Bisnis.com, JAKARTA – PT BUMA Internasional Grup Tbk. (DOID) membukukan peningkatan rugi bersih sepanjang kuartal III/2025 menjadi US$72,66 juta atau setara Rp1,21 triliun (kurs jisdor Rp16.692 per dolar AS).
Melansir laporan keuangan perseroan, DOID hanya mampu membukukan pendapatan senilai US$1,13 miliar pada periode Januari–September 2025. Torehan tersebut mencerminkan pendapatan yang susut 16,20% year-on-year (YoY) dari posisi US$1,34 miliar pada periode yang sama 2024.
Susutnya pendapatan DOID sejalan dengan lemahnya kinerja sejumlah segmen usaha perseroan. Pada segmen penambangan batu bara dan jasa pertambangan, DOID membukukan pendapatan yang susut 16,20% YoY menjadi US$1,13 miliar pada periode Januari–September 2025.
Pada segmen lain-lain, DOID turut membukukan pendapatan yang susut 11,47% YoY menjadi US$2,99 juta. Hanya segmen investasi yang tumbuh 0,85% YoY menjadi US$3,69 juta.
Sejalan dengan susutnya pendapatan perseroan, DOID turut membukukan beban pokok pendapatan yang mengecil menjadi US$1,10 miliar per September 2025, dari posisi US$1,21 miliar pada periode yang sama 2024.
Susutnya beban pokok pendapatan perseroan disebabkan oleh pengendalian biaya DOID pada jasa perbaikan dan pemeliharan senilai US$254,20 juta atau beban karyawan yang ditekan menjadi US$262,48 juta.
Meskipun mampu menekan beban pokok pendapatan, DOID tidak kuasa menahan laba bruto yang terkoreksi hingga 79,19% YoY menjadi US$27,22 juta per September 2025, dari posisi US$130,87 juta.
Belum lagi, laba bruto perseroan mesti dikurangi oleh beban usaha yang membengkak menjadi US$84,09 juta per September 2025. Membengkaknya beban usaha DOID disebabkan oleh naiknya biaya kantor dan kompensasi karyawan.
Selain itu, beban lain-lain turut membengkak menjadi US$19,98 juta per September 2025, dari posisi US$8,53 juta pada periode yang sama 2024. Bengkaknya beban lain-lain disebabkan oleh beban administrasi bank dan penyisihan atas penurunan nilai piutang usaha perseroan.
Alhasil, setelah dikurangi berbagai beban dan pajak, DOID belum mampu membukukan laba bersih pada periode ini. Justru, rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk membengkak menjadi US$72,66 juta atau setara Rp1,21 triliun, dari posisi US$13,96 juta pada periode Januari–September 2024.
Rugi bersih yang membengkak, turut memperbesar rugi per saham menjadi US$0,00982 per lembar pada September 2025, dari posisi US$0,00184 per lembar pada periode yang sama 2024.
Dari sisi neraca, DOID membukukan total aset senilai US$1,53 miliar per September 2025, susut dari posisi US$1,58 miliar pada periode yang berakhir Desember 2024.
Sementara itu, total liabilitas DOID turut naik ke level US$1,43 miliar per September 2025, dari posisi US$1,39 miliar pada Desember 2024. Ekuitas DOID mengecil menjadi US$96,16 juta per September 2025.
Direktur Buma Internasional Iwan Fuad Salim menerangkan bahwa kinerja perseroan pada kuartal III/2025 sebetulnya telah menunjukkan pemulihan dari bisnis perseroan. Hal itu tampak dari jam kerja efektif yang lebih tinggi hingga pengendalian biaya yang lebih ketat.
“Memasuki akhir tahun, fokus kami tetap pada mempertahankan capaian perbaikan ini, menjaga margin, dan memperkuat keunggulan operasional di seluruh bisnis,” katanya dalam keterangan resmi, Jumat (28/11/2025).
Produksi Batu Bara
Manajemen DOID dalam pernyataan resminya, menyebut bahwa kinerja lesu selama sembilan bulan 2025 terjadi lantaran cuaca ekstrem dan gangguan operasional yang terjadi pada kuartal I/2025.
“Termasuk insiden keselamatan yang melibatkan kontraktor eksternal yang menyebabkan penghentian operasi selama 27 hari di dua site utama. Kinerja sepanjang tahun juga dipengaruhi oleh ramp-downs di beberapa site di Indonesia dan berakhirnya sejumlah kontrak di Australia,” katanya dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (29/11/2025).
Sepanjang periode Januari–September 2025, DOID juga mencatat produksi batu bara yang turun 8% YoY menjadi 60 metric ton (MT). Namun, manajemen mengaku harga jual rata-rata batu bara masih stabil di kisaran -1% YoY lantaran didukung porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi, sehingga membantu DOID dalam meredam pelemahan harga batu bara.
Selain itu, DOID juga membukukan capex yang mencapai US$149 juta, yang sebagian besar dialokasikan untuk mempertahankan kesiapan armada dan 46% lainnya dialokasikan untuk mendukung pertumbuhan melalui peningkatan kapasitas di sejumlah site utama di Indonesia.
Secara kuartalan, DOID sejatinya membukukan kinerja yang bertumbuh pada kuartal III/2025. Perseroan mencatatkan overburden removal mencapai 128 juta bank cubic meter dan produksi batu bara mencapai 22 juta MT. Capaian itu mencerminkan kenaikan masing-masing 18% dan 12% secara kuartalan (QoQ).
Selain itu, perseroan juga mencatat jam non-produktif yang turun 53% lantaran kondisi cuaca yang lebih kering dan pemulihan pascahujan yang lebih cepat. Cycle time juga tercatat membaik 12% seiring upaya perseroan.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.