Bisnis.com, JAKARTA — PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel mengoperasikan lebih dari 40.000 menara telekomunikasi pada 2025. Selain itu, jumlah penyewa menara perusahaan juga bertambah, yang menandakan aset menara yang dibangun memiliki daya tarik bagi operator seluler.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian 2025, dikutip Minggu (5/4/2026) Mitratel secara resmi mengoperasikan sebanyak 40.357 menara di seluruh Indonesia.
Pencapaian ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 5,9% dibandingkan dengan posisi akhir 2024 yang berjumlah 38.014 menara. Ekspansi agresif melalui pembangunan organik menjadi kunci utama di balik penambahan jumlah menara tersebut.
Sejalan dengan penambahan aset, efisiensi penggunaan menara juga menunjukkan performa impresif. Rasio penyewa (tenancy ratio) Mitratel melesat menjadi 1,57x pada akhir 2025, meningkat dibandingkan periode tahun sebelumnya yang sekitar 1,51x.
Kenaikan rasio ini didorong oleh pertumbuhan jumlah penyewa (tenants) yang mencapai 61.343 entitas, atau tumbuh 7,4% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Rasio penyewa merupakan indikator untuk mengukur seberapa berharganya aset menara yang dikelola pemain menara. Makin tinggi rasio penyewa, maka makin baik, karena menandakan menara yang dibangun diminati oleh operator seluler seperti Telkomsel, Indosat, dan XLSMART.
Telkomsel mendominasi
Adapun Telkomsel masih menjadi penyumbang utama bagi pendapatan Mitratel. Telkomsel berkontribusi sebesar Rp5,44 triliun atau sekitar 57,2% dari total pendapatan perusahaan. Porsinya turun tipis dari 2024 yang sebesar 57,8%.
Hal ini menandakan bahwa Mitratel masih bertumpu pada dukungan Telkom Group dalam mengejar pertumbuhan arus utama mereka yaitu sewa menara.
Sementara itu Indosat berkontribusi sebesar Rp1,99 triliun atau 21% dari total pendapatan. XLSMART berkontribusi sebesar Rp1,14 triliun atau 12% dari total pendapatan 2025. Sisanya, pendapatan disumbang oleh bisnis lainnya seperti layanan IT hingga serat optik.
Fiber Optik
Di luar bisnis menara konvensional, Mitratel mulai memetik hasil dari strategi transformasi menuju perusahaan infrastruktur digital (Digital InfraCo). Fokus pengembangan kini beralih pada penguatan lini bisnis fiber optik untuk mendukung kebutuhan operator seluler dalam penggelaran jaringan 5G dan transmisi data berkecepatan tinggi.
Pendapatan dari segmen jasa jaringan, yang mencakup penyewaan fiber optik, mulai memberikan kontribusi yang kian signifikan terhadap total pendapatan grup.
Pengembangan fiber optik ini dinilai krusial karena infrastruktur menara yang terhubung dengan jaringan fiber (fiberized towers) memiliki nilai strategis lebih tinggi dan masa kontrak yang lebih stabil di mata operator telekomunikasi.
Hingga akhir 2025, Mitratel terus memperluas jangkauan jaringan fiber optiknya, terutama di wilayah luar Pulau Jawa. Langkah ini diambil untuk menangkap peluang pertumbuhan trafik data yang masih sangat besar di wilayah tersebut, sekaligus meningkatkan daya tarik aset menara bagi para penyewa.
Stabilitas operasional tersebut bermuara pada laporan laba rugi yang positif. Mitratel mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp9,51 triliun pada 2025, tumbuh 11,7% dibandingkan perolehan tahun lalu yang sebesar Rp8,51 triliun. Sektor sewa menara masih menjadi kontributor pendapatan terbesar dengan porsi mencapai 93,6%.
Kenaikan pendapatan tersebut turut mengerek laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp2,14 triliun. Realisasi ini naik 6,8% dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp2,01 triliun.
Fundamental yang kuat ini memberikan ruang bagi Mitratel untuk terus melanjutkan agenda investasi di masa mendatang. Dengan posisi kas yang tetap terjaga dan manajemen beban yang efisien, perseroan optimis dapat menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan ekonomi global dan dinamika industri telekomunikasi dalam negeri.