Bisnis.com, JAKARTA — Prospek pasar reksa dana diperkirakan masih prospektif pada 2026 setelah masih mampu membukukan pertumbuhan yang signifikan pada tahun ini.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat dana kelolaan atauasset under management(AUM) reksa dana pada November 2025 mencapai Rp656,96 triliun. Realisasi tersebut mencerminkan kenaikan 5,67% dibandingkan bulan sebelumnya senilai Rp621,67 triliun pada Oktober 2025.
Akumulasi AUM itu pun bertumbuh 31,14% sejak awal tahun 2025 (year-to-date)dari posisi Rp500,90 triliun.
Bila diperinci, dana kelolaan tetap didominasi oleh reksa dana pendapatan yakni sebesar 35,63%. Reksa dana pasar uang menyusul dengan kontribusi 21,13%, dan selanjutnya reksa dana terproteksi 19,35%.
Sisanya, reksa dana saham berkontribusi sebesar 11,56%, campuran senilai 4,40%, reksa dana ETF sebesar 2,40%, dan reksa dana berbasis sukuk sebesar 1,42%.
Head of Investment Specialist Manulife Asset Management Indonesia (MAMI) Freddy Tedja memandang positif prospek pasar reksa dana pada tahun mendatang. Target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 5,4% pada 2026 diharapkan mampu mendorong daya tarik investor terhadap produk reksa dana.
“Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi membaik di 2026, didukung kebijakan propertumbuhan pemerintah dan Bank Indonesia yang sudah diimplementasikan sejak akhir 2024,” katanya kepadaBisnis, dikutip Jumat (26/12/2025).
Di tengah tren penurunan suku bunga acuan dan suku bunga deposito perbankan, Manulife menilai peluang realokasi aset ke instrumen investasi dengan imbal hasil yang tinggi niscaya terjadi pada tahun mendatang. Adapun MAMI memprediksi suku bunga acuan masih berpeluang dipangkas hingga 50 bps pada tahun mendatang.
Meskipun tidak seagresif 2025 saat Bank Indonesia memangkas suku bunga hingga 125 bps, MAMI memprediksi bahwa kebijakan suku bunga di kawasan Asia masih akan bertahan di level yang rendah seiring dengan ekspektasi moderasi inflasi dan moderasi aktivitas ekonomi.
“Atas dasar ini, investor sebaiknya melakukan evaluasi ulang portofolio investasi dan alokasi asetnya. Mulai mempertimbangkan alokasi yang lebih terdiversifikasi pada income asset dengan imbal hasil kompetitif, serta eksposur pada growth asset yang dapat menangkap potensi pemulihan ekonomi,” katanya.
Hanya saja, pasar reksa dana tidak bebas risiko pada tahun mendatang. Freddy menilai, situasi ekonomi domestik hingga kepercayaan investor masih akan menjadi risiko utama bagi pasar ini.
“Kedua faktor ini saling terhubung satu sama lain. Situasi ekonomi ditopang oleh akselerasi belanja negara. Keleluasaan ruang fiskal akan memulihkan keyakinan investor domestik hingga investor asing,” katanya.
Oleh karena itu, peran belanja negara pada 2026 menjadi suatu hal yang krusial bagi pemulihan ekonomi ke depannya, sebab realisasi yang lambat dinilai dapat menunda siklus pertumbuhan ekonomi di tahun mendatang. Sementara itu, keleluasaan belanja negara dinilai akan sangat bergantung pada penerimaan negara nantinya.
“Jika hal-hal tersebut bisa dipulihkan, maka keyakinan investor akan mulai tumbuh, di mana ketidakpastian iklim investasi domestik mulai berkurang dan kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi investasi asing di sektor riil,” tegasnya.