pengguna yang menjadi korban dari insiden pembobolan akses tidak sah ini.