Bisnis.com, JAKARTA — Prospek penerbitan Panda Bond dan Kangaroo Bond dinilai semakin menarik di tengah upaya pemerintah Indonesia mendiversifikasi sumber pembiayaan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Salvian Fernando menilai Panda Bond memiliki daya tarik tersendiri karena memberikan akses langsung ke pasar obligasi China yang sangat besar. Selain itu, tren internasionalisasi yuan dalam perdagangan global maupun regional turut memperkuat prospek instrumen tersebut.
Di sisi lain, Kangaroo Bond juga dinilai berpotensi menjadi alternatif pembiayaan yang menarik karena menyasar investor Australia yang relatif stabil dan berorientasi jangka panjang.
“Di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed dan volatilitas US Dollar, diversifikasi penerbitan ke mata uang lain memang menjadi langkah strategis untuk memperluas basis investor sekaligus meningkatkan fleksibilitas pembiayaan pemerintah,”ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Dari sisi penyerapan pasar, Salvian menilai potensi permintaan terhadap Panda Bond relatif besar mengingat likuiditas pasar obligasi China sangat dalam dan hubungan ekonomi Indonesia–China cukup kuat, meskipun investor tetap akan mencermati stabilitas fiskal, nilai tukar, dan prospek ekonomi Indonesia.
Sementara itu, kendati pasar Kangaroo Bond memang lebih kecil, tetapi memiliki basis investor institusional yang cukup solid, terutama dari pension fund dan asset manager Australia yang mencari instrumen sovereign emerging market berperingkat investment grade.
Efektivitas strategi ini akan sangat bergantung pada kondisi pasar global, tingkat yield yang ditawarkan, serta persepsi investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa dominasi global bond berdenominasi dolar AS masih sulit tergantikan dalam jangka pendek lantaran pasar dolar AS tetap menjadi pasar dengan likuiditas terbesar dan basis investor paling luas di dunia.
“Langkah ini cukup efektif sebagai strategi pelengkap pembiayaan pemerintah, terutama untuk memperluas sumber pendanaan dan mengurangi concentration risk terhadap US Dollar,” jelasnya.
Efektivitas strategi ini akan sangat bergantung pada kondisi pasar global, tingkat yield yang ditawarkan, serta persepsi investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia
Selain Panda Bond dan Kangaroo Bond, Salvian menyebut pemerintah juga memiliki sejumlah alternatif instrumen global bond lain untuk mendukung strategi dedolarisasi, seperti Samurai Bond berdenominasi yen Jepang, Eurobond berbasis euro, hingga Dim Sum Bond yang diterbitkan di pasar offshore yuan seperti Hong Kong.
Beberapa bond tersebut memang sudah pernah juga diterbitkan oleh pemerintah Indonesia,
Adapun dari sisi dampak terhadap pengelolaan utang negara, Salvian menilai manfaat utama strategi diversifikasi obligasi global bukan semata menurunkan total utang pemerintah, melainkan meningkatkan fleksibilitas pengelolaan portofolio utang serta mengurangi risiko volatilitas kurs dolar AS terhadap pembayaran kewajiban utang pemerintah.
“Dampaknya kemungkinan akan bersifat gradual dan lebih terasa dalam jangka menengah hingga panjang,” terangnya.