Bisnis.com, JAKARTA – Emiten Grup MAP PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) mengungkapkan sejumlah cara untuk menjaga laba agar tak tergerus pelemahan rupiah. Adapun, MAPI merupakan salah satu perusahaan ritel yang banyak mengimpor dari luar negeri.
Berdasarkan laporan hasil paparan publik, manajemen MAPI menjelaskan saat ini perseroan mengimpor banyak merek dan brand dengan pembayaran dalam dolar AS, poundsterling, dan euro.
"Oleh karena itu, pelemahan nilai tukar rupiah tentu berdampak pada harga pokok penjualan kami," tulis manajemen MAPI lewat keterbukaan informasi, dikutip Senin (29/6/2026).
Namun demikian, perseroan menyampaikan salah satu upaya untuk menjaga laba agar depresiasi rupiah tidak menggerus kinerja yaitu dengan melakukan hedging terhadap hampir 30% eksposur valuta asing perseroan.
Manajemen MAPI mengatakan pelemahan rupiah telah menyebabkan kenaikan harga jual ritel untuk produk tertentu. Sehingga perseroan tidak memiliki pilihan selain meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada pelanggan.
Adapun, untuk 2026 ini MAPI menganggarkan belanja modal atau capital expenditure senilai Rp2 triliun. Saat ini perseroan masih terus memantau kondisi global untuk dapat menyesuaikan besaran capex hingga akhir tahun.
Untuk semester II/2026, MAPI biasanya membuka lebih banyak toko. Manajemen MAPI menambahkan tren pembukaan toko terutama pada kuartal terakhir setiap tahun ini akan berlanjut.
"Pada kuartal I, kami telah membuka lebih dari 200 toko. Secara keseluruhan, kami menargetkan pembukaan sekitar 550–600 toko baru sepanjang tahun ini," tulis manajemen MAPI.
Berdasarkan laporan keuangan per Maret 2026, Mitra Adiperkasa membukukan pendapatan bersih sebesar Rp12,29 triliun, melonjak 32,03% dibandingkan Rp9,31 triliun pada periode sebelumnya.
Sejalan dengan itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp628,03 miliar, meningkat 32,98% dari posisi Rp472,26 miliar.
Perseroan menilai capaian kuartal I/2026 yang kuat turut dipengaruhi basis perbandingan yang lebih rendah pada tahun sebelumnya. Selain itu, peluncuran produk baru seperti iPhone 16 serta meningkatnya kontribusi segmen digital dan perbaikan kinerja bisnis makanan dan minuman turut menjadi pendorong utama.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.