Bisnis.com, JAKARTA — Ancaman mogok massal pekerja di Samsung Electronics dinilai berpotensi memicu kenaikan harga gadget global, termasuk di Indonesia, akibat terganggunya pasokan chip memori dan chip AI dari Korea Selatan.
Analis Pasar Smartphone Indonesia Aryo Meidianto Aji mengatakan, dampak gangguan tersebut memang tidak akan terasa secara instan, tetapi berisiko mengerek biaya produksi perangkat elektronik jika berlangsung berkepanjangan.
“Dampaknya sangat besar, tapi tidak instan. Samsung adalah pemain kunci di chip memori DRAM dan NAND serta memproduksi chip untuk AI. Jika mogok benar-benar berlangsung 18 hari, yang pertama terganggu adalah pasokan chip memori kelas server dan HBM [High Bandwidth Memory] untuk AI,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (18/5/2026).
Menurut Aryo, gangguan awal akan lebih terasa pada industri pusat data dan server AI global yang sangat bergantung pada pasokan HBM. Sementara itu, dampak terhadap smartphone dan laptop diperkirakan belum langsung terlihat dalam satu hingga dua bulan pertama lantaran produsen perangkat umumnya memiliki stok pengaman komponen.
Kendati demikian, apabila aksi mogok berlangsung lebih lama, pasokan DRAM dan NAND global diperkirakan akan semakin mengetat sehingga memicu lonjakan harga komponen dan keterlambatan produksi berbagai perangkat elektronik premium.
“Jika berlarut-larut, pengiriman chip DRAM dan NAND bisa melonjak, menyebabkan keterlambatan produksi perangkat flagship di banyak merek,” katanya.
Aryo menjelaskan proyeksi industri memperkirakan gangguan produksi Samsung dapat memangkas sekitar 3%—4% pasokan DRAM global dan 2%—3% pasokan NAND dunia. Meski secara persentase terlihat kecil, penurunan tersebut dinilai signifikan dalam skala industri semikonduktor global.
“Dalam skala volume global, persentase tersebut bernilai miliaran dolar dan setara dengan jutaan unit perangkat,” sebutnya.
Dia menambahkan, kondisi tersebut sulit segera ditutupi produsen lain seperti SK Hynix maupun Micron Technology karena industri memori membutuhkan kapasitas produksi dan investasi yang besar.
Akibatnya, tekanan harga komponen dinilai sangat mungkin terjadi, terutama di tengah lonjakan permintaan chip untuk kebutuhan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). “Sangat mungkin terjadi. Ketika pasokan komponen inti terhambat namun permintaan terus meroket, terutama didorong tren AI, harga komponen akan melonjak,” kata Aryo.
Menurut dia, kenaikan biaya produksi pada akhirnya berpotensi diteruskan ke harga jual perangkat elektronik di tingkat ritel, termasuk di pasar Indonesia, meskipun dampaknya diperkirakan belum terlalu signifikan dalam satu hingga tiga bulan ke depan.
Aryo menilai, perangkat yang paling rentan terdampak adalah server AI, pusat data, smartphone flagship, dan laptop spesifikasi tinggi karena sangat bergantung pada memori berkapasitas besar dan berkecepatan tinggi.
Dia juga menyoroti tingginya ketergantungan industri gadget global terhadap pasokan chip dari Korea Selatan. Saat ini, Korea Selatan melalui Samsung dan SK Hynix menguasai lebih dari 60% pasar DRAM global, sedangkan hampir 90% pasokan HBM untuk AI berasal dari negara tersebut.
“Kondisi ini menunjukkan industri global masih over-dependence terhadap Korea Selatan,” imbuhnya.
Situasi ini, lanjutnya, menjadi pelajaran penting bagi industri teknologi untuk mulai memperluas diversifikasi rantai pasok ke negara lain seperti Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, dan China. Sementara itu, dia mengingatkan distributor dan ritel elektronik di Indonesia mulai mengantisipasi potensi gangguan pasokan tanpa memicu kepanikan pasar.
“Sekarang saat yang krusial untuk memperpanjang proyeksi pemesanan dan mengamankan inventaris sebelum efek kelangkaan global benar-benar terasa,” katanya.
Di sisi lain, Aryo menilai gangguan rantai pasok juga berpotensi menjadi momentum bagi merek lain untuk memperbesar pangsa pasar apabila ketersediaan produk pesaing terganggu akibat krisis komponen.
“Dalam setiap krisis rantai pasok selalu ada ruang untuk rekalibrasi pangsa pasar. Konsumen akan mencari alternatif yang lebih stabil,” sebutnya.