Bisnis.com, JAKARTA— SpaceX kehilangan kontak dengan salah satu satelit Starlink satellite bernomor 34343 setelah mengalami anomali saat berada di orbit pada 29 Maret 2026. Klaim bahwa satelit orbit rendah tersebut aman menuai sorotan.
Dalam pernyataan resminya di platform X, perusahaan menyebutkan gangguan terjadi ketika satelit berada pada ketinggian sekitar 560 kilometer di atas Bumi.
Insiden tersebut menyebabkan komunikasi dengan satelit terputus, dan satelit diduga telah terpecah menjadi beberapa bagian.
“Analisis terbaru menunjukkan peristiwa ini tidak menimbulkan risiko baru bagi International Space Station, awaknya, maupun peluncuran misi NASA yang akan datang [Artemis II],”tulis Starlink di X, Kamis (29/4/2026).
Selain itu, insiden ini juga tidak berdampak pada misi Transporter-16 yang membawa satelit kecil milik sejumlah klien. SpaceX menegaskan akan terus memantau serpihan yang dapat dilacak di orbit, yang mengindikasikan satelit tersebut tidak lagi utuh.
Melansir Engadget, perusahaan pelacak objek luar angkasa LeoLabs melaporkan adanya peristiwa pembentukan fragmen yang melibatkan satelit tersebut pada tanggal yang sama.
LeoLabs menyebut insiden ini memiliki kemiripan dengan kejadian serupa pada Desember 2025. Namun, berbeda dengan kasus sebelumnya yang dipicu faktor eksternal seperti badai geomagnetik, dua insiden terbaru ini diduga berasal dari sumber internal.
Berdasarkan pengamatan radar, LeoLabs menilai peristiwa tersebut kemungkinan disebabkan oleh sumber energi internal, bukan akibat tabrakan dengan puing luar angkasa atau objek lain.
Hingga saat ini, SpaceX masih melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti anomali tersebut. Perusahaan menyatakan akan segera mengambil langkah korektif setelah akar masalah berhasil diidentifikasi.
Insiden ini kembali menyoroti meningkatnya risiko di orbit rendah Bumi seiring bertambahnya jumlah satelit.
Saat ini, jumlah satelit Starlink yang mengorbit diperkirakan telah mencapai sekitar 10.000 unit.
Astrofisikawan Jonathan McDowell menilai klaim nihil risiko dari SpaceX perlu dikaji lebih lanjut. Menurutnya, risiko memang tergolong rendah karena sebagian besar puing diperkirakan akan segera masuk kembali ke atmosfer dan terbakar. Namun, ia menekankan pentingnya transparansi terkait dasar penilaian tersebut.
Dia juga mengingatkan, apabila insiden ini disebabkan oleh cacat desain, maka potensi risiko dapat meningkat signifikan karena dapat berdampak pada ratusan satelit lain dalam konstelasi Starlink.
“Harapannya, SpaceX dapat mengidentifikasi akar penyebabnya dan secara proaktif menghentikan operasional atau menarik kelompok satelit tertentu yang terbukti berisiko,” ujarnya, dikutip dari Scientific American.