Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Iran menghentikan seluruh layanan Global Positioning System (GPS) di wilayahnya dan mengaktifkan BeiDou Navigation Satellite System (BDS) asal China sebagai sistem navigasi tunggal.
Pengumuman ini menjadikan Iran sebagai negara pertama di Timur Tengah yang melakukan migrasi total dari infrastruktur navigasi milik Amerika Serikat.
Kebijakan ini merupakan implementasi dari perjanjian kerja sama komprehensif berdurasi 25 tahun yang ditandatangani Iran dan China pada 2021. Melalui kemitraan tersebut, Iran mendapatkan akses penuh terhadap sinyal presisi tinggi BeiDou serta dukungan teknis untuk integrasi infrastruktur nasional secara menyeluruh.
Deputi Menteri Komunikasi Iran, Ehsan Chitsaz, mengatakan transisi ini merupakan bentuk perlindungan terhadap kerentanan keamanan nasional yang selama ini melekat pada penggunaan GPS. Menurutnya, ketergantungan pada sistem milik asing tersebut memberikan celah bagi pihak luar untuk melemahkan akses navigasi pada saat kritis.
“Pada saat-saat tertentu, gangguan diciptakan pada sistem [GPS] ini oleh sistem internal, dan masalah inilah yang mendorong kami menuju opsi alternatif seperti BeiDou,” kata Chitsaz Defence Security Asia, Rabu (15/4/2026).
Strategi migrasi ini tidak terbatas pada sektor pertahanan, melainkan mencakup seluruh ekosistem digital dan ekonomi Iran. Chitsaz mengonfirmasi bahwa transisi BeiDou kini menyentuh sektor jaringan transportasi, pertanian presisi, infrastruktur internet, hingga rantai logistik strategis untuk mengamankan kedaulatan data nasional.
Konselor Kedutaan Besar China di Teheran, Zhang Heqing, mengonfirmasi transisi lengkap ini sebagai upaya kolektif untuk mengurangi ketergantungan pada infrastruktur digital Barat. Integrasi ini memperkuat posisi Iran dalam ekosistem satelit navigasi China yang terus berekspansi secara global.
Di sisi militer, penggunaan BeiDou dilaporkan telah meningkatkan presisi serangan rudal Iran secara drastis. Komandan Pasukan Rudal Iran, Brigadir Jenderal Amir Hajizadeh, mengeklaim bahwa sistem pemandu berbasis BeiDou memungkinkan rudal mereka menghantam target dengan margin kesalahan hanya satu meter.
Kemajuan teknologi ini juga berdampak pada peningkatan jangkauan rudal jelajah “Hoveyzeh” milik Iran yang kini mencapai 2.500 kilometer. Kapabilitas ini dinilai setara dengan sistem persenjataan canggih milik Barat, sekaligus memperkuat daya gentar Iran di kawasan Teluk Persia.
Keputusan Iran untuk bermigrasi sepenuhnya ke BeiDou dipicu oleh konflik dengan Israel pada Juni 2025 yang menyebabkan gangguan GPS massal di wilayah udara Iran. Peristiwa tersebut membuktikan bahwa navigasi satelit telah menjadi instrumen perang aktif yang dapat melumpuhkan ekonomi dan ketahanan sipil.
Sistem BeiDou menawarkan keunggulan melalui struktur satelit dua lapis yang memberikan ketahanan lebih kuat terhadap gangguan elektronik atau jamming. Hal ini terbukti efektif saat rudal Iran mampu menembus zona pertahanan udara ketat dalam operasi militer di wilayah regional baru-baru ini.
Strategi Iran ini mulai memicu efek domino di kawasan Timur Tengah, di mana negara-negara seperti Arab Saudi dan Turki dikabarkan mulai menjajaki kerja sama serupa dengan China.