Bisnis.com, JAKARTA — Nvidia dilaporkan menunda peluncuran kartu grafis baru bagi segmen gaming. Penundaan tersebut mencakup pembatalan lini produk "Super" untuk seri RTX 50 serta pengunduran jadwal produksi massal generasi penerus, seri RTX 60.
Pergeseran prioritas ini berakar pada krisis rantai pasokan global, khususnya pada komponen memori. Kapasitas DRAM yang tersedia di pasar saat ini diserap secara agresif oleh infrastruktur kecerdasan artifisial (AI), menyebabkan pasokan untuk pasar konsumen menjadi sangat terbatas.
Laporan tersebut menyoroti bahwa prioritas Nvidia kini bergeser drastis seiring dengan tingginya profitabilitas sektor AI.
Melansir dari Gizmodo, Senin (9/2/2026), meskipun Nvidia menyalahkan pasokan memori sebagai penyebab utama hambatan distribusi, perusahaan secara implisit mengalokasikan kapasitas produksi yang ada untuk chip pelatihan AI yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Keterbatasan kapasitas manufaktur di Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) turut memperburuk situasi. Dengan slot produksi yang terbatas, Nvidia memilih mengalokasikan sumber daya silikon untuk GPU AI dibandingkan kartu grafis gaming.
Laporan yang beredar akhir tahun lalu, yang kini dikonfirmasi oleh sumber industri, menyebutkan bahwa Nvidia berencana memangkas produksi GPU gaming hingga 40% pada 2026.
Sebelumnya, pelaku pasar menaruh harapan pada penyegaran lini produk "Super" untuk seri RTX 50, seperti RTX 5070 Ti atau RTX 5080 Super. Rumor pasar sempat menyebutkan varian RTX 5070 Super akan hadir dengan VRAM 18 GB dan RTX 5080 dengan 24 GB.
Namun, realitas ekonomi pasar memori membuat eksekusi rencana tersebut menjadi tidak layak. Meningkatkan kapasitas VRAM pada kartu grafis konsumen di tengah harga modul yang melambung dinilai tidak efisien dari sisi biaya produksi.
Kenaikan biaya komponen tersebut dikhawatirkan akan membuat harga jual produk menjadi tidak kompetitif di pasar ritel. Selain itu, seri RTX 50 yang ada saat ini dinilai sudah memiliki performa overclocking yang andal, sehingga varian "Super" dianggap tidak akan memberikan nilai tambah signifikan untuk mendorong volume penjualan.
Absennya pengumuman produk konsumen dari Nvidia pada ajang CES 2026 menjadi indikator kuat perubahan strategi tersebut. Siklus ini berbeda dengan pola sebelumnya, di mana Nvidia meluncurkan seri RTX 40 pada Oktober 2022 dan merilis versi Super pada Januari 2024.
Penundaan ini juga berdampak pada peta jalan jangka panjang perusahaan. Seri RTX 60, yang awalnya dijadwalkan memulai produksi massal pada akhir 2027, kini diperkirakan baru akan terealisasi paling cepat pada 2028.
Posisi Nvidia di segmen high-end yang belum tergoyahkan memberikan keleluasaan bagi perusahaan untuk menahan peluncuran produk baru. Hingga kini, pesaing utama mereka, AMD, belum memberikan tekanan signifikan terhadap model flagship Nvidia seperti GeForce RTX 5090.
AMD sendiri juga menghadapi tantangan serupa terkait kenaikan harga komponen dan masalah memori pada lini produk RX 9070 dan RX 9060 XT. Minimnya informasi mengenai generasi GPU AMD berikutnya, RDNA5 atau UDNA, mengindikasikan bahwa seluruh industri sedang mengalami tekanan rantai pasokan yang sama.
Analis memprediksi bahwa tahun 2026 dan sebagian besar 2027 akan menjadi periode yang menantang untuk mendapatkan pasokan DRAM dengan harga wajar. Tiga produsen utama DRAM seperti SK Hynix, Samsung, dan Micron, sedang berupaya mengoperasikan pabrik baru, namun output tersebut diprediksi akan tetap didominasi oleh permintaan pasar server AI.