Bisnis.com, JAKARTA— Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan antena mikrostrip yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan antena seluler untuk teknologi jaringan generasi keenam (6G) di industri telekomunikasi.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi BRIN Yohanes Galih Adhiyoga mengatakan salah satu tantangan dalam penelitian antena 6G adalah dukungan infrastruktur untuk pembuatan prototipe antena.
“Dan belum termanfaatkannya prototipe yang dihasilkan periset oleh karena belum terjalin kerjasama yang kuat dengan pihak industri,” kata Yohanes kepadaBisnispada Kamis (12/3/2025).
Yohanes menambahkan estimasi pendanaan riset pengembangan 6G belum dapat dipastikan. Pasalnya, riset yang dilakukan saat ini baru mencakup sebagian kecil dari keseluruhan teknologi 6G, yakni pada komponen antena.
Dia menjelaskan teknologi 6G memiliki banyak komponen pendukung sehingga kebutuhan pendanaannya belum dapat dihitung secara menyeluruh. Meski demikian, dukungan riset tetap tersedia, salah satunya melalui berbagai skema pendanaan penelitian yang saat ini banyak ditawarkan.
Lebih lanjut, Yohanes mengatakan para periset yang menekuni bidang ini berupaya mengikuti tren teknologi yang diperkirakan berkembang di masa depan.
Dari sisi roadmap penelitian, saat ini riset 6G yang dilakukan masih berfokus pada pengembangan sistem antena. Dia juga meluruskan sebenarnya bukan antena single layer yang menjadi prioritas utama, melainkan saat ini jenis tersebut yang telah berhasil dibuat prototipenya dan telah melalui pengujian parameter antena.
Sebelumnya diberitakan, BRIN mulai memacu pengembangan infrastruktur perangkat keras untuk menyambut era jaringan komunikasi nirkabel 6G.
Riset tersebut berfokus pada perancangan antena mikrostrip berdimensi ekstra kecil serta pemanfaatan satelit orbit rendah. Persiapan teknologi secara mandiri ini dinilai penting agar Indonesia siap menghadapi komersialisasi jaringan 6G yang diproyeksikan hadir pada 2030.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi BRIN Yohanes Galih Adhiyoga mengatakan perancangan antena single layer dan multilayer sangat dibutuhkan mengingat keterbatasan ruang pada perangkat masa depan. Desain tersebut harus diperhitungkan secara matang karena satu telepon seluler akan memuat berbagai macam antena sekaligus.
“Kita tidak mungkin memiliki antena yang dimensinya melebihi ukuran telepon seluler itu sendiri. Oleh karena itu, antena harus dirancang sekecil mungkin agar dapat ditempatkan di dalam perangkat,” kata Yohanes dikutip dari siaran resmi, Sabtu (7/3/2026).
Selain untuk perangkat seluler, tim periset juga mengadopsi konsep teknologi satelit orbit rendah melalui pengembangan sistem phased array untuk komunikasi satelit. Sistem ini memungkinkan arah pancaran sinyal bergerak mengikuti lintasan satelit secara elektronik tanpa memerlukan pergerakan komponen mekanis.
Seluruh proses fabrikasi dan pengujian komponen dilakukan di laboratorium BRIN menggunakan perangkat yang mampu mengukur frekuensi hingga 110 gigahertz. Inisiatif riset domestik ini merupakan respons terhadap dinamika kompetisi global yang semakin cepat menuju era 6G.
Berbeda dengan jaringan generasi kelima (5G) yang menggunakan spektrum millimeter-wave, jaringan 6G diperkirakan akan beroperasi pada pita frekuensi sub-terahertz hingga terahertz. Lompatan frekuensi ini mendorong pelaku industri global mengembangkan material canggih jenis metakomposit untuk menghasilkan transmisi sinyal dan bandwidth yang optimal.
Secara teknis, jaringan 6G ditargetkan mencapai tingkat latensi mikrodetik, atau sekitar seribu kali lebih cepat dibandingkan batas latensi 5G. Berdasarkan proyeksi para pakar industri, kecepatan transfer data 6G berpotensi menembus hingga satu terabit per detik dalam kondisi ideal.
Kemampuan transmisi tersebut membuka peluang bagi berbagai layanan baru bernilai tinggi, seperti video holografik hingga sistem kontrol jarak jauh industri secara presisi dan real-time.
Dari sisi operasional dan ekonomi, era 6G juga diperkirakan akan mengubah orientasi bisnis operator telekomunikasi global. Arsitektur jaringan 6G ke depan diproyeksikan lebih memprioritaskan kebutuhan korporasi dan kawasan industri dengan fokus pada peningkatan keandalan jaringan, otomatisasi tingkat tinggi, serta integrasi dengan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dan edge computing.
Model layanan yang menggabungkan fungsi komunikasi dengan komputasi tersebut diyakini memiliki nilai komersial yang lebih kuat. Saat ini teknologi 6G masih berada pada tahap penelitian dan belum memiliki standar global yang mengikat. Meski demikian, persaingan ekonomi dan geopolitik antarnegara sudah semakin intens, tercermin dari besarnya investasi untuk mengamankan paten serta mendominasi pasar teknologi masa depan.