Bisnis.com, JAKARTA – Organisasi pangan internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), World Food Programme (WFP), mengumumkan salah satu sistem buatannya mengalami kebocoran data siber skala besar.
Insiden keamanan ini berdampak langsung pada kebocoran informasi sensitif milik sekitar 600.000 rumah tangga di Jalur Gaza, Palestina, yang selama ini mengandalkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup di tengah kecamuk konflik fisik.
Dilansir dari Register, Minggu (7/6/2026) pengumuman WFP yang dirilis melalui saluran Telegram resminya pada 31 Mei mengungkapkan insiden tersebut terjadi pada platform Self-Registration Application (SRA).
Ini merupakan aplikasi mandiri khusus bagi warga Gaza untuk mendaftarkan diri sebagai penerima bantuan kemanusiaan. Data sensitif yang berhasil diakses secara ilegal oleh peretas mencakup nama lengkap pemohon, nomor identitas resmi (ID), nomor telepon aktif, hingga informasi lokasi tempat tinggal mereka.
Merespons pelanggaran privasi massal ini, manajemen WFP segera menyampaikan komitmen dan permohonan maaf kepada publik guna meredam kepanikan para korban.
“Kami memahami situasi ini dapat menimbulkan kekhawatiran, dan kami ingin meyakinkan Anda perlindungan data serta privasi Anda adalah prioritas utama kami. Program ini menangani situasi tersebut dengan tingkat keseriusan dan prioritas paling tinggi,” tulis pernyataan resmi WFP.
Sebagai langkah mitigasi darurat, organisasi bantuan kesejahteraan terbesar di dunia tersebut memutuskan menghentikan sementara operasional platform registrasi mandiri itu. Langkah ini diambil demi mempercepat implementasi perbaikan sistem keamanan siber yang sangat mendesak.
Dalam pembaruan informasi terkini pada 2 Juni, WFP menyatakan platform SRA masih dinonaktifkan untuk proses sterilisasi. Kendati demikian, organisasi memastikan para penerima manfaat tidak perlu melakukan tindakan apa pun secara mandiri, dan distribusi bantuan dipastikan tetap berjalan lancar tanpa interupsi.
“WFP ingin meyakinkan semua pihak yang terdaftar melalui tautan tersebut, bantuan makanan, bantuan tunai, suplemen nutrisi, dan semua program WFP lainnya terus berjalan seperti biasa,” sebut manajemen dalam rilis resminya.
Pihak WFP juga mengimbau bagi yang sudah terdaftar di Self-Registration Application (SRA), pendaftaran tetap valid. Tidak perlu memperbarui, menghapus, atau mendaftarkan ulang informasi.
Berdasarkan laporan pertama dari media investigasi kemanusiaan The New Humanitarian, serangan siber ini sebenarnya telah terdeteksi sejak 14 Mei.
WFP kemudian memverifikasi skala peretasan memang mencapai kisaran 600.000 rumah tangga. Fakta mengejutkan lain diungkap oleh seorang pembocor rahasia (whistleblower) kepada media tersebut.
Seorang pakar independen anonim dikabarkan sempat menghubungi tim WFP di Palestina untuk memperingatkan adanya celah kerentanan fatal pada aplikasi SRA, tepat dua hari sebelum organisasi mendeteksi adanya pembobolan nyata.
Di sisi lain, insiden kebocoran data ini menempatkan masyarakat Gaza dalam posisi yang semakin rentan. WFP tercatat menyokong kehidupan 1,6 miliar warga Palestina setiap bulannya yang tengah menghadapi krisis malnutrisi akut akibat konflik bersenjata dengan Israel.
Angka penerima bantuan ini merepresentasikan sekitar 77 persen dari total populasi wilayah tersebut, di mana 80 persen penduduknya berstatus pengangguran dan kehilangan kemampuan finansial untuk membeli makanan bergizi secara mandiri.
Selama ini, WFP menyalurkan tepung gandum, biskuit berenergi tinggi, dan makanan ringan berfortifikasi tinggi kepada keluarga, dapur umum komunitas, serta toko roti guna menekan potensi kelaparan massal, di samping memfasilitasi transfer uang tunai.