Bisnis.com, JAKARTA — Emiten sektor teknologi, PT Metrodata Electronics Tbk. (MTDL) membukukan peningkatan pendapatan dan laba bersih sepanjang 2025. MTDL membukukan pendapatan Rp 27,2 triliun pada 2025.
Berdasarkan laporan keuangannya, MTDL mencetak peningkatan pendapatan menjadi Rp27,2 triliun pada 2025. Pendapatan ini naik 8,06% dibandingkan dengan 2024 yang sebesar Rp25,14 triliun.
Pendapatan ini dikontribusi dari perangkat keras sebesar Rp19,49 triliun, perangkat lunak Rp6,54 triliun, dan jasa dan pemeliharaan senilai Rp2,02 triliun. Alhasil, MTDL meraih laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih sebesar Rp813,99 miliar atau tumbuh 10,0% dari tahun sebelumnya sebesar Rp739,8 miliar.
Presiden Direktur Metrodata Susanto Djaja menuturkan perolehan laba bersih konsolidasi ini mencerminkan ketahanan kinerja dan efektivitas strategi bisnis perseroan.
“Kemampuan perseroan dalam menjaga stabilitas penjualan PC dan notebook menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung kinerja di tengah melemahnya daya beli dan pengetatan belanja pemerintah, seiring dengan strategi diversifikasi produk serta penguatan layanan pada segmen solusi dan konsultasi yang turut mendorong pengembangan bisnis secara berkelanjutan,” ujar Susanto, Kamis (26/3/2026).
Dia menjelaskan dari berbagai jenis usaha yang digeluti MTDL, unit bisnis Distribusi tetap menjadi kontributor utama pendapatan. Penerapan strategi diversifikasi produk telah mengantarkan unit bisnis Distribusi meraih pertumbuhan penjualan hingga 9,0% dari tahun sebelumnya. Penjualan segmen Smartphone tumbuh signifikan sebesar 24,6% dan segmen komersial meningkat 7,2%.
Sementara itu, unit Solusi dan Konsultasi Digital terus menunjukkan peningkatan kualitas pertumbuhan. Penjualan unit ini meningkat 4,5% dengan perolehan laba bersih naik hingga 12,0%.
Meningkatnya permintaan pada layanan berbasis teknologi, khususnya Cloud, Hybrid infrastructure, Cybersecurity merupakan faktor utama pendukung pertumbuhan bisnis solusi milik perseroan.
Di sisi lain, model bisnis berbasis subscription (berlangganan) pada unit solusi dan konsultasi disebut sebagai kunci kemampuan perseroan menjaga stabilitas perolehan dari recurring income alias pendapatan berulang.
Sementara itu, seiring dengan berlanjutnya kebutuhan transformasi digital di berbagai sektor, perolehan order pada unit solusi dan konsultasi telah mulai menunjukkan tren pemulihan.
“Keberhasilan melalui tantangan kondisi makro pada 2025 ini membuat kami semakin optimis dalam upaya memperkuat posisi perseroan sebagai digital solution provider dan dalam upaya meraih target menjadi perusahaan TIK terbesar di Indonesia,” tutur Susanto.