Bisnis.com, JAKARTA — Perempuan disebut menjadi target utama ancaman siber deepfake dengan 99% konten pornografi dilakukan pelaku menggunakan teknologi kecerdasan buatan itu.
Konten ini berupa gambar atau video yang tampak sangat nyata, padahal sepenuhnya palsu dan dibuat dengan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kemajuan pesat teknologi AI membuat pembuatan deepfake menjadi semakin mudah, sementara upaya untuk mendeteksinya justru semakin sulit.
Para ahli menilai kondisi ini berbahaya karena banyak perempuan menjadi korban tanpa pernah mengetahui bahwa wajah atau tubuh mereka telah dimanipulasi dan disalahgunakan.
Spesialis keamanan siber menyebutkan deepfake kini bukan lagi sekadar penyalahgunaan teknologi, tetapi telah berkembang menjadi bentuk kekerasan berbasis gender di dunia digital. Dampaknya bisa sangat merugikan korban, baik secara psikologis, sosial, maupun profesional.
Pada Januari lalu Grok AI chatbot buatan perusahaan Elon Musk yang terintegrasi dengan platform media sosial X menjadi sorotan publik. Laporan menyebutkan bahwa chatbot tersebut menghasilkan gambar-gambar seksual eksplisit yang menampilkan perempuan dan anak-anak.
Akibatnya, platform tersebut kini sedang diselidiki untuk memastikan apakah langkah pencegahan yang dilakukan sudah cukup dan sesuai dengan hukum.
Pakar keamanan siber Alex Nette, memperingatkan bahwa situasi ini kemungkinan akan memburuk sebelum benar-benar membaik. Nette menekankan pentingnya sikap waspada saat melihat gambar atau video yang viral di internet. Jika konten yang ditampilkan terlihat janggal, itu memang bukan konten asli.
“Cari tahu sendiri. Ada banyak situs pengecek fakta untuk video AI viral di internet” ujar Nette, Mengutip dari 12 On Your Side Selasa (3/2/2026).
Para ahli juga mengingatkan agar siapapun yang merasa menjadi sasaran deepfake segera bertindak dan tidak mengabaikan tanda-tanda mencurigakan.
Langkah awal perlindungan digital, menurut Nette adalah lebih berhati-hati terhadap apa yang dibagikan secara publik di internet. Meski begitu, membatasi kehadiran daring bukanlah hal yang mudah, terutama bagi figur publik seperti selebriti atau jurnalis.
Ancaman deepfake paling banyak ditemukan di media sosial.
Dalam kasus seperti ini, Nette menegaskan pentingnya segera melaporkan akun palsu atau aktivitas mencurigakan langsung ke platform terkait, meskipun proses pelaporannya sering kali terasa rumit.
Nette juga menyarankan untuk mencari kontak resmi perusahaan melalui kebijakan privasi di situs web platform tersebut, karena di sanalah biasanya tersedia email atau jalur komunikasi yang memungkinkan pengguna berinteraksi langsung dengan pihak pengelola.
Selain itu, membuat laporan polisi tetap disarankan meskipun hasilnya tidak langsung terlihat. Laporan tersebut dapat menjadi bukti penting jika di kemudian hari korban membutuhkan perlindungan hukum atau mengajukan klaim asuransi.
Semakin cepat korban merespons, semakin besar peluang untuk membatasi dampak kerugian dan menghapus konten deepfake sebelum menyebar lebih luas. (Nur Amalina)