Danantara Indonesia memfokuskan strategi Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) pada fase optimalisasi kapasitas dan penyehatan struktur modal sepanjang 2026. [320] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Danantara Indonesia membeberkan strategi penguatan terhadap maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) yang kini memasuki fase optimalisasi kapasitas secara terukur.
Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia Rohan Hafas menyampaikan bahwa transformasi yang dijalankan GIAA merupakan bagian dari proses konsolidasi jangka menengah.
Menurutnya, 2026 menjadi landasan penting bagi perseroan untuk memacu kinerja setelah fokus pada penyehatan struktur keuangan sepanjang tahun lalu.
“Tahun 2025 merupakan periode penguatan fundamental Garuda Indonesia, dan 2026 ini sebagai landasan optimalisasi,” ujar Rohan, Kamis (26/2/2026).
Sebagai pemegang saham mayoritas, dia menyatakan bahwa prioritas Danantara diarahkan pada peningkatan kesiapan armada secara bertahap serta penataan jaringan penerbangan berbasis prinsip kehati-hatian.
Adapun, program perawatan dan reaktivasi pesawat bakal dilakukan secara disiplin guna memastikan kualitas layanan sebelum melakukan ekspansi.
Rohan juga menyampaikan bahwa pendekatan yang diambil Danantara saat ini lebih mengedepankan kualitas dan keberlanjutan dibandingkan melakukan ekspansi agresif dalam jangka pendek.
Terkait aspek finansial, Danantara Indonesia telah melakukan penguatan struktur permodalan melalui skema korporasi guna memperkuat neraca dan meningkatkan fleksibilitas keuangan GIAA. Langkah ini bertujuan memberikan ruang stabilisasi bagi operasional maskapai berkode saham GIAA tersebut.
“Seluruh langkah ditempuh dalam kerangka tata kelola yang prudent dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ucap Rohan.
Dengan fondasi yang diklaim kian stabil, pengelolaan Garuda Indonesia pada tahun ini tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan volume, melainkan pencapaian laba yang sehat dan berkelanjutan.
Danantara pun berkomitmen untuk memastikan transformasi GIAA berjalan akuntabel demi menciptakan nilai jangka panjang bagi industri penerbangan nasional dan perekonomian Indonesia secara luas.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Garuda Indonesia mendapat tambahan modal Rp23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management untuk meningkatkan kapasitas operasional dan memperkuat keuangan. [530] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Maskapai nasional, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) memasuki fase baru pemulihan bisnis setelah RUPSLB menyetujui tambahan modal sebesar Rp23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management (DAM). Kini perusahaan fokus pada peningkatan kapasitas operasional.
Suntikan modal jumbo ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat struktur keuangan maskapai pascarestrukturisasi utang dan mendukung peningkatan kapasitas operasional di tengah pemulihan permintaan perjalanan udara.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan, menyatakan bahwa penanaman modal tersebut menjadi instrumen penting untuk menstabilkan kinerja arus kas dan mempercepat konsolidasi operasional, terutama pada Citilink yang menguasai pangsa besar pasar penerbangan domestik.
“Dengan permodalan yang lebih kuat, kami dapat memperkokoh keandalan operasional dan meningkatkan kesiapan armada untuk menghadirkan layanan penerbangan yang modern dan andal,” ujarnya dalam keterangan Kamis (13/11/2025).
Dari total investasi tersebut, Rp14,9 triliun atau 63% dialokasikan ke Citilink, termasuk penyelesaian kewajiban avtur kepada Pertamina untuk periode 2019—2021. Langkah ini membuat Citilink menjadi pusat strategi pembenahan ekosistem Garuda Group, mengingat permintaan pasar rute pendek–menengah terus tumbuh pascapandemi.
Sementara itu, Rp8,7 triliun dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja Garuda, meliputi pemeliharaan armada, peremajaan layanan, serta peningkatan reliabilitas operasional. Investasi ini sekaligus memastikan keberlanjutan pencatatan saham Garuda di BEI dan memperkuat posisi keuangan perusahaan dalam jangka menengah.
Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa nominal investasi ditetapkan berdasarkan kebutuhan riil Garuda dalam proses konsolidasi dan turnaround.
“Kita fokus pada proses konsolidasi dan turnaround agar Garuda benar-benar menjadi perusahaan yang sehat,” katanya.
Dana tersebut diproyeksikan menurunkan tekanan kebutuhan pembiayaan eksternal Garuda, memperbaiki rasio solvabilitas, dan memberikan ruang bagi perusahaan untuk menata ulang rute, menyelaraskan strategi armada, serta meningkatkan tingkat keterisian penumpang (load factor) pada rute-rute utama.
Pendanaan ini juga memberi dampak pada stabilitas layanan penerbangan nasional, mengingat Garuda–Citilink menguasai porsi signifikan konektivitas udara domestik, terutama rute penghubung wilayah timur Indonesia yang secara komersial menantang bagi maskapai swasta.
Manajemen melihat inisiatif ini sebagai bagian dari fase “pemantapan” setelah restrukturisasi utang global dan renegosiasi perjanjian leasing yang sempat menekan struktur biaya perusahaan. Dengan modal yang lebih solid, Garuda dapat menyelesaikan backlog pemeliharaan pesawat serta meningkatkan utilisasi armada.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan./Dok.Garuda Indonesia
Glenny bukan orang baru di dunia transportasi udara. Ia merupakan lulusan Penerbang Angkatan Darat (Penerbad) tahun 1973 dan lulusan Sekolah Pilot Curug tahun 1975–1976, pengalaman yang membentuk kedisiplinan dan ketajaman visinya dalam memimpin industri penerbangan nasional.
Dia juga menambahkan bahwa momentum pemulihan industri penerbangan — dengan kenaikan permintaan mencapai lebih dari 20% pada sejumlah rute domestik — membuat kebutuhan permodalan yang kuat semakin mendesak.
"Kami yakin keseimbangan antara pemulihan kinerja jangka pendek dan ketahanan bisnis jangka panjang adalah kunci menuju pertumbuhan berkelanjutan,” ujarnya.
Pendukung utama strategi ini adalah optimalisasi Citilink sebagai motor pertumbuhan. Dengan biaya operasional lebih efisien dan permintaan rute pendek yang tinggi, Citilink diyakini menjadi sumber kontribusi terbesar bagi pemulihan pendapatan Grup.
RUPSLB yang dihadiri pemegang saham mewakili 75,88% saham menandai pentingnya keputusan ini sebagai pengarah baru Garuda menuju fase pertumbuhan yang lebih kompetitif, baik di pasar domestik maupun regional.
Manajemen menegaskan bahwa kombinasi perbaikan struktur modal, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan operasional Citilink diharapkan dapat membawa Garuda Indonesia kembali mencatat kinerja yang sehat dan berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56