#30 tag 24jam
Jangan Tasyabbuh dengan Tahun Baru Masehi, Ini Adab Menyambut 1 Muharram Menurut Ulama
Nanti malam, umat Islam akan memasuki tahun baru 1448 Hijriyah. Umumnya masyarakat akan merayakan pergantian tahun ini dengan suka cita dan kemeriahan. Bolehkah,... | Halaman Lengkap [714] url asal
#tahun-baru-islam #kalender-hijriyah #muharram #bulan-muharram #kalam-ulama
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 15/06/26 14:50
v/250401/
Nanti malam, umat Islam akan memasuki tahun baru 1448 Hijriyah. Umumnya masyarakat akan merayakan pergantian tahun ini dengan suka cita dan kemeriahan. Bolehkah, Tahun Baru Islamini dirayakan? Bagaimana pandangan syariat terhadapnya?Para ulama mengingatkan, dalam memperingati tahun baru Hijriyah tidak boleh meniru-niru (tasyabbuh) tradisi orang-orang non muslim yang merayakan tahun baru Masehi. Tasyabbuhbil kuffar (meniru-niru tradisi nonmuslim) ini yang dilarang, karena tak memberi manfaat apa-apa, kecuali kesan bangga menjadi bagian dari tradisi itu.
Hendaknya kedatangan 1 Muharramini disambut dengan kegiatan kegiatan syar'i, tanpa dentang lonceng, tak ada pesta, tak ada kembang api, maupun hiruk pikuk terompet.
Saat ini masih ada salah kaprah antusiasme warga dunia dalam hal ini umat Islam justru lebih pada perayaan tahun baru Masehi. Mereka ikut-ikutan berpawai yang dimulai sejak dini hari 00.00 setiap tahunnya. Kalaupun ada pawai, hendaknya didahului dengan edukasi Islami dan dilakukan di jam-jam sewajarnya (tidak harus jam 00.00).
Imam Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at menukil Imam Ibnu Rajab yang mengatakan bahwa : ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab."
Penegasan Imam Ibnu Rajab itu adalah menjelaskan tentang firman Allah dalam surat At Taubah ayat 36. Allah berfirman :
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu...” (QS. At Taubah: 36)
Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabishallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan.Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari).
Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Zulqa’dah; (2) Zulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. Oleh karena itu bulan Muharram termasuk bulan haram . Sehingga dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram.
Dalam buku 'Zaadul Masiir', karangan Ibnul Jauziy, dijelaskan juga bahwa pada bulan Muharram larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.
Hal itu untuk meminimalisasi kekeliruan dan kesalahan kaum muslimin saat memperingati tahun baru Hijriyah atau 1 Muharram. Sebab kaum musliminasih banyak yang salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, dan hura-hura. Harusnya umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan berlebihan.
Karena sebenarnya, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru Hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.
Ulama menjelaskan bahwa umat Islam yang memasuki tahun baru Hijriyah ini, akan menjadi hari-hari yang baru atau asing ke depannya. Umat harus instropeksi apakah tahun baru Hijriyah ini makin meningkat thalibul ilmi-nya (menuntut ilmu), thalibul haq (mencari hidayah dan kebenaran), dan thalibul akhirat (penuntut ilmu, pencari kebenaran dan orang yang menginginkan akhirat)?
Di tahun yang baru ini, amalan-amalan kebaikan harus diperhatikan, sebagai upaya untuk menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan upaya untuk memperoleh pahala.
Saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan. Sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”
Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”
Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam, Baca sebelum Maghrib Nanti!
Sebelum meninggalkan Tahun 1447 Hijriyah ada baiknya membaca doa akhir tahun pada waktu bakda Ashar atau sebelum Maghrib. Kemudian doa awal Tahun Baru Islam 1448... | Halaman Lengkap [603] url asal
#tahun-baru-islam #muharram #bulan-muharram #kalender-hijriyah #keutamaan-bulan-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 15/06/26 10:56
v/250172/
Muharram adalah salah satu bulan yang diagungkan oleh Allah Ta'ala dan merupakan bulan pertama dalam kalender Islam (Hijriyah). Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) menjelaskan dalam hadis yang diriwayatkan Abu Bakar RA: "Setahun terdiri dari 12 bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan, yaitu: Zulqa'dah, Zulhijjah dan Muharram , serta Rajab yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya'ban."1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa (16 Juni 2026) besok, namun dalam kalender Hijriyahawal bulan Muharram berlangsung setelah Maghrib (15 Juni 2026) hari ini.
Sebelum meninggalkan Tahun 1447 Hijriyah ada baiknya membaca doa akhir tahun pada waktu bakda Ashar atau sebelum Maghrib. Kemudian doa awal Tahun Baru Islam dibaca bakda Maghrib.
Berikut lafaz doa yang biasa diamalkan oleh para ulama ahlus sunnah wal jama'ah.
Doa Akhir Tahun Hijriyah:
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِيْ هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ. وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ , اَللّٰهُمَّ إِنِّي اَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِيْ, وَمَا عَمِلْتُهُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللّٰهُمَّ يَا كَرِيْمُ. يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّيْ وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Wa Shallallaahu ‘Ala Sayyidinaa Muhammadin wa ‘Alaa Aalihi Wa Shahbihii Wa Sallam. Allaahumma Maa ‘Amiltu Fi Haadzihis Sanati Mimmaa Nahaitani ‘Anhu Falam Atub Minhu Wa Lam Tardhahu Wa Lam Tansahu Wa Halamta ‘Alayya Ba’da Qudratika ‘Alaa Uquubati Wa Da’autani Ilattaubati Minhu Ba’da Jur’ati Alaa Ma’siyatika Fa Inni Astaghfiruka Fagfirlii Wa Maa ‘Amiltu Fiihaa Mimma Tardhaahu Wa Wa’adtani ‘Alaihits Tsawaaba Fas’alukallahumma Yaa Kariimu Yaa Dzal Jalaali Wal Ikram An Tataqabbalahuu minni Wa Laa Taqtha’ Rajaai Minka Yaa Karim, Wa Shallallaahu ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi Wa ‘Alaa ‘Aalihii Wa Shahbihii Wa Sallam.
"Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan dan penghulu kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau. Ya Allah! Apa yang saya lakukan pada tahun ini tentang sesuatu yang Engkau larang aku melakukannya, kemudian belum bertaubat, padahal Engkau tidak meridhai (merelakannya), tidak melupakannya dan Eengkau bersikap lembut kepadaku setelah Engkau berkuasa menyiksaku dan Engkau seru aku untuk bertaubat setelah aku melakukan kedurhakaan kepada-Mu, maka sungguh aku mohon ampun-Mu, maka ampunilah aku! Dan apapun yang telah aku lakukan dari sesuatu yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan pahala kepadaku, maka aku mohon kepada-Mu Ya Allah, dzat yang Maha Pemurah, dzat yang Maha Luhur lagi mulia, terimalah persembahanku. Dan janganlah Engkau putus harapanku dari Mu, wahai dzat yang Maha pemurah! Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau."
Doa Awal Tahun Hijriyah:
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, اَللّٰهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الأَوَّلُ, وَعَلَى فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ, وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ, نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ وَجُنُوْدِهِ, وَاْلعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ, وَاْلاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Wa Shallallaahu ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Wa ‘Alaa ‘aalihi wa Shahbihii Wa Sallam. Allaahumma Anta Abadiyyul Qadiimul Awwalu, Wa ‘Alaa Fadhlikal 'Azhimi Wujuudikal Mu’awwali, Wa Haadza ‘Aamun Jadidun Qad Aqbala Ilaina Nas’alukal ‘Ishmata Fiihi Minasy-Syaithaani Wa Auliyaa’ihi Wa Junuudihi Wal’auna ‘Alaa Haadzihin Nafsil Ammaarati Bis-suu’i Wal Isytighaala Bimaa Yuqarribuni Ilaika Zulfa Yaa Dzal Jalaali Wal Ikram Yaa Arhamar Raahimin, Wa Shallallaahu ‘Alaa Sayyidina Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi Wa ‘Alaa Aalihi Wa Shahbihii Wa Sallam.
"Dengan menyebut Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan dan penghulu kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau. Ya Allah! Engkau dzat yang kekal, yang tanpa permulaan, yang awal (pertama) dan atas kemurahan-Mu yang agung dan kedermawanan-Mu yang selalu berlebih, ini adalah tahun baru telah tiba. Kami mohon kepada-Mu pada tahun ini agar terhindar (terjaga) dari godaan syetan dan semua temannya serta bala tentara (pasukannya). Dan (kami mohon) pertolongan dari godaan nafsu yang selalu memerintahkan (mendorong) berbuat kejahatan, serta (kami mohon) agar kami disibukkan dengan segala yang mendekatkan diriku kepada-Mu dengan sedekat-dekatnya. Wahai Dzat yang Maha Luhur lagi Mulia, wahai Dzat yang Maha Belas Kasih! Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau.
Samakah 1 Muharram dengan 1 Suro? Simak Penjelasannya di Sini!
Samakah 1 Muharram dengan 1 Suro dalam penanggalan Jawa? Sistem penanggalan Jawa dan Kalender Hijriah ini sama-sama mengacu pada Qamariah atau lunar (berbasis perputaran... | Halaman Lengkap [685] url asal
#kalender-hijriyah #sura-muharram #kalender-jawa #muharram #1-suro
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/06/26 05:15
v/243752/
Samakah 1 Muharram dengan 1 Suro dalam penanggalan Jawa? Sistem penanggalan Jawa danKalender Hijriahini sama-sama mengacu pada Qamariah atau lunar (berbasis perputaran bulan). Hanya tahunnya dan penamaan bulan saja yang berbeda.Pada bulan pertama hijriah disebut Muharram . Dalam penanggalan Jawa dibuka dengan bulan Sura atau Suro.Malam tahun baru dalam kalender Jawaini juga dianggap sakral.
Di Jawa, malam 1 Suro diperingati dengan beragam cara di berbagai tempat misalnya dengan kungkum atau berendam di sungai besar, sendang atau sumber mata air tertentu dengan mandi kembang. Tradisi malam 1 Suro bermula saat zaman Kerajaan Mataram Islam diperintah oleh Mas Rangsang atau Sultan Agung Hanyokrokusumo yang berkuasa sekitar 1613-1645.
Di bawah panji kekuasaannya Kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaannya pada awal abad ke 17. Saat itu, masyarakat banyak mengikuti sistem penanggalan tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu.
Sultan Agung berusaha keras menanamkan agama Islam di Jawa. Dia kemudian memadukan Kalender Hijriah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman.
Hal ini dia lakukan pada 1625 Masehi (1547 Saka) dengan mengeluarkan dekrit yang mengganti penanggalan Saka yang berbasis perputaran matahari dengan sistem kalender kamariah atau lunar (berbasis perputaran bulan). Namun angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan, tidak menggunakan perhitungan dari tahun Hijriah (saat itu 1035 H).
Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan, sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam.
Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah Kesultanan Mataram yang meliputi seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (Balambangan).
Riwayat lain menyebut, Sunan Giri II berada di balik sistem Kalender Jawa. Sunan Giri II membuat penyesuaian antara sistem kalender Jawa dan sistem kalender Hijriah pada tahun 931 Hijriah atau bertepatan dengan 1443 tahun Jawa baru pada masa pemerintahan kerajaan Demak. Langkah ini ditempuh sebagai upaya memperkenalkan kalender Islam pada masyarakat Jawa.
Nah, selanjutnya Sultan Agung ingin rakyatnya bersatu untuk memerangi Belanda di Batavia, sekaligus ingin menyatukan Pulau Jawa. Sultan Agung berharap rakyatnya tidak terbelah, terlebih lagi oleh keyakinan agama. Dia ingin abangan dan kelompok santri bersatu.
Pada tiap Jumat legi, laporan pemerintahan setempat pun dilakukan sambil digelar pengajian oleh penghulu kabupaten, sekaligus ziarah kubur serta haul ke makam Giri dan Ngampel.
Karena hal tersebut, pada 1 Muharram atau bertepatan dengan 1 Suro Jawa pada hari Jumat legi disebut hari keramat, bahkan 1 Suro dianggap sial jika terdapat orang yang menggunakan hari tersebut untuk kepentingan lain luar kepentingan ziarah, mengaji, dan haul.
Saat tiba malam 1 Suro, umumnya masyarakat Jawa juga menggelar ritual atau tradisi tirakatan, tuguran (perenungan diri sambari berdoa), dan lek-lekan (tak tidur semalam suntuk).
Bahkan ada juga sebagian orang yang memilih menyepi atau bersemedi di suatu tempat sakral (puncak gunung, pohon besar, tepi laut, makam keramat). Bagi masyarakat Jawa, 1 Suro ini sebagai awal bulan tahun Jawa yang dianggap bulan sakral atau suci.
Bulan Suro pun dianggap sebagai bulan yang tepat untuk menggelar tafakur, renungan, dan introspeksi guna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun cara yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Jawa dalam berinstrospeksi yaitu dengan lelaku atau mengendalikan hawa nafsu.
Selain itu, sepanjang bulan Suro ini masyarakat Jawa juga meyakini agar selalu bersikap eling serta waspada. Eling ini berarti manusia tetap harus ingat siapa dirinya serta kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Sedangkan waspada berarti manusia harus tetap terjaga serta waspada dari berbagai godaan yang menyesatkan. Itulah mengapa masyarakat Jawa pantang untuk melakukan hajatan nikahan di bulan Suro.
Perayaan 1 Suro
Hingga saat ini, setiap tahunnya tradisi malam 1 Suro selalu diadakan oleh Keraton Yogyakarta maupun Surakarta sebagai penerus Kesultanan Mataram.Di Solo, biasanya, terdapat tradisi kebo bule perayaan malam 1 Suro. Sedangkan di Yogyakarta, terdapat tradisi kirab atau iring-iringan dengan membawa keris atau benda pusaka pada perayaan malam satu Suro.
Umumnya, peringatan 1 suro dilakukan pada malam hari usai magrib. Pasalnya, pergantian hari atau tahun Jawa dimulai saat terbenam matahari dari hari sebelumnya. Jadi, peringatam 1 Suro ini bukan pada waktu tengah malam seperti pergantian Tahun Baru Masehi.
Biasanya pada peringatan Malam 1 Suro yang kental dengan budaya Jawa ini terdapat berbagai ritual tradisi seperti kirab atau iring-iringan rombongan masyarakat.
Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam yang Penting Diketahui!
Sebelum meninggalkan Tahun 1447 Hijriyah ada baiknya membaca doa akhir tahun pada waktu bakda Ashar atau sebelum Maghrib. Kemudian doa awal Tahun Baru Islam dibaca... | Halaman Lengkap [538] url asal
#doa #doa-tahun-baru-hijriyah #doa-akhir-tahun-hijriyah #tahun-baru-islam #kalender-hijriyah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/06/26 16:52
v/248549/
Muharram adalah salah satu bulan yang diagungkan oleh Allah Ta'ala dan merupakan bulan pertama dalam kalender Islam(Hijriyah). Sebelum meninggalkan Tahun 1447 Hijriyah ada baiknya membaca doa akhir tahun pada waktu bakda Ashar atau sebelum Maghrib. Kemudian doa awal Tahun Baru Islam dibaca bakda Maghrib.Berikut lafaz doa yang biasa diamalkan oleh para ulama ahlus sunnah wal jama'ah.
Doa Akhir Tahun Hijriyah:
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِيْ هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ. وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ , اَللّٰهُمَّ إِنِّي اَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِيْ, وَمَا عَمِلْتُهُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللّٰهُمَّ يَا كَرِيْمُ. يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّيْ وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Wa Shallallaahu ‘Ala Sayyidinaa Muhammadin wa ‘Alaa Aalihi Wa Shahbihii Wa Sallam. Allaahumma Maa ‘Amiltu Fi Haadzihis Sanati Mimmaa Nahaitani ‘Anhu Falam Atub Minhu Wa Lam Tardhahu Wa Lam Tansahu Wa Halamta ‘Alayya Ba’da Qudratika ‘Alaa Uquubati Wa Da’autani Ilattaubati Minhu Ba’da Jur’ati Alaa Ma’siyatika Fa Inni Astaghfiruka Fagfirlii Wa Maa ‘Amiltu Fiihaa Mimma Tardhaahu Wa Wa’adtani ‘Alaihits Tsawaaba Fas’alukallahumma Yaa Kariimu Yaa Dzal Jalaali Wal Ikram An Tataqabbalahuu minni Wa Laa Taqtha’ Rajaai Minka Yaa Karim, Wa Shallallaahu ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi Wa ‘Alaa ‘Aalihii Wa Shahbihii Wa Sallam.
"Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan dan penghulu kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau. Ya Allah! Apa yang saya lakukan pada tahun ini tentang sesuatu yang Engkau larang aku melakukannya, kemudian belum bertaubat, padahal Engkau tidak meridhai (merelakannya), tidak melupakannya dan Eengkau bersikap lembut kepadaku setelah Engkau berkuasa menyiksaku dan Engkau seru aku untuk bertaubat setelah aku melakukan kedurhakaan kepada-Mu, maka sungguh aku mohon ampun-Mu, maka ampunilah aku! Dan apapun yang telah aku lakukan dari sesuatu yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan pahala kepadaku, maka aku mohon kepada-Mu Ya Allah, dzat yang Maha Pemurah, dzat yang Maha Luhur lagi mulia, terimalah persembahanku. Dan janganlah Engkau putus harapanku dari Mu, wahai dzat yang Maha pemurah! Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau."
Doa Awal Tahun Hijriyah:
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, اَللّٰهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الأَوَّلُ, وَعَلَى فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ, وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ, نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ وَجُنُوْدِهِ, وَاْلعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ, وَاْلاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Wa Shallallaahu ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Wa ‘Alaa ‘aalihi wa Shahbihii Wa Sallam. Allaahumma Anta Abadiyyul Qadiimul Awwalu, Wa ‘Alaa Fadhlikal 'Azhimi Wujuudikal Mu’awwali, Wa Haadza ‘Aamun Jadidun Qad Aqbala Ilaina Nas’alukal ‘Ishmata Fiihi Minasy-Syaithaani Wa Auliyaa’ihi Wa Junuudihi Wal’auna ‘Alaa Haadzihin Nafsil Ammaarati Bis-suu’i Wal Isytighaala Bimaa Yuqarribuni Ilaika Zulfa Yaa Dzal Jalaali Wal Ikram Yaa Arhamar Raahimin, Wa Shallallaahu ‘Alaa Sayyidina Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi Wa ‘Alaa Aalihi Wa Shahbihii Wa Sallam.
"Dengan menyebut Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan dan penghulu kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau. Ya Allah! Engkau dzat yang kekal, yang tanpa permulaan, yang awal (pertama) dan atas kemurahan-Mu yang agung dan kedermawanan-Mu yang selalu berlebih, ini adalah tahun baru telah tiba. Kami mohon kepada-Mu pada tahun ini agar terhindar (terjaga) dari godaan syetan dan semua temannya serta bala tentara (pasukannya). Dan (kami mohon) pertolongan dari godaan nafsu yang selalu memerintahkan (mendorong) berbuat kejahatan, serta (kami mohon) agar kami disibukkan dengan segala yang mendekatkan diriku kepada-Mu dengan sedekat-dekatnya. Wahai Dzat yang Maha Luhur lagi Mulia, wahai Dzat yang Maha Belas Kasih! Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau.
Khotbah Jumat : 5 Pelajaran dalam Pergantian Tahun Baru Hijriyah
Khotbah Jumat kali ini mengangkat tema tentang hikmah di balik pergantian Tahun Baru Hijriyah . Tahun baru Islam 1 Muharam 1445 Hijriyah insya Allah jatuh pada... | Halaman Lengkap [923] url asal
#khotbah-jumat #tahun-baru-islam #kalender-hijriyah #bulan-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/06/26 11:44
v/248160/
Khotbah Jumat kali ini mengangkat tema tentang hikmah di balik pergantian Tahun Baru Hijriyah. Tahun baru Islam 1 Muharam 1445 Hijriyah insya Allah jatuh pada Selasa 16 Juni 2026.Pergantian tahun ini hendaknya kita maknai dan syukuri. Berikut Khotbah Jumat tentang hikmah tahun baru disampaikan oleh Dr Iswahyudi MA, ketua Aswaja Center NU Ponorogo.
Khotbah Pertama
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
وقَالَ اللهُ تَعَالى ااِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Kaum Muslimin Sidang Jumat rahimakumullah!
Pada kesempatan berharga ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Caranya adalah dengan imtisaalu al-awaamir wa ijtinaabu an-nawaahi (melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya). Ketahuilah! tidak ada bekal yang paling bagus kita bawa di hadapan Allah kecuali takwa kita kepada Allah SWT.
Kaum Muslimin Sidang Jumat rahimakumullah!
Kita patut bersyukur kepada Allah SWT, karena diberi amanah umur yang panjang, diberi amanah kesehatan sehingga kita bisa menemui kembali tahun baru umat Islam. Ini menandakan bahwa secara kuantitatif umur kita semakin banyak dan secara kalkulatif ini menunjukkan bahwa kematian semakin dekat. Pergantian Tahun Baru Hijriyah ini harus kita beri makna. Makna ini penting agar pergantian tahun baru tidak hanya sekadar regularitas yang terjadi setiap tahun, tetapi pergantian tahun yang mengandung hikmah dan pelajaran berharga.
Pertama, sejarah mencatat bahwa Tahun Baru Hijriyah diawali bukan dari hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, bukan pula dari peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, atau yang lainnya. Tetapi diawali dari peristiwa Hijrahnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Hal ini disebabkan karena banyaknya ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang Hijrah. Di antaranya terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 100:
Artinya: "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa: 100)
Ayat Hijrah tersebut mengandung makna yang dalam yaitu memotivasi umat Islam untuk berhijrah di jalan Allah. Di antaranya adalah umat Islam tidak akan mengalami kemiskinan dan jika ia berhijrah karena Allah. Ingin kebaikan Akhirat dan dunia lalu meninggal akan mendapatkan pahalanya Allah. Ayat-ayat lain yang bicara Hijrah banyak memotivasi manusia untuk hidup lebih baik dari sebelumnya.
Agar tahun baru Hijriyah ini bermakna bagi kita, monggo kita berubah lebih baik dari sebelumnya. Jika sebelumnya jarang baca Al-Qur'an, tahun baru ini kita tingkatkan baca Al-Qur'annya. Pun demikian jika tahun sebelumnya jarang berjamaah ayo di tahun baru ini kita tingkatnya sholat jamaah kita. Intinya di tahun baru ini, ibadah individual dan ibadah sosial harus lebih meningkat dari tahun sebelumnya.
Kedua, peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah untuk membangun tatanan kehidupan yang lebih baik. Peristiwa Hijrah ini tidak dilakukan secara sembarangan. Akan tetapi dilakukan dengan strategi yang matang dan teknis perjalanan yang cermat. Semisal adanya perencanaan rute perjalanan yang jarang dilalui oleh orang kafir, perbekalan yang cukup, kendaraan yang kuat, adanya mata-mata perjalanan dan lain-lain. Ini adalah peristiwa sangat penting.
Rasulullah SAW melalui peristiwa Hijrah mengajarkan kepada umatnya untuk berpikir perencanaan yang matang. Jika umat Islam ingin jaya, maju dan umat Islam selalu terdepan, maka perencanaan haruslah matang. Jika tidak matang, maka umat Islam bisa dikalahkan oleh musuh.
Ketiga, setelah Nabi Muhammad SAW Hijrah dan menempati Yastrib, Nabi mengubah daerah itu menjadi Madinah yang berarti bisa tempat yang berbudaya, bisa juga kota. Dua makna ini sama maksudnya yaitu suatu daerah yang maju. Jika kita mengikuti pelajaran ini, ayo umat Islam menjadi umat yang berbudaya tinggi contohnya adalah disiplin, taat aturan, menjadi teladan, saling menghormati, saling menghargai, tepat waktu, dan lain-lain. Sungguh, jika ini dilakukan umat Islam akan menjadi jaya dan maju.
Keempat, setelah Nabi Muhammad SAW sampai di tempat Hijrah, Beliau pertama kali membangun masjid. Ini artinya Rasulullah SAW mengajarkan kepada umat Islam untuk menjadikan masjid sebagai tempat pemersatu. Caranya adalah ayo memakmurkan masjid dengan aktivitas jamaah. Sholat 5 waktu berjamaah serta menjadikan masjid semarak pengajian dan kegiatan keagamaan. Jika salah ditegur, dan jika benar pemimipin diikuti hingga selesai. Jika ini dilakukan niscaya masyarakat Islam akan damai, tentram dan sejahtera.
Kelima, ada amalan yang bagus dilakukan pada Bulan Muharram yaitu berpuasa tanggal 9 Muharram yang disebut dengan puasa Tasu'a dan 10 Muharram disebut Puasa Asyura. Puasa tanggal 10 disebut sebagai puasanya Nabi Musa dan Rasulullah SAW berkeinginan untuk puasa tanggal 9 untuk membedakan agar tidak sekadar tanggal 10 saja sebagaimana orang Yahudi dan Narani. Puasa tanggal 9 dan 10 bulan Muharram dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Artinya: "Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, semoga Allah SWT meridhoi keduanya. Abdullah berkata, "Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram) dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, para sahabat bertanya, 'Ya Rasulallah, itu adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah SAW bersabda, "Kalau ada kesempatan pada tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa Tasua (9 Muharram)." Abdullah Ibnu Abbas berkata, "Belum datang tahun depan, tetapi Rasulullah sudah terlebih dulu wafat." (HR Muslim)
Mumpung kita masih hidup dan masih sehat, ayo puasa pada dua hari tersebut. Disebutkan dalam hadis, puasa bulan Muharram adalah puasa paling bagus setelah puasa Ramadhan. Puasa itu akan menghapus dosa satu tahun yang lalu.
Kaum Muslimin Sidang Jumat rahimakumullah!
Semoga Tahun Baru Hijriyah ini, kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Di antaranya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya (rajin sholat berjamaah, sedekah, membaca Al-Qur'an dan lain-lain), melakukan perencanaan kegiatan, menjadikan masjid sebagai basis perkumpulan umat Islam, memperbanyak amal kebaikan (di antaranya adalah Puasa Tasua dan Puasa 'Asyura). Selamat Tahun Baru Hijriyah dan selamat berubah menjadi lebih baik.
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمَنْ يَشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ
Khotbah Kedua
اَمَّابَعْدُ : فَيَااَيُّهَا النَّاسُ
اِتَّقُوا اللهَ وَاَبْدِلُوا الْفَسَادَ بِا لرَّشَادِ. وَاَصْلِحُوا شُؤُوْنَكُمْ وَقُوْمُوْا عَلى قَدَمِ السَّدَادِ. فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْا اَنَّما عَلى رَسُوْلِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِيْنُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.
اللّهُمَ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَاعِفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْ عَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَبَلِّغْ جَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ خَيْرَيِ الدَّارَيْنِ مَا يُؤَمِّلُوْنَ وَانْشُرْ وَافِرَ اِحْسَانِكَ عَلٰى بَلْدَتِنَا هذِهِ وَسَائِرِ بِلَادِ الْاِسْلَامِ.
رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِا لْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ امَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.
عباد الله ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَخْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Mengapa Muharram Menjadi Bulan Pertama Tahun Hijriah? Ini Sejarah dan Keistimewaannya
Mengapa Muharram menjadi bulan pertama di tahun baru hijriah? Tahun baru Islam sendiri akan jatuh pada tanggal 16 Juni 2026 dalam kalender Masehi. Mengapa Muharram menjadi... | Halaman Lengkap [464] url asal
#muharram #bulan-muharram #kalender-hijriyah #tahun-baru-islam #sejarah-tahun-baru-islam
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/06/26 11:07
v/248129/
Mengapa Muharrammenjadi bulan pertama di tahun baru hijriah? Tahun baru Islamsendiri akan jatuh pada tanggal 16 Juni 2026 dalam kalender Masehi.Dalam Islam, Muharram merupakan salah satu bulan-bulan yang diagungkan Allah ( Asyhurul Hurum ). Dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 36, Allah Ta'ala mengabarkan 4 bulan yang wajib dimuliakan yaitu zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Pada bulan-bulan ini umat Islam dilarang menganiaya diri sendiri dan sebaliknya dianjurkan memperbanyak amal saleh.
Dalam surah lain (Surah Al Fajar ayat 1-3), Allah Ta'ala berfirman dengan kalimat sumpah: "Wal-Fajri (demi waktu Fajar), wa laya lin 'Asyrin (demi malam yang sepuluh), wassyaf'i wal-watri (demi yang genap dan yang ganjil). Para mufassir menjelaskan ayat "demi malam yang sepuluh" itu adalah 10 hari terakhir bulan Ramadan, 10 hari pertama bulan zulhijjah dan 10 hari pertama bulan Muharram .
Sebelum kalender hijriah mulai digunakan, umat Islam menggunakan 'Am Al-Fil’ (tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW untuk menentukan tanggal dan waktu. Tetapi Khalifah kedua, Sayyidina Umar bin Khattab (RA) membuat kalender baru dengan mengumumkan bahwa tahun Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah menjadi tahun pertama dalam Kalender Hijriyah.
Merujuk kepada firman Allah dalam Al-Qur'an , para sahabat dan salafunassaleh (ulama terdahulu) menjadikan Muharram sebagai bulan memperbanyak amal saleh. Di bulan ini mereka menghidupkan puasa sunnah, berzikir dan memperbanyak amal kebaikan. Mereka tau bahwa keutamaan Muharram begitu mulia di sisi Allah sehingga tidak mau lewat begitu saja.
Keistimewaan Bulan Muharram
Di dalam bulan Muharram terdapat satu hari yang sangat agung yaitu hari ke-10 yang dikenal dengan nama 'Asyura . Dalam catatan islamicfinder disebutkan, awalnya puasa 10 Muharram merupakan suatu kewajiban. Namun kemudian puasa diwajibkan hanya di bulan Ramadhan saja dan puasa 10 Muharram dibuat opsional. Sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidah 'Aisyah RA bahwa Nabi SAW bersabda: "Barang siapa yang berniat puasa (pada hari Asyura ) maka lakukanlah; dan barang siapa yang berniat meninggalkannya dapat melakukannya." (Sahih Al-Bukhari)Akan tetapi, perlu diingat berpuasa selama bulan Muharram merupakan amalan mulia dan paling berpahala di antara puasa opsional (Nafil) merujuk pada hadis Nabi berikut: "Puasa terbaik (paling afdhol) setelah bulan Ramadan adalah puasa pada bulannya Allah, Al-Muharram ." (HR An-Nasai)
Asyura merupakan hari paling suci di antara semua hari pada bulan tersebut. Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, beliau berpuasa pada hari 'Asyura dan mengarahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari ini. Tetapi ketika puasa Ramadan diwajibkan, puasa pada hari ini dibuat opsional. Namun, menurut banyak hadis otentik, puasa pada hari Asyura adalah sunnah Nabi SAW .
Keistimewaan puasa 'Asyura ini sebagaimana sabda Beliau SAW: "Dan puasa di hari 'Asyura saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." (HR Muslim)
Demikian ulasan singkat keutamaan Muharram dan keistimewaan Hari Asyura . Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada umat muslim agar dimudahkan dalam beramal saleh. Wallahu A'lam
Jangan Salah Kaprah! Begini Cara Menyambut Tahun Baru Islam Menurut Syariat
Tahun baru Islam atau 1 Muharram 1448 Hijriyah akan segera tiba. Umumnya masyarakat akan merayakan pergantian tahun ini dengan suka cita dan kemeriahan. Bolehkah,... | Halaman Lengkap [724] url asal
#kalender-hijriyah #tahun-baru-islam #muharram #kalender-islam #bulan-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/06/26 05:15
v/247822/
Tahun baru Islam atau 1 Muharram 1448 Hijriyah akan segera tiba. Umumnya masyarakat akan merayakan pergantian tahun ini dengan suka cita dan kemeriahan. Bolehkah, tahun baru hijriyah ini dirayakan? Bagaimana pandangan syariat terhadapnya?Para ulama mengingatkan, dalam memperingati tahun baru Hijriyah tidak boleh meniru-niru ( tasyabbuh ) tradisi orang-orang non muslim yang merayakan tahun baru Masehi. Tasyabbuh bil kuffar (meniru-niru tradisi nonmuslim) ini yang dilarang, karena tak memberi manfaat apa-apa, kecuali kesan bangga menjadi bagian dari tradisi itu.
Hendaknya kedatangan 1 Muharramini yang bertepatan dengan tanggal 16 Juni 2026 disambut dengan kegiatan kegiatan syar'i, tanpa dentang lonceng, tak ada pesta, tak ada kembang api, maupun hiruk pikuk terompet.
Saat ini masih ada salah kaprah antusiasme warga dunia dalam hal ini umat Islam justru lebih pada perayaan tahun baru Masehi. Mereka ikut-ikutan berpawai yang dimulai sejak dini hari 00.00 setiap tahunnya. Kalaupun ada pawai, hendaknya didahului dengan edukasi Islami dan dilakukan di jam-jam sewajarnya (tidak harus jam 00.00).
Imam Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at menukil Imam Ibnu Rajab yang mengatakan bahwa : ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab."
Penegasan Imam Ibnu Rajab itu adalah menjelaskan tentang firman Allah dalam surat At Taubah ayat 36. Allah berfirman :
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu...” (QS. At Taubah: 36)
Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabishallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan.Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari).
Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqa’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. Oleh karena itu bulan Muharram termasuk bulan haram . Sehingga dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram.
Dalam buku 'Zaadul Masiir', karangan Ibnul Jauziy, dijelaskan juga bahwa pada bulan Muharram larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.
Hal itu untuk meminimalisasi kekeliruan dan kesalahan kaum muslimin saat memperingati tahun baru Hijriyah atau 1 Muharram. Sebab kaum musliminasih banyak yang salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, dan hura-hura. Harusnya umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan berlebihan.
Karena sebenarnya, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru Hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.
Ulama menjelaskan bahwa umat Islam yang memasuki tahun baru Hijriyah ini, akan menjadi hari-hari yang baru atau asing ke depannya. Umat harus instropeksi apakah tahun baru Hijriyah ini makin meningkat thalibul ilmi-nya (menuntut ilmu), thalibul haq (mencari hidayah dan kebenaran), dan thalibul akhirat (penuntut ilmu, pencari kebenaran dan orang yang menginginkan akhirat)?
Di tahun yang baru ini, amalan-amalan kebaikan harus diperhatikan, sebagai upaya untuk menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan upaya untuk memperoleh pahala.
Saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan. Sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”
Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”
Kapan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah?
Kapan 1 Muharram 1448 Hijriah? Karena setelah berakhirnya bulan yang identik dengan pelaksanaan ibadah haji dan Hari Raya Iduladha, umat Muslim akan menyambut datangnya... | Halaman Lengkap [222] url asal
#muharram #tahun-baru-islam #kalender-hijriyah #kalender-islam #bulan-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/06/26 05:15
v/239219/
Kapan tahun baru Islamatau 1 Muharram 1448 Hijriah? Karena setelah berakhirnya bulan yang identik dengan pelaksanaan ibadah haji dan Hari Raya Iduladha, umat Muslim akan menyambut datangnya Tahun Baru Islam.Berdasarkan Kalender HijriahIndonesia 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, 1 Muharram 1448 Hijriah diperkirakan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Momen ini menjadi penanda dimulainya tahun baru dalam kalender Islamyang digunakan oleh umat Muslim di berbagai negara.
Jika dihitung mulai Senin, 1 Juni 2026, maka masih tersisa 15 hari lagi menuju Tahun Baru Islam 2026. Dengan demikian, umat Islam memiliki waktu untuk mempersiapkan diri menyambut pergantian tahun Hijriah yang penuh makna tersebut.
Perlu diketahui bahwa sistem kalender Hijriah berbeda dengan kalender Masehi. Dalam kalender Islam, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam atau memasuki waktu Magrib. Oleh karena itu, pergantian tahun dari 1447 Hijriah ke 1448 Hijriah sebenarnya dimulai pada Senin, 15 Juni 2026 saat waktu Magrib tiba.
Tradisi menyambut Tahun Baru Islam biasanya diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti doa bersama, pengajian, refleksi diri, hingga kegiatan sosial yang bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Kabar baik bagi masyarakat Indonesia, pemerintah telah menetapkan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah sebagai salah satu hari libur nasional pada tahun 2026. Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.
Fakta Sejarah: Hijrah Nabi SAW Terjadi di Bulan Rabiul Awal, Bukan Muharram
Ternyata, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ternyata bukan di bulan Muharram, sebagaimana awal bulan dalam kalender Hijriah . Hijrah Nabi SAW justru terjadi di... | Halaman Lengkap [415] url asal
#muharram #hijrah-nabi-muhammad-saw #muharram-bukan-bulan-hijrah-nabi #bulan-muharram #kalender-hijriyah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 07/06/26 12:21
v/242560/
Ternyata, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAWternyata bukan di bulan Muharram, sebagaimana awal bulan dalam kalender Hijriah . Hijrah Nabi SAW justru terjadi di bulan Rabiul Awal .Seringkali terjadi kekeliruan, lantaran tahun Hijriah diawali dengan bulan Muharramkemudian banyak pihak menganggap peristiwa hijrah juga terjadi pada bulan tersebut.
Syaikh Shafiyurrahman Mubarakfuri dalam bukunya berjudul "Sirah Nabawiyah" menyebutkan Rasulullah SAW mulai berhijrah meninggalkan Gua Tsur pada malam Senin tanggal 1 Rabiul Awal tahun 1 Hijriyah (16 September 622 M). Nabi sampai di Quba hari Senin tanggal 8 Rabiul Awal tahun 1 H (23 September 622 M), lalu berdiam di sana selama empat hari, yaitu hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis.
Nabi Muhammad SAW selanjutnya memasuki Madinah pada hari Jumat tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1 H. Momentum itu bisa dikatakan sebagai proklamasi tegaknya negara Islam di Madinah.
Di bulan Rabiul Awal itu juga menjadi era baru fase dakwah setelah 13 tahun Rasulullah SAW berdakwah di Mekkah dengan segala lika-liku dan suka duka rintangannya.
Di Madinah pula Rasul SAW menerapkan Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya dalam aspek aqidah, ibadah dan muamalah yang masih terbatas seperti halnya di Mekkah.
Kalender Hijriah
Dalam sejarah pembentukannya, kalender hijriah memang terinspirasi oleh peristiwa hijrah umat Islam dari Mekkah ke Madinah. Ide pembuatan sistem penanggalan Islam ini sendiri dilatarbelakangi problem administratif. Agar masalah ini terpecahkan, Khalifah Umar bin Khattab mengumpulkan sejumlah sahabat untuk berembug mencari solusi.Terjadilah diskusi panjang yang menghasilkan ide agar dibentuk sistem penanggalan Islam. Hanya saja, mereka bingung, penanggalan tersebut harus mengacu pada peristiwa besar, tapi peristiwa apa yang cocok?
Muncullah sejumlah pendapat. Ada yang mengusulkan agar pembuatan tahun mengikuti penanggalan Persia dan Romawi. Ada yang mengajukan usul agar mengacu pada peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada yang mengusulkan berdasarkan tahun diutusnya Nabi (bi’tsah). Ada pula yang mengusulkan pada tahun kewafatan Nabi.
Akhirnya, Ali bin Abi Thalib mengajukan ide agar sistem penanggalan tersebut mengacu pada peristiwa hijrah umat Islam dari Mekkah ke Madinah.
Umar kemudian menyetujui usulan Ali karena peristiwa ini diketahui semua orang dan merupakan simbol transformasi dakwah Islam.
Setelah semua sepakat, bulan apa yang pas kiranya dijadikan awal tahun. Diskusi pun berlangsung kembali dan muncul usulan yang beragam. Sebagian mengusulkan agar diawali dengan bulan Ramadhan. Hanya kemudian, Umar mengajukan pendapat agar diawali dengan bulan Muharram.
Alasannya, Muharram adalah momen saat umat Islam baru selesai menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Menurutnya, jamaah haji yang baru merampungkan rukun Islam kelima ini bersih dari dosa sehingga kepulangan mereka lebih pas dijadikan awal tahun Hijriah. Wallahu A'lam
Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Hijriah?
Mengapa Muharram menjadi awal tahun baru hijriah? Bagaimana asal usul atau sejarah penamaan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Islam ini? Simak ulasan... | Halaman Lengkap [510] url asal
#muharram #kalender-baru-hijriah #kalender-islam #bulan-muharram #tahun-baru-hijriyah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 07/06/26 05:15
v/242382/
Mengapa Muharrammenjadi awal tahun baru hijriah? Bagaimana asal usul atau sejarah penamaan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Islam ini? Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini.Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, 1 Muharram 1448 Hijriah diperkirakan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Momen ini menjadi penanda dimulainya tahun baru dalam kalender Islamyang digunakan oleh umat Muslim di berbagai negara.
Dalam Islam, Muharram merupakan salah satu bulan-bulan yang diagungkan Allah ( Asyhurul Hurum ). Dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 36, Allah Ta'ala mengabarkan 4 bulan yang wajib dimuliakan yaitu Dzulqa'dah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Pada bulan-bulan ini umat Islam dilarang menganiaya diri sendiri dan sebaliknya dianjurkan memperbanyak amal saleh.
Dalam surah lain (Surah Al Fajar ayat 1-3), Allah Ta'ala berfirman dengan kalimat sumpah: "Wal-Fajri (demi waktu Fajar), wa laya lin 'Asyrin (demi malam yang sepuluh), wassyaf'i wal-watri (demi yang genap dan yang ganjil).
Para mufassir menjelaskan ayat "demi malam yang sepuluh" itu adalah 10 hari terakhir bulan Ramadan, 10 hari pertama bulan Zulhijjah dan 10 hari pertama bulan Muharram .
Sebelum kalender hijriah mulai digunakan, umat Islam menggunakan 'Am Al-Fil’ (tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW untuk menentukan tanggal dan waktu. Tetapi Khalifah kedua, Sayyidina Umar bin Khattab (RA) membuat kalender baru dengan mengumumkan bahwa tahun Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah menjadi tahun pertama dalam Kalender Hijriyah.
Merujuk kepada firman Allah dalam Al-Qur'an , para sahabat dan salafunassaleh (ulama terdahulu) menjadikan Muharram sebagai bulan memperbanyak amal saleh. Di bulan ini mereka menghidupkan puasa sunnah, berzikir dan memperbanyak amal kebaikan. Mereka tau bahwa keutamaan Muharram begitu mulia di sisi Allah sehingga tidak mau lewat begitu saja.
Keistimewaan Bulan Muharram
Di dalam bulan Muharram terdapat satu hari yang sangat agung yaitu hari ke-10 yang dikenal dengan nama 'Asyura . Dalam catatan islamicfinder disebutkan, awalnya puasa 10 Muharram merupakan suatu kewajiban. Namun kemudian puasa diwajibkan hanya di bulan Ramadhan saja dan puasa 10 Muharram dibuat opsional. Sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidah 'Aisyah RA bahwa Nabi SAW bersabda: "Barang siapa yang berniat puasa (pada hari Asyura ) maka lakukanlah; dan barang siapa yang berniat meninggalkannya dapat melakukannya." (Sahih Al-Bukhari)Akan tetapi, perlu diingat berpuasa selama bulan Muharram merupakan amalan mulia dan paling berpahala di antara puasa opsional (Nafil) merujuk pada hadis Nabi berikut: "Puasa terbaik (paling afdhol) setelah bulan Ramadan adalah puasa pada bulannya Allah, Al-Muharram ." (HR An-Nasai)
Asyura merupakan hari paling suci di antara semua hari pada bulan tersebut. Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, beliau berpuasa pada hari 'Asyura dan mengarahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari ini. Tetapi ketika puasa Ramadan diwajibkan, puasa pada hari ini dibuat opsional. Namun, menurut banyak hadis otentik, puasa pada hari Asyura adalah sunnah Nabi SAW .
Keistimewaan puasa 'Asyura ini sebagaimana sabda Beliau SAW: "Dan puasa di hari 'Asyura saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." (HR Muslim)
Demikian ulasan singkat keutamaan Muharram dan keistimewaan Hari Asyura . Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada umat muslim agar dimudahkan dalam beramal saleh. Wallahu A'lam
Muhammadiyah Iduladha 27 Mei 2026, Pemerintah Sidang Isbat 17 Mei
PP Muhammadiyah menetapkan Iduladha 2026 jatuh pada Rabu 27 Mei 2026 mendatang. Sedangkan Kemenag baru akan menggelar Sidang Isbat pada Minggu 17 Mei 2026. Pimpinan... | Halaman Lengkap [616] url asal
#muhammadiyah #kementerian-agama #sidang-isbat #iduladha #kalender-hijriah-global-tunggal
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 15/05/26 10:20
v/221620/
JAKARTA - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan Iduladha 2026 atau 10 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada Rabu 27 Mei 2026 mendatang. Sedangkan Hari Arafah atau 9 Zulhijah 1447 H jatuh pada Selasa 26 Mei 2026.Awal bulan Zulhijah dimulai pada Senin 18 Mei 2026. Keputusan PP Muhammadiyah ini berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Penetapan Iduladha 2026 ini, dikutip dari laman Muhammadiyah, didasarkan hasil hisab astronomis global yang menggunakan Parameter Kalender Global (PKG). Sistem ini dirancang untuk menghadirkan keseragaman awal bulan Hijriah bagi seluruh umat Islam di dunia.
"Dalam sistem ini, penentuan awal bulan tidak lagi bergantung pada batas wilayah negara, melainkan menggunakan prinsip keterlihatan hilal secara global," sebut PP Muhammadiyah, dikutip Jumat (15/5/2026).
Ijtimak menjelang Zulhijah 1447 H terjadi pada hari Sabtu 16 Mei 2026 pukul 20.01.02 UTC. Secara astronomis, ijtimak merupakan titik konjungsi antara Matahari dan Bulan yang menjadi awal pergantian bulan kamariah.
Akan tetapi pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak tersebut, belum ada satu wilayah pun di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum pukul 24.00 UTC.
Selain itu, Parameter Kalender Global (PKG) 2 juga tidak terpenuhi. Setelah pukul 24.00 UTC, tidak ditemukan satu pun wilayah di daratan Amerika yang memenuhi syarat tinggi Bulan minimal 5 derajat, elongasi minimal 8 derajat, serta ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.
"Karena dua parameter di atas tidak terpenuhi, maka awal Zulhijah tidak dapat dimulai pada 17 Mei, melainkan ditetapkan pada Senin, 18 Mei 2026," lanjutnya.
Berdasarkan penetapan tersebut kemudian dihitung bahwa 10 Zulhijah atau Iduladha jatuh pada Rabu 27 Mei 2026. "Kepastian ini menjadi penting karena memberikan ruang persiapan yang lebih baik bagi umat Islam, baik dalam pelaksanaan ibadah kurban, penjadwalan kegiatan keagamaan, maupun penyelenggaraan aktivitas sosial keumatan," tegas PP Muhammadiyah.
Sidang Isbat
Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) baru akan menggelar Sidang Isbat pada Minggu 17 Mei 2026. Sidang Isbat ini menentukan awal Zulhijah 1447 H dan Iduladha 1447 H.
Rencananya, Sidang Isbat yang menjadi bagian dari mekanisme pemerintah dalam penentuan awal bulan Hijriah dilaksanakan di Auditorium HM Rasjidi, kantor Kementerian Agama, Jakarta.
“Sidang isbat merupakan forum musyawarah yang mempertemukan pemerintah, ormas Islam, serta para ahli falak dan astronomi dalam menetapkan awal bulan Hijriah,” ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad saat memimpin rapat persiapan Sidang Isbat di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Proses penetapan awal Zulhijah melalui Sidang Isbat ini dilakukan dengan mengintegrasikan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal). Abu Rokhmad menjelaskan, kedua pendekatan ini saling melengkapi dalam menghasilkan keputusan yang komprehensif.
Data hisab memberikan gambaran awal posisi hilal, sementara rukyat menjadi konfirmasi faktual melalui pengamatan langsung di berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.
“Pendekatan ini memastikan keputusan yang diambil tidak hanya berbasis data ilmiah, tetapi juga terkonfirmasi melalui pengamatan lapangan,” ujarnya.
Rangkaian sidang isbat diawali dengan seminar posisi hilal yang memaparkan data astronomi dari Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama. Seminar ini disiarkan secara terbuka sebagai bentuk transparansi informasi kepada publik. Setelah itu, panitia akan menerima laporan hasil rukyatul hilal dari berbagai lokasi pengamatan, mulai dari wilayah barat hingga timur Indonesia.
“Menteri Agama selanjutnya akan memimpin sidang dengan mendengarkan pertimbangan para peserta sebelum menetapkan awal Zulhijah secara resmi,” urainya.
Berdasarkan data awal yang dipaparkan dalam rapat persiapan, posisi hilal pada 29 Zulkaidah 1447 H secara hisab telah memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS. “Perhitungan menunjukkan tinggi hilal berada di atas 3 derajat dan elongasi di atas 6,4 derajat, sehingga secara teori telah memenuhi kriteria imkan rukyat,” ungkapnya.
Meski demikian, Abu menegaskan bahwa data tersebut masih bersifat prediktif dan belum menjadi dasar penetapan resmi. “Penetapan awal Zulhijah tetap menunggu hasil rukyat dan keputusan sidang isbat sebagai otoritas resmi pemerintah,” tandasnya.
Kapan 1 Zulhijah 1447 Hijriah? Cek Penjelasannya di Sini!
Dalam kalender Islam, Zulhijjah merupakan bulan terakhir dalam perhitungan hijriah. Lantas, kapan 1 Zulhijjah 1447 Hijriah atau tahun 2026 dimulai? Simak penjelasannya... | Halaman Lengkap [326] url asal
#keutamaan-bulan-zulhijjah #dzulhijjah #kalender-hijriyah #kalender-islam #sidang-isbat
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/05/26 05:15
v/218426/
Kapan 1 Zulhijjah 1447 Hijriah atau tahun 2026? Dalam kalender Islam, Zulhijjah merupakan bulan terakhir dalam perhitungan hijriah. Dan bulan Zulhijjah, salah satu bulan haram (mulia) sehingga umat muslim disunahkan untuk menunaikan berbagai macam amalan berpahala.Dikutip dari dalam buku berjudul Penanggalan Islam, Muh.Hadi Bashori, S.HI (2014:184) kalender Islamatau yang dikenal sebagai kalender Hijriah merupakan sistem penanggalan yang dihitung berdasarkan pada pergerakan dengan posisi revolusi mengelilingi bumi yang terkait dengan posisi matahari.
Pergerakan tersebut secara umum dikenal dengan pergerakan sinodis bulan dengan batas penampakan awal hilal sebagai permulaan hari dalam hitungan bulan. Salah satu bulan yang ada dalam kalender Hijriah adalah bulan Zulhijjah.
Lantas kapan bulan Zulhijjah pada tahun 2026 dimulai? Berdasarkan perhitungan Kalender oleh Muhammadiyah, 1 Zulhijjah 1447 H diperkirakan jatuh pada hari Senin, 18 Mei 2026.
Penanggalan tersebut dihitung melalui metode hisab astronomis yang mempertimbangkan posisi bulan secara global. Perhitungan ini bisa membantu penentuan tanggal 1 Zulhijjah 1447 hijriyah lebih awal tanpa harus menunggu hasil pengamatan hilal secara langsung.
Penetapan ini merupakan bagian dari sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sistem kalender Islam ini dirancang agar umat Islam di berbagai negara memiliki acuan waktu yang sama.
Awal bulan Hijriah tidak lagi berbeda-beda berdasarkan wilayah dengan pendekatan tersebut. Namun, mengikuti parameter astronomis global yang telah dihitung secara ilmiah.
Meski kalender sudah memberikan gambaran, pemerintah tetap akan menggelar sidang isbat pada tanggal 17 Mei 2026 untuk menetapkan secara resmi awal Zulhijjah. Sidang ini menggunakan metode rukyatul hilal (pengamatan hilal) untuk memastikan tanggal yang tepat berdasarkan posisi bulan di langit.
Iduladha versi Muhammadiyah
Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan tanggal 1 Zulhijjah 1447 H jatuh pada hari Senin, 88 Mei 2026. Penetapan ini berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang menggunakan perhitungan astronomi. Kesamaan tanggal ini memudahkan umat Islam di Indonesia dalam merayakan Idulaadha secara serentak.Berikut Tanggal Penting di Bulan Zulhijjah 2026
- 1 Zulhijjah: 18 Mei 2026
- 9 Zulhijjah (Hari Arafah): 26 Mei 2026
- 10 Zulhijjah (Iduladha): 27 Mei 2026
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56