Kami tidak ingin korban terus bertambah. Faces of Fraud adalah cara kami berkata bahwa kita semua punya peran dalam memutus rantai ini,
Jakarta (ANTARA) - PT Indonesia Digital Identity (VIDA), perusahaan layanan identitas digital dan fraud prevention (pencegahan penipuan), menghadirkan pameran bertajuk “Faces of Fraud” untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran publik terhadap berbagai modus penipuan yang semakin canggih.
Founder dan Group CEO VIDA Niki Luhur menuturkan, melalui inisiatif tersebut, lima korban penipuan digital membagikan cerita mereka dengan harapan agar pengalaman yang dialami tidak terulang lagi pada lebih banyak masyarakat.
“Melalui gerakan ini, kami ingin membuka mata publik bahwa dampak penipuan digital tidak hanya meninggalkan kerugian finansial, tetapi juga luka emosional, hilangnya rasa aman, dan dampak yang membekas dalam kehidupan sehari-hari,” kata Niki Luhur dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis.
Ia menyatakan, pameran tersebut menampilkan kisah dari berbagai latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga hingga pekerja profesional, yang menjadi bukti bahwa siapa pun bisa menjadi sasaran penipuan digital.
Salah satu korban merupakan seorang pensiunan yang kehilangan seluruh tabungan akibat modus pengalihan dana ke aset kripto dalam waktu singkat.
Adapula korban yang dimanfaatkan data pribadinya untuk pinjaman online ilegal tanpa persetujuan, sehingga menderita beban psikologis yang berkepanjangan.
Sementara korban lainnya mengalami penipuan dalam bentuk manipulasi emosi sehingga kehilangan dana pengobatan anaknya akibat terjebak dalam modus donasi palsu.
Niki mengatakan, whitepaper yang dirilis pihaknya bertajuk “SEA Digital Identity Fraud Outlook” mengungkapkan bahwa modus penipuan modern kini berkembang semakin terorganisasi dengan menggabungkan berbagai metode serangan dalam satu rangkaian yang terencana.
Ia menekankan bahwa selama kesadaran publik masih rendah dan ekosistem belum bergerak secara kolektif, maka jumlah korban akan terus bertambah.
Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi nyata antara pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat untuk memperkuat regulasi, mengadopsi sistem perlindungan digital berlapis, serta mengutamakan sikap kritis pada setiap interaksi digital.
"Kami tidak ingin korban terus bertambah. Faces of Fraud adalah cara kami berkata bahwa kita semua punya peran dalam memutus rantai ini," imbuh Niki.
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026