Bisnis.com, JAKARTA — Emiten properti PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) berencana menerbitkan obligasi senilai Rp500 miliar yang merupakan bagian dari penerbitan obligasi berkelanjutan V dengan target Rp3 triliun.
Berdasarkan prospektusnya, Senin (15/12/2025), obligasi ini terdiri atas dua seri. Seri A memiliki tenor 3 tahun dan B mencapai 5 tahun. Namun, SMRA belum menetapkan tingkat bunga yang nantinya membalut surat utang tersebut.
Manajemen menuturkan bahwa bunga obligasi akan dibayarkan setiap kuartal dengan pembayaran bunga pertama dilakukan pada 6 April 2026.
“Pembayaran bunga obligasi terakhir sekaligus jatuh tempo obligasi masing-masing seri obligasi adalah pada 6 Januari 2029 untuk Seri A dan 6 Januari 2031 untuk obligasi Seri B,” tulis manajemen Summarecon.
Dana hasil penawaran umum obligasi akan digunakan SMRA untuk beberapa hal. Pertama, sekitar 65% dana untuk meningkatkan penyertaan modal di PT Summarecon Property Development (SMPD) selaku entitas anak.
Peningkatan modal bertujuan mendukung rencana pembelian lahan oleh SMPD melalui PT Duta Wahana Asri guna memacu pengembangan proyek properti.
Sementara itu, sekitar 29% dari dana obligasi akan digunakan untuk meningkatkan penyertaan modal pada PT Serpong Cipta Kreasi (SPCK). Seluruh peningkatan modal tersebut diperkirakan berlangsung pada Januari 2026.
Adapun sisa dana akan digunakan SMRA untuk modal kerja terkait kegiatan operasional, antara lain biaya pemasaran, pembangunan dan pengembangan hunian di Summarecon Kelapa Gading dan Summarecon Bekasi.
Dalam aksi korporasi ini, SMRA menunjuk dua sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi, yakni PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT Indo Premier Sekuritas. Di sisi lain, Bank BRI akan bertindak sebagai wali amanat.
“Obligasi Berkelanjutan V Summarecon Agung periode 10 September 2025 hingga 1 September 2026 memiliki peringkat idA+ [single A plus].”
Secara kinerja, berdasarkan laporan keuangan akhir September 2025, SMRA membukukan pendapatan bersih sebesar Rp6,41 triliun. Jumlah ini turun 14,87% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yakni Rp7,53 triliun.
Sementara itu, beban pokok perseroan mengalami penurunan 11,80% year on year (YoY) menjadi Rp3,12 triliun. Hal ini membuat SMRA mencatatkan laba kotor sebesar Rp3,28 triliun atau melemah 17,60% secara tahunan.
Setelah memperhitungkan pendapatan dan beban lainnya, SMRA membukukan laba bersih sebesar Rp549,57 miliar atau turun 41,39% YoY. Akibatnya, laba per saham juga terkontraksi dari Rp56,80 menjadi Rp33,29 per saham.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan bahwa kinerja SMRA pada kuartal III/2025 memperlihatkan anomali akuntansi karena meski laba bersih dan pendapatan susut, fundamental operasional tetap solid.
Menurutnya, disparitas tersebut disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, penerapan PSAK 72 menunda pengakuan pendapatan dari penjualan properti hingga serah terima unit. Kedua, laba bersih tergerus oleh beban non-operasional berupa biaya keuangan yang membengkak mencapai Rp878,5 miliar.
Kendati demikian, prospek SMRA hingga 2026 diperkirakan membaik lewat fenomena catch-up laba dan didorong konversi unbilled revenue atau backlog Rp3,8 triliun yang diakui sebagai pendapatan properti saat unit serah terima.
“Sementara itu, sentimen negatif utama adalah risiko biaya keuangan yang tinggi akibat suku bunga persisten, yang dapat terus menekan laba bersih meskipun pendapatan melonjak,” ucapnya kepada Bisnis, Minggu (30/11/2025).
Berikut jadwal penerbitan obligasi Summarecon (SMRA)
- - Masa penawaran awal: 15-17 Desember 2025
- - Tanggal efektif: 23 Desember 2025
- - Masa penawaran umum: 29-30 Desember 2025
- - Tanggal penjatahan: 2 Januari 2026
- - Tanggal distribusi secara elektronik: 6 Januari 2026
- - Tanggal pengembalian uang pemesanan: 6 Januari 2026
- - Tanggal pencatatan di BEI: 7 Januari 2026
________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.