Bisnis.com, JAKARTA – PT Pertamina Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN, telah meneken kontrak baru dengan INPEX Masela Ltd. untuk menyerap produksi LNG dan gas bumi dari proyek abadi LNG di Blok Masela.
Melansir keterbukaan informasi yang dirilis perseroan pada 21 Mei 2026, PGAS dan Masela PSC Contractor yang terdiri dari INPEX Masela Ltd., PT Pertamina Hulu Energi Masela, dan Petronas Masela Sdn. Bhd., telah menyepakati pokok-pokok perjanjian dan term sheet potensi penjualan (HOA & Term Sheet).
"Perseroan dan Masela PSC Contractor telah menyepakati HOA & Term Sheet sehubungan dengan potensi penjualan LNG dari proyek LNG Abadi, Blok Masela, kepada perseroan untuk periode pengiriman yang diperkirakan dimulai pada 2033 dengan jangka waktu 15 tahun," kata Corporate Secretary PT Pertamina Gas Negara Tbk., Fajriyah Usman, dikutip Kamis (21/5/2026).
Fajriyah mengatakan kontrak baru tersebut berpotensi menambah portofolio pasokan gas jangka panjang PGAS yang bersumber dari LNG.
Melansir laporan keuangan kuartal I/2026 yang tidak diaudit, segmen LNG trading dalam periode ini belum menyumbang kontribusi pendapatan. Berbeda dengan periode kuartal I/2025 saat LNG trading menyumbang US$57,95 juta atas total pendapatan yang diraup PGAS. Secara agregat, total pendapatan PGAS di triwulan I tahun ini turun menjadi US$929,56 juta dari triwulan I/2025 sebesar US$966,56 juta.
Dalam rilis terpisah, Direktur Utama PGAS Arief K. Risdianto menjelaskan bahwa dari kesepakatan tersebut akan ditindaklanjuti ke tahap perjanjian jual beli (sale and purchase agreement/SPA) yang mengikat untuk pasokan LNG dan gas bumi.
"Kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen nyata PGN dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber gas domestik untuk kebutuhan pelanggan, sekaligus sebagai bagian dari Pertamina Group dalam perannya memenuhi kebutuhan energi dan pondasi ketahanan energi nasional," ujarnya.
Adapun, kesepakatan strategis yang diperoleh PGAS ini ditandatangani dalam forum Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Rabu 20 Mei 2026.
Dalam forum tersebut, perseroan juga menandatangani sejumlah kesepakatan strategis pasokan gas bumi, baik melalui optimalisasi lapangan domestik maupun pengembangan pasokan LNG jangka panjang.
PGAS bersama pemasok gas bumi lainnya juga menandatangani amandemen Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) untuk perpanjangan kontrak pasokan gas bumi dari Wilayah Kerja (WK) Corridor untuk kebutuhan Bahan Bakar Gas (BBG) dan jaringan gas rumah tangga (Jargas), perubahan dan pernyataan kembali PJBG untuk perpanjangan kontrak pasokan gas bumi dari Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), serta key terms dengan Medco E&P Sakakemang untuk pembelian pasokan gas bumi dari Wilayah Kerja (WK) Sakakemang.
Kepastian bisnis jangka panjang perseroan membuat sahamnya jadi sasaran Lo Kheng Hong. Lo Kheng Hong tercatat masih memegang saham PGAS dengan kepemilikan jumbo. Bahkan, jumlah yang dikempit bertambah dibandingkan dengan periode sebelumnya. Dari data yang dikutip Selasa (19/5/2026), Lo Kheng Hong memegang 196,76 juta lembar saham PGAS per akhir April 2026. Jumlah itu bertambah dibandingkan dengan 181,78 juta pada pengujung Februari 2026.
Di lantai bursa, saham PGAS pada intraday pukul 11.49 WIB hari ini, Kamis (21/5/2026) menguat 1,39% ke Rp1.825. Level harga ini mencerminkan koreksi 4,45% secara year to date (YtD). Saat ini, kapitalisasi pasar PGAS mencapai Rp44,24 triliun dengan free float sebesar 43,03%.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.