#30 tag 24jam
Kisah Nabi Muhammad SAW Sujud Sangat Lama, Ternyata Ini Penyebabnya
Ada kisah Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam ketika memperlama sujudnya hingga hampir sama dengan lamanya beliau rukuk. Peristiwa apakah yang membuat... | Halaman Lengkap [332] url asal
#kisah-hikmah #sujud-syukur #sujud #gerakan-sujud #kisah-nabi-muhammad
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 01/07/26 19:35
v/265539/
Ada kisah Baginda Nabi MuhammadShallallahu alaihi wa sallam ketika memperlama sujudnya hingga hampir sama dengan lamanya beliau rukuk. Terkadang beliau sujud lama sekali karena suatu hal yang terjadi pada beliau, sebagaimana penuturan para sahabat.Peristiwa apakah yang membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan hal itu? Dikisahkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf, beliau melihat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berjalan ke arah tombaknya. Tak lama kemudian, beliau masuk ke dalam masjid, menghadap Kiblat, dan melakukan sujudyang amat lama.
Setelah usai, sahabat Nabi yang terkenal dengan kekayaan dan kedermawanannya ini berkata, “Wahai Rasulullah, engkau bersujud satu kali dengan sujud yang lama.” Tanya sang sahabat penuh keheranan, “Saking lamanya, sampai-sampai aku mengira bahwa Allah Ta’ala telah menyabut jiwamu.”
“Tadi,” jawab Nabi yang mulia akhlaknya ini, “Jibril mendatangiku.”
Rupanya, malaikat Jibril mengunjungi beliau untuk menyampaikan Firman Allah Ta’ala terkait hamba dan Rasul-Nya ini.
Allah Ta’ala berfirman sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan dikutip Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam ‘Uddatush Shabirin, “Barang siapa berselawat kepadamu (Muhammad), Aku akan berselawat kepadanya. Barang siapa mengucapkan salam kepadamu, Aku akan mengucapkan salam kepadanya.”
“Karena itulah,” pungkas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan, “aku langsung bersujud kepada Allah Ta’ala sebagai ungkapan syukur.”
Mahabenar Allah Ta’ala dengan segala firman-Nya. Terpujilah Nabi dan Rasul-Nya yang mulia. Dialah sosok kekasih nan terpilih. Dialah sosok yang saat dipuji, Allah Ta’ala akan langsung membalas siapa yang memujinya.
Bahkan dalam riwayat lain disebutkan, satu selawat akan berbalas sepuluh selawat dari Allah Ta’ala. Bukankah ini suatu tawaran pahala yang amat menggiurkan?
Pasalnya, memuji Nabi adalah kebutuhan dan keniscayaan bagi kita yang mencintainya. Namun, meski kita yang butuh, Allah Ta’ala akan langsung membalas shalawat yang kita sampaikan.
Maka membiasakan bershalawat adalah amal shaleh yang bernilai unggul di sisi-Nya. Tentu, bukan sekadar ucapan ritual. Melainkan ucapan yang dihayati dengan sepenuh hati, lalu berupaya sekuat tenaga untuk mengamalkan sunnah-sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.
Menag: Tahun Baru Islam 1 Muharram Momentum Transformasi Diri dan Sosial
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Islam 1 Muharram sebagai momentum untuk melakukan transformasi diri dan sosial.... | Halaman Lengkap [422] url asal
#menteri-agama-menag #tahun-baru-islam #muharram #nasaruddin-umar #kisah-nabi-muhammad
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 16/06/26 15:27
v/251369/
JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Islam 1 Muharram sebagai momentum untuk melakukan transformasi diri dan sosial. Sebab, hijrah tidak sekadar dimaknai sebagai perpindahan fisik Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga perubahan cara pandang dari mentalitas kabilah menuju kehidupan umat yang inklusif, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.Hal itu disampaikan Nasaruddin Umar saat memberikan sambutan pada peringatan Malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Masjid Istiqlal Jakarta yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam Kemenag) dalam rangkaian Peaceful Muharam, Senin, 15 Juni 2026.
"Hijrah bukan hanya perpindahan fisik Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah transformasi sistem kemasyarakatan, dari masyarakat kabilah yang sempit dan primordial menuju masyarakat umat yang global, kosmopolitan, serta diikat oleh kasih sayang dan visi bersama," ujarnya, dikutip Selasa (16/6/2026).
Nasaruddin menjelaskan, sebelum Islam hadir masyarakat Arab didominasi oleh sistem kabilah yang bertumpu pada hubungan darah dan kesukuan. Kehadiran Rasulullah kemudian memperkenalkan konsep umat, yaitu komunitas yang melampaui batas-batas suku, ras, dan golongan.
“Terdapat perbedaan mendasar antara berbagai bentuk komunitas sosial. Kabilah dibangun atas dasar hubungan darah, sya'abun berlandaskan ikatan keluarga besar, qawmun terbentuk melalui kesepakatan sosial dan organisasi, sedangkan hizbun merujuk pada kelompok atau partai politik,” katanya.
Lihat video: TAHUN BARU ISLAM 1448H: Warga Sambut Tahun Baru Islam dengan Semangat!
Umat merupakan komunitas yang dipersatukan oleh empat unsur sekaligus, yaitu kasih sayang, visi ke depan, kepemimpinan yang berwibawa, serta masyarakat yang santun dan taat dalam satu sistem kepemimpinan yang disebut imamah. "Kalau keempat unsur itu ada dalam satu komunitas, barulah layak disebut umat," tegasnya.
Nasaruddin juga mengajak umat Islam melakukan refleksi terhadap kondisi kehidupan sosial saat ini. "Pertanyaannya sekarang, apakah masyarakat Islam Indonesia sudah bisa disebut umat? Atau kita masih terjebak dalam mentalitas kabilah, hizbun, kedaerahan, dan kelompok sendiri-sendiri?" katanya.
Nasaruddin menilai salah satu ciri masyarakat yang masih bermentalitas kabilah adalah tertutupnya akses kepemimpinan bagi pihak di luar kelompok tertentu. Sebaliknya, dalam masyarakat umat, kesempatan memimpin terbuka bagi siapa saja yang memiliki kapasitas dan mendapat kepercayaan masyarakat, tanpa memandang latar belakang suku maupun jenis kelamin.
Meski demikian, Nasaruddin mengingatkan keterbukaan saja tidak cukup. Persatuan, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap sesama harus terus diperkuat agar masyarakat benar-benar tumbuh sebagai umat yang kokoh. Karena itu, Nasaruddin mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum untuk meninggalkan sikap eksklusif yang hanya mementingkan kelompok sendiri serta memperkuat semangat persaudaraan dan kebersamaan.
"Semoga komunitas Islam Indonesia sudah layak untuk kita sebut sebagai umat, komunitas sejati. Inilah hakikat hijrah yang sesungguhnya," ucapnya.
Kisah Baginda Nabi Muhammad SAW Ketika Bertemu Lailatul Qadar
Malam Lailatul Qadar memang sangat dirahasiakan Allah SWT. Namun, bagaimana sebenarnya Lailatul Qadar itu dan apa yang dirasakan ketika bertemu malam kemuliaan... | Halaman Lengkap [603] url asal
#kisah-rasulullah-saw #kisah-nabi-muhammad #rasulullah-bertemu-lailatul-qadar #malam-lailatul-qadar #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/03/26 16:55
v/160686/
Malam Lailatul Qadar memang sangat dirahasiakan Allah SWT. Namun, bagaimana sebenarnya Lailatul Qadar itu dan apa yang dirasakan ketika bertemu malam kemuliaan itu? Berikut ini kisah baginda Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam ketika bertemu Lailatul Qadar.Keinginan mendapatkan berkah Lailatul Qadar ini bukanlah sesuatu yang tidak beralasan. Apalagi fadhilahnya setara dengan ibadah 83 tahun 4 bulan (1000 bulan). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam sendiri menyeru umatnya menghidupkan malam-malam terakhir dari bulan Ramadan.
Dalam satu hadis yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: "Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya." (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165)
Malam yang istimewa itu masih merupakan tanda tanya, dan tidak diketahui secara pasti kapan datangnya. Namun dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Rasulullah SAW sedang duduk iktikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir bulan suci Ramadan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah. Ketika Rasulullah berdiri salat, para sahabat juga menunaikan salat.
Ketika beliau menegadahkan tangannya untuk berdoa, para sahabat pun serempak mengamininya. Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh-tubuh yang memenuhi masjid. Dalam riwayat tersebut malam itu adalah malam ke-27 dari bulan Ramadan. Di saat Rasulullah SAW dan para sahabat sujud, tiba-tiba hujan turun cukup deras.
Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan salatnya, ia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shaf, namun niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulullah SAW dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusuk tidak bergerak.
Air hujan pun semakin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di dalam masjid tersebut, akan tetapi Rasulullah SAW dan para sahabat tetap sujud dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak seolah-olah beliau sedang asyik masuk kedalam suatu alam yang melupakan segala-galanya.
Beliau sedang masuk ke dalam suatu alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi. Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kapalanya.
Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Rasulullah SAW baru mengangkat kepala dan mengakhiri salatnya ketika hujan berhenti.
Anas bin Malik, sahabat Rasulullah SAW bangun dari tempat duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulullah SAW. Namun beliau pun mencegahnya dan berkata: "Wahai Anas, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya."
Dalam riwayat lain diceritakan, Rasulullah SAW bertemu Lailatul Qadar pada malam ke-21 sebagaimana diterangkan dalam Kitab Al-Muwaththa' Hadis No 701 oleh Imam Malik.
Dari Abu Said Al-Khudri sesungguhnya dia berkata: "Rasulullah SAW beriktikaf pada puluhan yang kedua dari bulan Ramadhan. Pada suatu tahun setelah beliau sampai pada malam 21 yang seharusnya beliau keluar dari iktikaf pada pagi harinya, beliau berkata: "Barangsiapa turut beriktikaf bersamaku, hendaklah beriktikaf pada puluhan yang terakhir. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku Malam Al-Qadar. Kemudian aku dijadikan lupa. Aku bersujud pada paginya di air dan tanah. Karena itu carilah dia di sepuluh akhir, carilah dia di tiap-tiap malam yang ganjil.
Berkata Abu Sa'id: "Maka turunlah hujan pada malam itu, sedangkan masjid diatapi dengan daun kurma dan meneteslah air ke lantai. Kedua mataku melihat Rasulullah SAW kembali dari masjid, sedangkan pada dahinya nampak bekas air dan tanah, yaitu pada malam 21."
Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ini menunjukkan betapa banyak rahasia dan hikmah di balik malam seribu bulan. Semoga malam yang tersisa di bulan Ramadan ini kita manfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kisah Nabi Muhammad SAW Saat Menerima Wahyu Pertama, Surat Al-Alaq Ayat 1-5
Kisah Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama ini, penting diketahui umat Muslim. Peristiwa agung turunnya ayat Al Quran pertama kali yakni Surat Al-Alaq... | Halaman Lengkap [685] url asal
#turunnya-alquran #gua-hira #nuzulul-quran #wahyu-pertama-turun #kisah-nabi-muhammad
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/03/26 17:05
v/155061/
Kisah Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama ini, penting diketahui umat Muslim. Peristiwa agung turunnya ayat Al Quran pertama kali yakni Surat Al-Alaq ayat 1-5. Berikut ulasannya:Gua Hira di puncak Jabal Nur, Makkah, menjadi tempat bersejarah bagi umat Islam. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam (SAW) menerima wahyu pertama kali dari Allah SWT di gua tersebut melalui Malaikat Jibril alaihisslam (AS).
Turunnya wahyu pertama Al Quran menandai dimulainya periode kenabian (Nubuwwah). Saat wahyu pertama ini diturunkan, Nabi Muhammad SAW sedang berada di Gua Hira, tiba-tiba Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu tersebut. Adapun mengenai waktu atau tanggal tepatnya kejadian tersebut, terdapat perbedaan pendapat di antara ulama.
Sebagian menyakini peristiwa itu terjadi pada bulan Rabiul Awal pada tanggal 8 atau 18 (tanggal 18 berdasarkan riwayat Ibnu Umar). Sebagian lainnya pada bulan Rajab pada tanggal 17 atau 27 menurut riwayat Abu Hurairah. Dan lainnya adalah pada bulan Ramadan pada tanggal 17 (Al-Bara' bin Azib), tanggal 21 (Syekh Al-Mubarakfuriy) dan tanggal 24 (Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo').
Dalam shahih Al-Bukhari diceritakan, dari Aisyah (ummul mukminin), bahwa beliau berkata: “Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah SAW adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh.
Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau memilih Gua Hira dan bertahannuts yaitu ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali.
Kemudian Beliau menemui Khadijah RA mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datanglah Al-Haq saat Beliau di Gua Hira, Malaikat Jibril datang seraya berkata: “Iqra' (Bacalah)?” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”.
Dalam hadis itu, Nabi SAW menjelaskan: “Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”
Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”.
Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”.
Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”.
Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah).”
Nabi SAW kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat wahyu tadi dalam keadaan gelisah dan ketakutan. Beliau menemui istri tercintanya Khadijah binti Khawailidh seraya berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”.
Tanpa bertanya, Khadijah pun menyelimuti Rasulullah hingga hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah: “Aku mengkhawatirkan diriku”.
Maka Khadijah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim.”
Khadijah kemudian mengajak Nabi Muhammad untuk bertemu dengan Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, putera paman Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliyyah. Dia juga menulis kitab dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah.
Saat itu Waroqoh sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: “Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putera saudaramu ini”. Waroqoh berkata: “Wahai putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami”.
Maka Nabi Muhammad SAW menuturkan peristiwa yang dialaminya.
Waroqoh berkata: “Ini adalah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu”.
Nabi Muhammad SAW bertanya: “Apakah aku akan diusir mereka?”
Waroqoh menjawab: “Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa ini kecuali akan disakiti (dimusuhi). Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekemampuanku”.
Waroqoh tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu meninggal dunia pada masa fatroh (kekosongan) wahyu.
Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Jabir bin Abdullah Al Anshari bertutur tentang kekosongan wahyu, sebagaimana yang Rasulullah SAW ceritakan: “Ketika sedang berjalan aku mendengar suara dari langit, aku memandang ke arahnya dan ternyata Malaikat yang pernah datang kepadaku di Gua Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun ketakutan dan pulang, dan berkata: “Selimuti aku. Selimuti aku”.
Maka Allah Ta’ala menurunkan wahyu: (Wahai orang yang berselimut) sampai firman Allah (dan berhala-berhala tinggalkanlah). Sejak saat itulah wahyu terus turun berkesinambungan dan menandai dimulainya peradaban Islam.
Kumpulan Kisah Nabi SAW di Bulan Ramadan, Dari Terima Wahyu Al Quran hingga Perintah Segerakan Berbuka Puasa
Kumpulan kisah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam yang dialami Beliau di Bulan Ramadan menarik untuk disimak. Apa saja kisah Baginda Nabi SAW ini? Kumpulan... | Halaman Lengkap [2,247] url asal
#nabi-muhammad-saw #peristiwa-sejarah-di-bulan-ramadhan #kisah-nabi-muhammad #bulan-suci-ramadan #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 22/02/26 05:15
v/133102/
Kumpulan kisah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalamyang dialami Beliau di Bulan Ramadan menarik untuk disimak. Kisah-kisah tersebut tentu saja sangat bersejarah, baik peristiwa yang menakjubkan maupun upaya Beliau dalam memperjuangkan nasib umatnya.Dirangkum dari sejumlah referensi, berikut kisah-kisah Nabi Muhammad SAW yang terjadi di Bulan Ramadan:
1. Menerima Wahyu Al-Quran
Kisah pertama yakni ketika Nabi Muhammad SAWdalam menerima wahyu dari Allah SWT. Mengutip dari buku '49 Teladan dalam Al-Quran', dijelaskan bahwa sejarah turunnya Al-Quran kepada Rasulullah diperkirakan memakan waktu kurang lebih selama 23 tahun atau sekitar 22 bulan 22 bulan 2 hari.Disampaikan Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Rasulullah saat beliau sedang berkhalwat atau bermeditasi di Gua Hira yang ada di Bukit Jabal Nur. Peristiwa tersebut bertepatan pada tanggal 17 Ramadan malam hari yang disebut sebagai malam Lailatul Qadar. Pada saat itu Rasulullah berusia 40 tahun.
Surat dalam Al-Quran yang pertama kali diturunkan adalah Surat Al-Alaq ayat 1-5. Terkait diturunkannya Al-Quran di malam Lailatul Qadar telah disampaikan oleh Allah SWT melalui firman-Nya dalam Surat Al-Qadr ayat 1 dan Ad Dukhan ayat 2-3.
Adapun bunyi dari kedua ayat tersebut adalah sebagai berikut:
"Innâ anzalnâhu fî lailatil-qadr."
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatul Qadar" (Q.S. Al-Qadr: 1).
"Wal-kitâbil-mubîn. Innâ anzalnâhu fî lailatim mubârakatin innâ kunnâ mundzirîn."
Artinya: "Demi Kitab (Al-Qur'an) yang jelas. Sesungguhnya Kami (mulai menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatul Qadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan" (Q.S. Ad-Dukhan: 2-3).
2. Memenangkan Perang Badar
Perang Badar adalah perang antara umat Muslim dan kaum Quraisy, yang dikenal sebagai perang besar pertama dalam Sejarah Islam. Perang ini mengalami perpecahan pada 17 Ramadan di tahun kedua Hijriah.Merujuk pada Islamic Relief, penyebab adanya perang Badar disebabkan oleh perseteruan di antara keduanya. Kaum Quraisy seringkali menghalangi jalan penyebaran ajaran Islam. Mereka menyulitkan para Muslimin yang ingin berbagi ajaran Allah SWT, seperti yang diceritakan dalam Kitab As-Sirah an-Nabawiyah oleh Abdul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi.
Saat itu, perbandingan pasukan antara Muslim dan Quraisy berbanding jauh, di mana mereka berisikan kurang lebih 1.000 prajurit, dengan 100 ekor kuda. Sedangkan umat Muslim hanya terdiri dari sekumpulan 300 laki-laki dengan dua ekor kuda. Dengan perbandingan jumlah yang sangat signifikan, dapat dikatakan bahwa umat Muslim akan dengan mudahnya dikalahkan oleh suku Quraisy.
Dalam Ar-Rahiq al-Makhtum-Sirah Nabawiyah oleh Shafiyurrahma al-Mabarakfuri, perang ini mengambil waktu saat kafilah dagang Quraisy yang sedang perjalanan pulang dari Syam menuju Makkah, dihadang oleh pasukan Madinah. Kafilah dagang Quraisy tersebut membawa kekayaan penduduk Makkah, sebanyak 1.000 ekor unta membawa harta benda bernilai 5.000 dinar.
Oleh sebab itu, Nabi Muhammad SAW berkata pada para Muslim, “Ini adalah kafilah dagang Quraisy yang membawa harta benda mereka. Halangi ia, semoga Allah SWT memberikan barang rampasan itu pada kalian.”
Peperangan pun dimulai. Tak ada rasa takut tergambar di wajah Nabi Muhammad SAW selama ia dan pasukannya berjalan dari Madinah menuju medan peperangan. Dengan menyiapkan taktik serta siasat dari Nabi Muhammad SAW, pasukan Muslim sampai pada mata air Badar lebih dahulu dibandingkan kaum Quraisy. Hal ini sebagai upaya untuk mengamankan air beserta cadangannya di tengah lembah gurun Badar.
Orang yang pertama kali gugur adalah Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi, seorang kaum Quraisy yang kasar, yang berusaha merebut pasokan air dari para Muslim. Tetapi, gerakannya itu dihalangi oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Kemudian, ia menebas kaki Al-Aswad hingga terputus dan membuatnya tercebur dalam mata Air Badar, hingga berakhir meninggal dunia dihabisi oleh Hamzah.
Selanjutnya, perang semakin pecah dengan jatuhnya 3 penunggang kuda Quraisy yang juga komando pasukan. Hal itu membuat kaum Quraisy naik pitam dan semakin murka dalam penyerangan ke pasukan Muslim.
Sedangkan itu, Rasulullah SAW berdoa dan memohon bantuan pada Allah SWT, memohon akan kemenangan, hingga pada akhirnya dalam riwayat Muhammad bin Ishaw menyebutkan: “Rasulullah SAW bersabda, “Bergembiralah wahai Abu Bakar. Telah datang pertolongan Allah SWT kepadamu. Inilah Jibril yang datang sambil memegang tali kekang kuda yang ditungganginya di atas gulungan-gulungan debu.”
Dengan bantuan para malaikat, para Muslim pun berperang. Dalam riwayat Ibnu Sa’ad dari Ikrimah, dia berucap, “Pada saat itu ada kepala orang musyrik yang terkulai, yang tak diketahui siapa yang melakukannya. Ada juga tangan yang terputus, juga tanpa diketahui siapa yang melakukannya.”
Peperangan besar ini terjadi dalam dua jam, yang berakhir kemenangan pada pasukan Muslim. Mereka berhasil meruntuhkan pertahanan kaum Quraisy hingga mereka mundur dan menyerah. Setelah enam tahun berakhirnya Perang Badar, para Muslim berhasil menyebarkan ajaran Islam di Makkah dengan damai, tanpa adanya gangguan dari kaum Quraisy.
Perang besar Badar ini pun disebut dalam surah Ali Imran ayat 123-126
Wa laqad nashrakumullahu bibadriw wa antum adzillah, fattaqullaha la’allakum tasykurun
Artinya: “Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu (pada saat itu) adalah orang-orang lemah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur. (QS Ali Imran 3:123)
Perang Badar ini memiliki nilai penting dalam ajaran Islam. Ia menggambarkan bagaimana rasa tunduk dan berserah diri kepada Allah SWT dapat memberikan bantuan tiada tara kepada hambaNya.
3. Pembebasan Kota Makkah
Peristiwa yang dialami oleh Rasulullah selanjutnya yang bertepatan dengan bulan Ramadan adalah melakukan pembebasan Kota Makkah. Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam buku 'Makkah: Kota Suci Yang Dirindukan Umat' karya Rizem Aizid, bahwa peristiwa pembebasan Kota Makkah juga dikenal sebagai Fathu Makkah.Dijelaskan bahwa Fathu Makkah merupakan peristiwa yang terjadi pada 10 Ramadan tahun 8 Hijriah. Pada saat itu Rasulullah beserta puluhan ribu pasukannya bergerak dari Madinah menuju Makkah. Mereka menguasai kota tersebut sepenuhnya.
Pembebasan Kota Makkah terjadi tanpa pertumpahan darah. Setelah berhasil melakukannya, Rasulullah dan pasukannya membersihkan Ka'bah dari berbagai patung berhala. Diketahui bahwa patung-patung berhala sebelumnya diletakkan oleh kaum Quraisy di bagian dalam maupun sekitar Ka'bah.
Selesai pembebasan Makkah, Rasulullah meminta Billal bin Rabbah untuk mengumandangkan adzan dari atas Ka'bah. Momentum tersebut juga digunakan oleh umat Islam untuk melakukan sholat secara berjamaah untuk pertama kalinya di sana. Sebaliknya, penduduk Makkah berkumpul di depan Ka'bah dengan menyesali perbuatan buruk mereka kepada Rasulullah.
Rasulullah pun mengampuni dan sama sekali tidak menghukum mereka. Mengetahui hal tersebut, penduduk Makkah berbondong-bondong masuk Islam. Mereka juga bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.
Terkait peristiwa pembebasan Kota Makkah ini disebutkan dalam firman Allah SWT melalui Surat An-Nashr. Adapun bunyi dari surat tersebut adalah sebagai berikut:
"Idzâ jâ'a nashrullâhi wal-fat-ḫ. Wa ra'aitan-nâsa yadkhulûna fî dînillâhi afwâjâ. Fa sabbiḫ biḫamdi rabbika wastaghfir-h, innahû kâna tawwâbâ."
Artinya: "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat."
4.Kisah teladan tentang Puasa dari Abu Thalhah
Ada satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Abu Thalhah. Ia merupakan sosok yang sangat rajin menunaikan ibadah puasa. Melalui riwayat Anas bin Malik, diceritakan bahwa Abu Thalhah selalu berpuasa sepeninggalan Nabi Muhammad SAW selama 40 tahun.Dalam buku Ensiklopedia Sahabat Rasulullah yang ditulis oleh Wulan Mulya Pratiwi dkk, dijelaskan Abu Thalhah tidak menunaikan puasa hanya pada hari-hari yang diharamkan, seperti hari besar, atau saat ia sedang sakit. Selain rajin menunaikan puasa, Abu Thalha juga tak pernah meninggalkan salat malam dan selalu berjihad di jalan Allah.
Ia tak pernah lelah menegakkan ajaran Allah SWT dalam keseharian hidupnya, bahkan hingga sudah berusia lanjut yang renta. Anak-anaknya memperingatkan dengan menasihati Abu Thalhah perihal umurnya yang sudah renta, namun ia tetap bulat akan tekadnya untuk berjihad dan berlaut bersama pasukan pengembara Muslim lainnya.
Seorang anak dari Abu Thalhah berujar:
“Semoga Allah memberikanmu rahmat selalu, wahai ayah kami. Kau sekarang sudah amat tua. Sudah berjuang bersama Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Mengapa kau tidak rehat saja dan biarkan kami melanjutkan jihadmu?”
Segera Abu Thalhah menimpali melalui firman Allah SWT dalam QS At-Taubah ayat 41:
Infirụ khifāfaw wa ṡiqālaw wa jāhidụ bi`amwālikum wa anfusikum fī sabīlillāh, żālikum khairul lakum ing kuntum ta'lamụn
Artinya: "Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui,"
Sayangnya, Abu Thalhah wafat dalam perjalanan tersebut. Ia wafat dalam keadaan menjalani ibadah puasa.Di waktu itu, para pasukan Muslim tidak menemukan pulau untuk bersandar agar bisa mengebumikan jenazahnya.
Selama tujuh hari mereka mencari pulau, jenazah Abu Thalhah tetap utuh dan tidak berubah. Jasadnya terlihat seperti orang yang tertidur. Oleh karenanya, dipercayalah bahwa jasad utuhnya itu disebabkan amalan berpuasa yang rajin dilakukannya.
5. Turunnya Perintah Sahur
Kisah teladan Qais bin Shirmah yang merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW satu ini menceritakan bagaimana Allah SWT mengerti keadaan para hambaNya. Meskipun Qais harus bekerja keras sebagai tukang kebun di sebuah kebun kurma, ia selalu taat beribadah. Kisah Qais bin Shirmah yang terkenal adalah saat ia jatuh pingsan di tengah waktu bekerja, dikarenakan tak sempat makan dan minum saat sahur.Kisah inilah yang menjadi asal muasal turunnya firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah ayat 187, mengenai perintah sahur dalam menjalani ibadah puasa bulan Ramadan.
Dalam riwayat Abu Daud, pada saat zaman Rasulullah SAW, para umat Islam yang sudah menunaikan salat Isya, mereka tak diperkenankan untuk mengonsumsi makanan maupun minuman. Hadis riwayat tersebut menjelaskan bahwasanya pada waktu itu, puasa dimulai setelah Isya. Hal ini disebabkan, sehabis Isya ialah waktu orang-orang akan mulai masuk ke waktu tidurnya.
Pada awal-awal perintah berpuasa diwajibkan pada umat Islam, belum ada ketentuan yang mengatur dengan jelas mengenai batasan waktu diperbolehkannya untuk makan dan minum ketika berpuasa. Beberapa sahabat Nabi yang akan berpuasa, tertidur dan tak sempat melakukan sahur di dini hari.
Akibatnya, di esok hari, mereka berpuasa dalam keadaan perut kosong dari semalam. Salah satu sahabat Nabi yang bernama Qais bin Shirmah, mengalamai hal ini.
Qais bin Shirmah adalah seorang yang berasal dari kaum Anshar, yang bekerja sebagai tukang kebun kurma. Sifatnya yang taat akan ibadah, tak mengecualikannya dalam berpuasa meskipun memiliki pekerjaan yang cukup berat dan keras.
Walaupun berpuasa, ia tak sedikitpun mengurangi rasa giat dan semangat bekerjanya. Saat memasuki waktu berbuka puasa, ia pun kembali ke rumah dan bertanya pada istrinya tentang makanan berbuka. Akan tetapi, istrinya menjawab tidak ada sedikitpun makanan yang tersedia.
Ia berkata, “Maafkan aku suamiku. Hari ini kita tak ada makanan sedikitpun. Tunggu sebentar, akan ku carikan makanan untukmu.” Sang istri pun pergi keluar rumah, sedangkan Qais bin Shirmah yang kelelahan dari bekerja, jatuh terlelap dengan perut yang kosong.
Saat si Istri pulang membawa makanan, ia melihat suaminya yang tertidur dan enggan untuk membangunkannya. Sehingga di keesokan harinya, Qais tetap pergi bekerja walau tak sempat makan apapun sejak berpuasa kemarin. Akan tetapi, saat dirinya tengah bekerja, tiba-tiba ia jatuh dan pingsan.
Para sahabat Nabi yang lain mengetahui hal ini pun langsung mengabari Rasulullah, karenanya turunlah ayat 187 dari QS Al-Baqarah yang berbunyi:
Uhilla lakum lailatas-shiyaamir-rofasu ilaa nisaaa-ikum, hunna libaasul lakum wa angtum libaasul lahunn, ‘alimallohu annakum kungtum takhtaanuuna angfusakum fa taaba ‘alaikum wa’afaa ‘angkum, fal-aana baasyiruuhunna wabtaghuu maa kataballohu lakum, wa kuluu wasyrobuu hattaa yatabayyana lakumul-khoithul-abyadhu minal-khotil-aswadi minal-fajr, summa atimmush-shiyaama ilal-laiil, wa laa tubaasyiruuhunna wa angtum ‘aakifuuna fil-masaajid, tilka hududullohi yubayyinullohu aayaatihii lin-naasi la’allahum yattaquun
Artinya: “Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia agar mereka bertakwa.”
Dari kisah teladan sahabat Nabi Muhammad SAW satu ini, dapat kita ambil pelajarannya mengenai ketaatan seorang hamba Allah pada perintahNya.
6. Perintah Menyegerakan Berbuka Puasa
Sebagaimana anjuran Rasulullah SAW, saat kita menunaikan berpuasa, maka penting bagi kita mendahulukan berbuka puasa ketika adzan Maghrib berkumandang jelas. Akan tetapi, ternyata ada seseorang yang lebih suka menunda-nunda waktu berbuka. Hal yang sangat berbanding terbalik sekali dengan anjuran Nabi.Ada sebuah kisah di mana ada seorang laki-laki yang dikenal sebagai ahli puasa. Ia menunaikan banyak ibadah berpuasa, tetapi ia justru suka mengakhirkan waktu berbuka puasanya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menceritakan kisah ini dalam Al-Ruh dari Al-Qairuwani yang menerima berita dari seorang syeikh begitu memiliki banyak keutamaan. Syeikh itu menerima kabar dari seorang ahli fikih. Yang di mana, ia bercerita, kala itu, mereka pernah berteman dengan seorang lelaki yang sering berpuasa, bahkan terus menerus berpuasa tanpa ada hentinya. Sayangnya, ia terbiasa mengakhirkan waktu berbuka.
Tatkala tidur, orang itu melihat ada dua orang hitam yang seolah menarik lengan atasnya dan bajunya untuk dibawa ke perapian yang menyala merah dan melemparkan ke dalamnya.
Lelaki itu bertanya, “Mengapa kalian melakukan ini?”
Kedua orang hitam itu menjawab, “Karena engkau menyalahi sunnah Rasulullah SAW. Sesungguhnya ia memerintahkan untuk selalu mendahulukan waktu berbuka, tetapi engkau justru mengakhirinya.”
Kemudian, di pagi harinya, sebangunnya ia dari tidur, ia menyadari bahwa mimpi semalam benar terjadi. Wajah dari lelaki ahli puasa tersebut menjadi hitam sebab terbakar api. Sehingganya, ia menjadi malu dan menutupi wajahnya dari hadapan orang-orang sekeliling.
Oleh karena itu, nantinya di bulan Ramadan esok, sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW, segerakanlah untuk berbuka puasa jika sudah memasuki waktunya.
Museum Al Sirah, Destinasi Baru Wisata Religi di Madinah
Museum Al Sirah yang terletak di sisi belakang Masjid Quba, Madinah kini menjadi destinasi favorit Jemaah haji Indonesia. Museum yang baru diresmikan pada 2024... | Halaman Lengkap [281] url asal
#jamaah-umrah #travel-umrah #kisah-nabi-muhammad #kota-madinah #sejarah-madinah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 24/10/25 20:50
v/15105/
JAKARTA - Museum Al Sirah yang terletak di sisi belakang Masjid Quba, Madinah kini menjadi destinasi favorit jemaah umrah Indonesia. Museum yang baru diresmikan pada 2024 ini menjadi penanda penting sejarah Hijrah Nabi Muhammad SAW.Pengembangan destinasi wisata menjadi salah satu misi utama dalam program Visi Saudi 2030 yang menempatkan pariwisata di jantung strategi, serta pilar transformasi ekonomi Arab Saudi yang kini bertransisi ke sektor non minyak.
Direktur PT Hajar Aswad Mubaroq Retno Anugerah Andriyani mengatakan, Museum Al Sirah merupakan salah satu destinasi baru yang kini menjadi strategi lembaga Saudi Tourism Authority (STA) untuk menjadi magnet baru bagi jamaah Umrah. “Kami menggandeng Saudi Tourism Authority untuk menggelar tur di Museum Al Sirah,” katanya, Jumat (24/10/2025).
Menurut Retno Anugerah Andriyani, Museum Al Sirah menawarkan pengalaman berkesan melalui teknologi audio visual yang menggambarkan perjalanan Nabi Muhammad SAW saat hijrah dari Makkah ke Madinah pada abad ke-7 Masehi.
Di kompleks museum ini, jemaah juga bisa menikmati suasana Bustan Al Mustadal, kebun kurma bersejarah, serta Sumur Athq yang legendaris karena menjadi sumber air minum dan wudhu Nabi Muhammad SAW saat pertama tiba di Madinah. “Karena itu, kami menggelar Milad ke-13 di Museum Al Sirah yang bersejarah ini,” katanya.
Retno Anugerah Andriyani menyebut, kerja sama dengan Saudi Tourism Authority (STA) menjadi strategi untuk memberikan pengalaman yang lebih berkesan bagi para Jamaah Umrah. “Ke depan, Hajar Aswad Mubaroq akan kembali menggandeng Saudi Tourism Authority untuk agenda yang lain,” katanya.
Berdiri sejak 2012, Biro Umrah dan Haji Hajar Aswad Mubaroq yang berkantor pusat di Solo, kini memiliki kantor cabang yang tersebar di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, serta Pekanbaru, Riau. Setiap tahun, Hajar Aswad Mubaroq rata-rata memberangkatkan 5.000 jemaah umrah ke Tanah Suci.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56