Bisnis.com, JAKARTA β Sejumlah emiten berkapitalisasi pasar jumbo atau big capsmampu mengerek kinerjanya di sepanjang 2025. Beberapa di antaranya bahkan mencatat lonjakan laba hingga ratusan persen.
Analis menilai kinerja emiten big caps masih akan solid pada 2026 ini seiring dengan sejumlah rencana ekspansi.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, ada 24 emitendengan kapitalisasi pasar di atas Rp100 triliun dan 21 perusahaan telah menyampaikan laporan keuangan 2025. Sejauh ini, baru ada 11 big caps yang berhasil memacu pertumbuhan laba dan 1 perusahaan berbalik laba.
Adapun, emiten terafiliasi Prajogo Pangestu terpantau berada di urutan teratas yang mampu mengerek laba hingga ratusan persen. Bahkan, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berbalik laba pada 2025.
Berdasarkan laporan keuangan, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) menjadi jawara dengan laba yang melambung 766,98% yoy menjadi US$489,80 juta pada 2025.
Selanjutnya, PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) mengikuti dengan laba melesat 285,24% yoy menjadi US$121,05 juta.
Sementara itu, big caps legendaris di lantai bursa PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) membukukan laba bersih Rp9,22 triliun per Februari 2026, naik 2,81% secara tahunan (year on year/YoY).
Dari sisi intermediasi, bank milik Djarum Group itu mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp953,22 triliun, naik 5,84%. Pada 2026, BCA mencanangkan pertumbuhan kredit di kisaran 8%β10%, naik dari realisasi 7,7% pada 2025.
Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menjelaskan kinerja emiten big caps sepanjang 2025 menunjukkan tren yang kuat, terutama sektor perbankan dan komoditas.
Emiten perbankan tetap menjadi backbone IHSG dan kontributor utama kapitalisasi pasar, dengan kinerja yang relatif resilien.
βHal ini karena pertumbuhan kredit stabil dan Net Interest Margin (NIM) masih terjaga. Namun, mulai terlihat adanya moderasi pertumbuhan laba tekanan cost of fund dan kualitas aset,β ujarnya baru-baru ini.
Untuk sektor energi dan komoditas, kinerja emiten didukung oleh kenaikan harga yang relatif tinggi dan narasi hilirisasi, terutama di sektor nikel.
Pada 2026, laba emiten big caps ini masih berpotensi tumbuh, walaupun lebih selektif. Pendorong utama kinerja emiten adalah laju ekonomi domestik, suku bunga global, harga komoditas, hingga kebijakan pemerintah terkait hilirisasi dan infrastruktur.
Daftar Kinerja Laba Emiten Big Caps 2025
| No | Emiten | Laba/Rugi 2025 | Perubahan (%) |
| 1 | BRPT | US$489,80 juta | 766,98 |
| 2 | CDIA | US$121,05 juta | 285,24 |
| 3 | TPIA | US$1,09 miliar | Berbalik laba |
| 4 | BRMS | US$50,08 juta | 99 |
| 5 | PANI | Rp1,14 triliun | 83,89 |
| 6 | MORA | Rp448,49 miliar | 82,7 |
| 7 | DNET | Rp1,22 triliun | 17,12 |
| 8 | IMPC | Rp620,04 miliar | 14,95 |
| 9 | BREN | US$165 juta | 6,5 |
| 10 | BBCA | Rp57,56 triliun | 4,94 |
| 11 | BMRI | Rp56,29 triliun | 0,93 |
| 12 | ASII | Rp32,76 triliun | -3,34 |
| 13 | BBRI | Rp57,13 triliun | -5,26 |
| 14 | BBNI | Rp20,11 triliun | -7,19 |
| 15 | CUAN | US$134,56 juta | -16,3 |
| 16 | BYAN | US$767,91 juta | -16,77 |
| 17 | UNTR | Rp14,81 triliun | -24,17 |
| 18 | DSSA | US$230,53 juta | -25,41 |
| 19 | AMMN | US$248,97 | -60,91 |
| 20 | SRAJ | -Rp199 miliar | Rugi bertambah |
| 21 | EMAS | -US$27,49 juta | Rugi bertambah |
| 22 | TLKM | - | - |
| 23 | SMMA | - | - |
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.