Bisnis.com, Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tengah gencar mengoptimalkan perolehan pendapatan dari pasar eksternal (external revenue) melalui pemanfaatan aset infrastruktur secara agresif.
Melalui entitas bisnis fiber di bawah payung InfraNexia, emiten telekomunikasi pelat merah ini membidik peningkatan kontribusi pendapatan eksternal dari posisi saat ini sebesar 15% menjadi minimal 25%.
Sinyal positif dari strategi ini mulai tepercaya lewat pertumbuhan performa pada kuartal I/2026 yang melampaui pencapaian kuartal IV/2026.
Direktur Wholesale dan International Service Telkom menjelaskan portofolio pendapatan eksternal perusahaan sejauh ini masih didominasi oleh segmen konsumen (consumer) dan korporasi (enterprise). Sebaliknya, transaksi di sektor infrastruktur sebelumnya lebih banyak bersifat internal grup. Pembentukan InfraNexia dirancang khusus memberikan fleksibilitas (agility) dalam melejitkan nilai komersial aset jaringan di pasar luar Telkom Grup.
"Saat ini basis fiber kita kontribusi external revenue-nya baru sekitar 15%. Ini yang mau kita dorong kontribusinya paling tidak menjadi minimum 25 %," kata Budi di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Indikator keberhasilan transformasi ini mulai terlihat setelah perusahaan mengeksekusi pemisahan usaha (spin-off) tahap pertama untuk aset-aset infrastruktur ke InfraNexia yang efektif berjalan sejak Januari 2026.
Manajemen mencatat perbandingan performa pada kuartal I/2026 terhadap kuartal IV/2026 menunjukkan basis bisnis fiber mampu tumbuh signifikan di atas 15 persen. Awal yang positif ini menjadi modal bagi perseroan untuk terus melakukan penetrasi pasar eksternal secara berkelanjutan.
Selain InfraNexia, penopang pendapatan eksternal Telkom datang dari segmen bisnis internasional yang mayoritas porsinya, atau sekitar 90%, berasal dari luar grup.
Lini internasional ini sekaligus menjadi instrumen penyeimbang bagi perseroan karena seluruh pendapatannya menggunakan denominasi dolar AS, meskipun struktur biayanya juga berbasis valuta asing.
Dalam jangka panjang, Telkom berkomitmen memaksimalkan seluruh infrastruktur yang ada untuk memperluas jangkauan pasar eksternal. Kendati demikian, manajemen tetap berhati-hati dalam menjaga keseimbangan portofolio agar akselerasi di sektor infrastruktur tidak mengganggu kinerja segmen bisnis lainnya seperti consumer dan enterprise. Manajemen terus mengoptimalkan bauran portofolio guna menciptakan pertumbuhan bisnis grup yang lebih sehat dan terdiversifikasi.
Kinerja B2B
Berdasarkan laporan info memo Telkom 2025,, total pendapatan konsolidasi perseroan mencapai Rp146,7 triliun. Dari jumlah tersebut, kontribusi pendapatan eksternal dari tiga pilar utama segmen B2B, yakni B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International, secara akumulatif menyumbang Rp34,9 triliun atau sekitar 23,8% terhadap total pendapatan konsolidasi.
Manajemen Telkom menjelaskan segmen B2B infrastruktur menjadi motor pertumbuhan paling progresif. Lini ini mencatatkan pendapatan eksternal Rp8,9 triliun, tumbuh 9,2% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).
“Ekspansi bisnis pusat data (Data Center) dan penyediaan Fiber-to-the-Tower (FTTT) menjadi pendorong utama kenaikan tersebut,” tulis Manajemen Telkom.
Adapun pilar B2B Infrastructure diperkuat oleh entitas strategis seperti InfraNexia (FiberCo), Mitratel (TowerCo), NeutraDC (DC Co), serta Telkomsat di lini satelit. Selain itu, terdapat pula entitas pendukung seperti Telkom Infra, Telkom Akses, dan WINS.
Pada segmen B2B ICT, perseroan mengantongi pendapatan Rp15,3 triliun. Meski secara angka mengalami penurunan 2,8% YoY akibat proses restrukturisasi internal, manajemen menilai langkah tersebut perlu untuk memastikan pendekatan yang lebih selektif dalam mengamankan kontrak-kontrak baru yang berkualitas.
Ekosistem B2B ICT Telkom didukung oleh deretan anak usaha spesialis seperti Telkomsigma, Digiserve, Infomedia, PINS, Nutech, hingga unit bisnis baru EBIS yang fokus pada solusi digital korporasi.
Sementara itu, lini International yang dinakhodai oleh Telin melalui infrastruktur kabel laut internasional menyumbang pendapatan Rp10,7 triliun. Realisasi ini terkoreksi tipis 0,5% YoY akibat penurunan trafik SMS internasional Application-to-Person (A2P), namun pertumbuhan pada jaringan kabel bawah laut berhasil memitigasi tekanan tersebut.
Di luar tiga segmen utama tersebut, Telkom juga meraih pendapatan Rp5,9 triliun dari lini Ancillary Businessesyang mencakup Telkom Metra, Finnet, hingga MDI Ventures. Segmen ini tumbuh 5,1% YoY seiring meningkatnya adopsi pembayaran elektronik dan bisnis gim digital di Indonesia.
Meskipun segmen B2C yang dikelola Telkomsel dan IndiHome masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp105,9 triliun atau mengalami koreksi 3.4% YoY. manajemen melihat pergeseran minat pasar ke arah layanan berbasis data dan solusi korporasi sebagai peluang jangka panjang.
Strategi restrukturisasi yang sedang berjalan pada unit EBIS dan WINS diharapkan mampu membuka nilai tambah (value unlock) serta meningkatkan fokus strategis perseroan pada tahun-tahun mendatang.
Melalui struktur pelaporan berbasis segmen yang baru, Telkom berupaya meningkatkan transparansi operasional sekaligus memperkuat posisi sebagai pemimpin pasar dalam penyediaan infrastruktur digital dan solusi ICT terintegrasi di kawasan regional.