Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja Bursa Efek Indonesia (BEI) cenderung bertumbuh pada 2025 seiring dengan meningkatnya aktivitas pasar domestik.
Berdasarkan data laporan keuangan konsolidasian yang berakhir pada 31 Desember 2025, BEI membukukan total pendapatan usaha sebesar Rp3,67 triliun, meningkat 30,14% dibandingkan dengan pada tahun sebelumnya sebesar Rp2,82 triliun.
Jumlah pendapatan sepanjang 2025 tersebut terdiri atas pendapatan dari transaksi bursa senilai Rp2,81 triliun dan pendapatan dari bukan transaksi bursa senilai Rp221 miliar, sisanya adalah pendapatan investasi hingga pendapatan lain yang mencapai Rp626,53 miliar.
Adapun secara rinci, jumlah pendapatan dari transaksi bursa dan bukan transaksi bursa tersebut masing-masing naik dari Rp2 triliun dan Rp193 miliar pada 2024.
Pertumbuhan pendapatan dari transaksi bursa terutama ditopang oleh kenaikan jasa transaksi efek yang mencapai Rp1,5 triliun, tumbuh 40% secara tahunan dari Rp1,07 triliun pada 2024. Sementara pendapatan dari bukan transaksi bursa disokong oleh pendapatan teknologi informasi senilai Rp109 miliar, naik dari 2024 senilai Rp92 miliar.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih BEI tercatat sebesar Rp1,06 triliun, tumbuh 55 % secara tahunan dibandingkan dengan pada 2024 yang mencapai Rp684,8 miliar. Peningkatan ini didorong oleh jumlah beban yang hanya naik 17% menjadi Rp2,36 triliun, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan jumlah pendapatan.
Dari sisi neraca, BEI juga mencatatkan pertumbuhan jumlah aset menjadi Rp14,8 triliun sepanjang 2025, dari Rp11,2 triliun pada 2024. Demikian pula dengan jumlah liabilitas dan ekuitas yang masing-masing menjadi Rp5,3 triliun dan Rp9,45 triliun.
PERTUMBUHAN INVESTOR
Minat masyarakat terhadap investasi di pasar modal Indonesia terus menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Hal ini tercermin dari lonjakan jumlah investor yang meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Total investor pasar modal—yang mencakup saham, obligasi, dan reksa dana—tercatat mencapai 20,3 juta investor atau tumbuh 36,67% dibandingkan posisi 2024. Kenaikan ini menjadi indikasi kuat semakin luasnya inklusi keuangan di sektor pasar modal.
Secara khusus, jumlah investor saham dan surat berharga lainnya juga mengalami peningkatan pesat. Sepanjang 2025, jumlahnya bertambah lebih dari 2,2 juta investor menjadi 8,59 juta investor saham.
Dari sisi aktivitas, partisipasi investor juga menunjukkan peningkatan. Hingga 29 Desember 2025, rata-rata investor yang aktif bertransaksi tercatat lebih dari 901 ribu investor per bulan. Angka ini mencerminkan tidak hanya pertumbuhan jumlah investor, tetapi juga peningkatan kualitas partisipasi di pasar.
Berdasarkan tipe investor, transaksi masih didominasi oleh investor ritel dengan porsi sebesar 49,9% dari total nilai transaksi. Sementara itu, investor institusi asing turut memberikan kontribusi signifikan dengan porsi lebih dari 36,3% terhadap rata-rata nilai transaksi harian hingga November 2025.
Pertumbuhan jumlah investor tersebut tidak terlepas dari masifnya program edukasi dan sosialisasi pasar modal yang dilakukan secara berkelanjutan. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Kantor Perwakilan dan Galeri Investasi telah menyelenggarakan 29.474 kegiatan literasi, inklusi, dan aktivasi, baik secara luring maupun daring, dengan total partisipasi mencapai 2,82 juta peserta.
Selain itu, sebanyak 17.575 kegiatan edukasi juga digelar secara virtual melalui media sosial dengan jangkauan audiens mencapai lebih dari 24,09 juta peserta dari berbagai wilayah di Indonesia.
BEI juga terus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital dalam pelaksanaan edukasi pasar modal, guna menjangkau masyarakat yang lebih luas, termasuk di daerah-daerah. Langkah ini dinilai menjadi salah satu faktor kunci dalam mendorong peningkatan jumlah investor serta memperdalam pasar keuangan domestik.