Bisnis.com, JAKARTA — PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) melanjutkan aksi menghimpun pendanaan setelah merampungkan rights issue dengan menerbitkan surat utang senilai total Rp1 triliun. Pendanaan tersebut terdiri atas obligasi dan sukuk ijarah yang masing-masing bernilai Rp500 miliar.
Dalam prospektus yang diterbitkan perusahaan, INET akan menerbitkan Obligasi I Sinergi Inti Tahun 2026 dengan nilai pokok Rp500 miliar. Obligasi tersebut terbagi ke dalam dua seri, yakni seri A dengan jangka waktu 370 hari dan seri B dengan tenor 3 tahun.
"Bunga obligasi dibayarkan setiap 3 bulan sejak tanggal emisi. Pembayaran bunga obligasi pertama akan dilakukan pada 6 mei 2026," dikutip dari prospektus, Kamis (22/1/2026).
Secara bersamaan, INET juga menerbitkan Sukuk Ijarah I sebesar Rp500 miliar dengan periode dan pembagian seri yang sama dengan obligasi. "Pembayaran cicilan imbalan ijarah pertama akan dilakukan pada tanggal 6 Mei 2026," tulis perusahaan dalam pengumumannya.
Obligasi tersebut memperoleh peringkat single A, sementara sukuk ijarah mendapatkan peringkat Single A Syariah. PT KB Valbury Sekuritas dan PT RHB Sekuritas Indonesia bertindak sebagai penjamin emisi sekaligus pelaksana penerbitan surat utang. Adapun wali amanat ditunjuk PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP).
Masa penawaran awal obligasi dan sukuk INET berlangsung pada 22–27 Januari 2026, dengan tanggal efektif pada 29 Januari 2026. Selanjutnya, masa penawaran umum dijadwalkan pada 30 Januari–3 Februari 2026, sementara pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) direncanakan pada 9 Februari 2026.
Manajemen INET menyampaikan bahwa seluruh dana hasil penerbitan surat utang sebesar Rp1 triliun akan disalurkan kepada entitas anak PT Garuda Prima Internetindo (GPI) untuk pembangunan jaringan Fiber to The Home (FTTH) berbasis teknologi Wi-Fi 7 di Kalimantan Barat.
Right Issue Berakhir
Sementara itu, perdagangan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue INET berakhir pada Kamis (22/1/2026). Dalam rights issue tersebut, perseroan menerbitkan sebanyak 12.781.341.609 HMETD disertai 2.300.641.490 waran seri II.
Berdasarkan prospektus, rasio HMETD ditetapkan sebesar 3:4, yang berarti setiap pemegang tiga saham lama berhak memperoleh empat HMETD untuk membeli saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham.
Pemegang saham pengendali, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara, menyatakan akan melaksanakan seluruh HMETD yang menjadi haknya. Per 15 September 2025, entitas tersebut tercatat memiliki 5,36 juta saham atau setara 60,62% dari modal ditempatkan dan disetor INET. Dengan kepemilikan tersebut, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara memperoleh 7.147.609.600 HMETD yang akan dikonversi menjadi saham baru dengan nilai transaksi mencapai Rp1,78 triliun.
Apabila tidak seluruh saham baru hasil rights issue diserap oleh pemegang HMETD, sisa saham akan dialokasikan kepada pemegang HMETD yang melakukan pemesanan tambahan. Namun, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara bertindak sebagai pembeli siaga apabila masih terdapat sisa saham porsi publik setelah proses tersebut.
INET berencana menggunakan sekitar Rp2,8 triliun dana hasil rights issue untuk pengembangan jaringan FTTH berkecepatan tinggi berbasis teknologi Wi-Fi 7 melalui entitas anak PT Garuda Prima Internetindo (GPI) di wilayah Bali dan Lombok dengan target layanan hingga 2 juta pelanggan.
Selain itu, dana sekitar Rp215,38 miliar akan disalurkan kepada PT Pusat Fiber Indonesia (PFI) untuk melunasi biaya Indefeasible Right of Use (IRU) jaringan kabel bawah laut kepada PT JMP. Sisa dana akan digunakan sebagai modal kerja perseroan dan entitas anak.
Manajemen menyebutkan, pemegang saham lama yang tidak melaksanakan haknya dalam rights issue berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga maksimum 57,14%.
--
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual surat utang ini. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.