Bisnis.com, JAKARTA — PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) membukukan kinerja keuangan positif sepanjang 2025 dengan total pendapatan mencapai Rp1,41 triliun, tumbuh 17,42% dibandingkan Rp1,20 triliun pada tahun sebelumnya.
Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan usaha yang meningkat menjadi Rp885 miliar dari Rp747 miliar per akhir 2024. Sejalan dengan itu, laba bersih tahun berjalan KSEI tercatat sebesar Rp543,8 miliar, naik 10,46% secara tahunan.
Dari sisi neraca, total aset KSEI per 31 Desember 2025 mencapai Rp4,9 triliun, dengan total liabilitas dan ekuitas masing-masing sebesar Rp516 miliar dan Rp4,41 triliun.
Dari sisi operasional, KSEI mencatat pertumbuhan signifikan jumlah investor. Total Single Investor Identification (SID) meningkat sekitar 37% menjadi 20,32 juta per 29 Desember 2025, dari 14,87 juta pada 2024. Jumlah tersebut mencakup investor saham, surat utang, reksa dana, surat berharga negara (SBN), dan efek lainnya.
Secara rinci, investor saham dan efek lainnya mencapai 8,59 juta, naik 35% dari tahun sebelumnya. Investor reksa dana meningkat 37% menjadi 19,17 juta, sementara investor SBN bertambah 18% menjadi 1,41 juta.
Sepanjang 2025, pertumbuhan investor pasar modal mencapai 5,35 juta investor, hampir dua kali lipat dibandingkan penambahan pada 2024. Secara regional, Sumatera Selatan mencatat pertumbuhan SID tertinggi sebesar 50,71%, sementara pertumbuhan aset tertinggi terjadi di Sulawesi Barat yang melonjak 132,87%.
Dari sisi demografi, investor didominasi laki-laki sebesar 66,35%, dengan mayoritas berprofesi sebagai pegawai (66,20%). Berdasarkan usia, 52,59% investor berusia di bawah 30 tahun, sedangkan dari sisi penghasilan, 57,29% memiliki pendapatan Rp10 juta hingga Rp100 juta per bulan.
KSEI juga mencatat dominasi investor domestik yang mencapai 99,78% dari total investor, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 99,73%. Dari sisi aset, investor lokal menguasai 60,37% aset dalam sistem C-BEST.
Selain itu, total aset yang tercatat di KSEI meningkat 27% menjadi Rp10.438 triliun per 24 Desember 2025. Jumlah efek dalam sistem The Central Securities and Book-Entry Settlement System (C-BEST) juga naik 11% menjadi 3.627 efek, sejalan dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dari sisi industri reksa dana, asset under management (AUM) tercatat meningkat 23% menjadi Rp996 triliun. Jumlah produk investasi yang tercatat di KSEI juga bertambah menjadi 2.317 produk, atau naik 2% dibandingkan tahun sebelumnya.
Memasuki 2026, KSEI akan memfokuskan strategi pada penguatan infrastruktur dan sistem utama dengan menempatkan ketahanan siber sebagai prioritas. Sejumlah inisiatif yang akan dilakukan antara lain pembaruan sistem C-BEST, Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu (S-INVEST), serta Electronic General Meeting System (eASY.KSEI).
Selain itu, KSEI tengah menyiapkan kajian pengembangan infrastruktur International Central Securities Depository (ICSD) Linkage, serta pengembangan omnibus settlement sebagai penyesuaian terhadap praktik global pada central counterparty (CCP).
Dalam memperkuat posisi global, KSEI juga memperluas kerja sama internasional. Sepanjang 2025, KSEI menandatangani nota kesepahaman dengan National Settlement Depository (NSD) Rusia pada Mei 2025, serta Kazakhstan Central Securities Depository (KCSD) pada September 2025.
Dengan kinerja solid dan strategi pengembangan yang berkelanjutan, KSEI optimistis dapat terus memperkuat perannya sebagai kustodian sentral yang berdaya saing global serta mendukung pendalaman pasar modal Indonesia.