Meta meluncurkan layanan berbayar Instagram, Facebook, dan WhatsApp Plus untuk monetisasi fitur eksklusif, menawarkan fleksibilitas dan personalisasi lebih bagi pengguna. [505] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Raksasa teknologi Meta makin agresif dalam menarik keuntungan langsung dari basis pengguna globalnya di platform Facebook, Instagram, dan WhatsApp.
Perusahaan bentukan Mark Zuckerberg ini merilis skema layanan berbayar bulanan guna memonetisasi fitur-fitur eksklusif yang sebelumnya tidak tersedia pada versi standar, menandai pergeseran besar dalam model bisnis yang selama ini bertumpu dominan pada pendapatan iklan.
Strategi monetisasi lini konsumen ini meluncur melalui paket langganan yang dikelompokkan berdasarkan karakteristik aplikasi.
Dilansir dari TechCrunch, Kamis (28/5/2026), perusahaan menetapkan tarif paket Instagram Plus dan Facebook Plus senilai US$3,99 atau setara Rp71.000-an per bulan, sementara paket WhatsApp Plus dibanderol sedikit lebih rendah pada angka US$2,99 atau berkisar Rp53.000-an per bulan.
Langkah korporasi menghadirkan opsi premium ini dirancang guna menangkap ceruk pasar pengguna yang membutuhkan fleksibilitas sosial dan fungsionalitas lebih tinggi.
Pada ekosistem Instagram Plus dan Facebook Plus, Meta menjual utilitas ekspresi sosial yang lebih privat dan mendalam. Pengguna berbayar diberikan hak istimewa seperti kemampuan memperpanjang durasi penayangan Story melebihi batas normal 24 jam, mengintip unggahan cerita tanpa terdeteksi dalam daftar penonton, hingga menyembunyikan unggahan profil baru dari lini masa pengikut (feed follower).
Selain itu, paket Plus pada kedua aplikasi sosial tersebut menawarkan perangkat kustomisasi visual yang mencakup font khusus untuk bio profil, ikon aplikasi yang dapat diubah sesuai preferensi, hingga fitur analitik sosial seperti melihat akumulasi penonton ulang Story.
Adapun di Indonesia, per April 2026 Facebook dilaporkan memiliki sekitar 210,4 juta pengguna, yang mencakup lebih dari 73% total populasi negara.
Sementara itu, Instagram menempel ketat di posisi kedua dengan total penetrasi mencapai 121,5 juta pengguna aktif bulanan, di mana kelompok demografi usia muda 25 hingga 34 tahun menjadi motor penggerak utama platform visual tersebut.
Di sisi lain, WhatsApp mengukuhkan posisinya sebagai raja aplikasi perpesanan nomor satu yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia.
Menurut laporan We Are Social, platform komunikasi ini mendominasi dengan tingkat persentase penggunaan mencapai 90,8% dari total pengguna internet di dalam negeri.
Head of Product Meta, Naomi Gleit, mengungkapkan pihak manajemen berkomitmen terus menambah variasi fitur rekreasional ini guna memperkuat daya tarik paket langganan ke depan.
Di sisi lain, WhatsApp Plus difokuskan untuk menggarap pasar perpesanan dengan menekankan aspek personalisasi. Dengan tarif langganan bulanan tersebut, pengguna dapat menikmati opsi tema aplikasi yang lebih variatif, nada dering khusus, kapasitas penyematan pesan (chat pin) yang lebih banyak, serta akses ke stiker premium eksklusif.
Tidak berhenti pada segmen pengguna kasual, agresivitas monetisasi Meta juga merambah ke sektor bisnis, kreator konten, dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Korporasi mengonfirmasi dimulainya uji coba paket profesional terintegrasi di bawah payung komersial bernama 'Meta One'.
Melalui Meta One, pengguna yang membutuhkan kemampuan komputasi tingkat tinggi dapat mengakses pemrosesan penalaran AI yang lebih dalam serta kuota pembuatan konten berbasis gambar dan video generator yang jauh lebih besar.
Paket Meta One ini akan diuji coba terbatas mulai bulan depan di Singapura, Guatemala, dan Bolivia dengan dua skema harga, yakni kelas Plus senilai US$7,99 per bulan dan kelas Premium pada tarif USD19,99 per bulan.
Instagram sedang mengembangkan fitur yang memungkinkan pengguna menghapus diri dari daftar Close Friends orang lain, memberi kontrol lebih pada pengguna. [369] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— Instagram tengah mengembangkan fitur baru yang memungkinkan pengguna menghapus diri sendiri dari daftar Close Friends milik orang lain.
Melansir laman TechCrunch pada Senin (2/2/2026) fitur tersebut masih berada dalam tahap pengembangan awal dan belum diuji secara publik.
Fitur Close Friends di Instagram selama ini memungkinkan pengguna membagikan Stories, Reels, dan unggahan hanya kepada kelompok tertentu, bukan ke seluruh pengikut. Sejak diluncurkan pada 2018, pengguna belum memiliki kendali untuk keluar dari daftar Close Friends milik orang lain.
Prototipe internal fitur ini pertama kali ditemukan oleh reverse engineer Alessandro Paluzzi, yang dikenal sering menemukan fitur-fitur yang belum dirilis saat masih dalam tahap pengembangan.
Berdasarkan tangkapan layar yang dibagikan Paluzzi, Meta akan memberikan peringatan kepada pengguna jika mereka keluar dari daftar Close Friends seseorang, maka mereka tidak lagi dapat melihat konten Close Friends dari orang tersebut, kecuali ditambahkan kembali.
Meta menjelaskan fitur ini masih dalam tahap awal pengembangan. Sementara itu, Paluzzi menunjukkan sistem akan memberi notifikasi berupa peringatan kepada pengguna sebelum mereka memutuskan keluar dari daftar tersebut.
Langkah ini dinilai dapat memberi kendali lebih besar kepada pengguna yang merasa tidak nyaman berada dalam daftar Close Friends tertentu. Di sisi lain, ada kemungkinan sebagian pengguna merasa tersinggung jika seseorang memilih keluar dari daftar tersebut.
Sebagai perbandingan, Snapchat telah lebih dulu menyediakan fitur serupa yang memungkinkan pengguna keluar dari daftar private story milik orang lain.
Seperti prototipe internal lainnya, belum dapat dipastikan kapan atau apakah fitur ini akan dirilis secara resmi kepada publik.
Selain pembaruan terkait Close Friends, Instagram juga tengah menyiapkan fitur baru lainnya. Meta sebelumnya mengatakan perusahaan berencana menguji model langganan (subscription) baru yang memberikan akses ke fitur eksklusif di Instagram, Facebook, dan WhatsApp.
Meta belum merinci fitur apa saja yang akan tersedia dalam langganan tersebut. Namun, Paluzzi mengungkapkan langganan premium di Instagram memungkinkan pengguna membuat daftar audiens tanpa batas, melihat siapa pengikut yang tidak mengikuti balik, serta melihat Stories tanpa diketahui pemilik akun.
Meta menyebut tujuan dari pengembangan langganan ini adalah memberikan pengguna akses ke fitur khusus dan kontrol lebih besar dalam berbagi serta berinteraksi, sambil tetap mempertahankan pengalaman utama aplikasi yang gratis.
Perusahaan juga menyatakan strategi ini masih dalam tahap uji coba, dengan kemungkinan setiap aplikasi memiliki paket langganan dengan fitur eksklusif yang berbeda.
Pengguna Instagram di Indonesia menerima email permintaan ganti kata sandi. Pengamat menduga itu phishing. Pakar menyarankan ganti sandi langsung di aplikasi. [811] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pengguna Instagram di Indonesia mendapat notifikasi massal terkait permohonan untuk mengganti kata sandi atau password. Permohonan tersebut dikirim melalui surel kepada pengguna sejak beberapa hari lalu melalui akun email Instagram dengan centang biru.
Anggri (34) salah satu pengguna Instagram mengaku telah menerima notifikasi lewat surel dari email resmi Instagram untuk mengganti password pada 6 Januari 2026 atau 5 hari lalu. Anggri tidak hanya mendapat email itu sekali, tetapi berkali-kali. Maksudnya, selama 5 hari ini Anggri sudah mendapat 2 kali notifikasi pada tanggal 6 Januari dan 10 Januari.
Anggri sempat mengunggah permohonan tersebut di story IG. Seketika ada 7 teman yang mengirim pesan langsung (DM) ke akunnya dan mengaku mengalami hal yang sama.
“Langsung dapat DM hari itu juga, mereka bilang juga dapat notifikasi yang sama,” kata Anggri kepada Bisnis, Minggu (11/1/2026).
Surel permohonan ganti password IG
Anggri mengatakan setelah mendapat email tersebut dirinya tidak langsung mengganti password karena khawatir itu bagian dari upaya penipu mencuri data-data pentingnya. Terlebih, password yang dia pakai mirip dengan password beberapa akun media sosial lainnya.
Masalah serupa juga dialami oleh pengguna IG bernama Denis, yang juga mengaku mendapat email untuk mengubah password. Denis memilih mengabaikan pesan tersebut karena khawatir itu sebagai upaya scam. Dengan mengganti password, mereka khawatir data mereka diambil.
“Aku diamkan permintaan saja permintaannya di email. Semoga aman,” kata Denis.
Bisnis telah mencoba mengonfirmasi kepada Meta mengenai kabar dugaan data bocor Instagram dan kekhawatiran pengguna terkait permintaan penggantian password IG lewat email. Hingga berita ini diturunkan, Meta tidak membalas.
Centang Biru Tak Berarti Asli
Sementara itu Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja menyarankan jika pengguna ingin melakukan pengkinian password, sebaiknya langsung di aplikasi Instagram yang sudah terdaftar di perangkat masing-masing karena sudah terverifikasi.
Dia mengimbau agar pengguna IG tidak mengklik tautan yang disebar di email meski itu dari akun email resmi Instagram.
“Jangan mengklik link-link atau tautan-tautan yang ada di email atau DM karena sekarang sangat sulit untuk verifikasi benar atau tidaknya email-email tersebut,” kata Ardi kepada Bisnis.
Dia juga menekankan bahwa centang biru belum tentu akun resmi. Menurutnya, saat ini makin banyak email-email phising yang sulit diverifikasi keabsahannya terutama oleh mayoritas pengguna yang awam tentang masalah keamanan siber.
“Terus kalau di IG langsung, kalau pengguna lama tentunya aplikasinya sudah terverifikasi dan sudah di-patch dan pengkiniannya sudah yang terbaru sehingga tinggal pengkinian passwordnya. Kalau klik link email, kita juga tidak tahu apakah emailnya bener atau tidak?. Centang biru juga tidak menjamin,” kata Ardi kepada Bisnis.
Senada, Ketua Bidang Network dan Infrastruktur Indonesian Digital Empowerment Community (IDIEC) Ariyanto A. Setyawan meminta masyarakat untuk berhati-hati jika mendapat permintaan ganti password Instagram melalui email karena kemungkinan besar yang mengirim email adalah pihak lain, bukan pihak Instagram resmi.
“Tunggu dipaksa reset dari aplikasinya saja. Best practicenya di pengembang aplikasi saat ini untuk proses pemaksaan ganti password itu ya di aplikasinya, bukan dikirim email. Kalau email, banyaknya phishing dan teknik itu sudah ditinggalkan oleh pengembang aplikasi,” kata Ariyanto.
Untuk diketahui Phishing merupakan teknik penipuan siber yang bertujuan mencuri data sensitif seperti username, password, nomor rekening, atau informasi pribadi lainnya.
Pelaku phishing biasanya menyamar sebagai entitas tepercaya seperti bank, Instagram, pemerintah, atau perusahaan besar melalui email, SMS, WhatsApp, telepon, atau situs web palsu. Mereka mengirim pesan mendesak seperti “Akun Anda akan diblokir, verifikasi sekarang” dengan tautan yang mengarah ke halaman login tiruan, sehingga korban memasukkan data tanpa curiga.
Kasus Phising Meningkat Signifikan
Di Indonesia angka phising cenderung meningkat. BSSN mencatat pada September 2025 aktivitas anomali siber total mencapai 4,41 miliar, termasuk phishing sebagai urutan ke-3 modus terbanyak setelah malware dan akses tidak sah. Phishing disebut modus yang banyak ditemui dengan lonjakan hingga 26 juta kasus.
Sementara itu Komdigi mencatat ada 1,2 juta laporan penipuan digital hingga pertengahan 2025, mayoritas phishing/smishing via SMS/email.
Sebelumnya, ribuan pengguna Instagram di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, baru-baru ini menerima notifikasi permintaan reset password secara massal.
Laporan dari perusahaan antivirus Malwarebytes menyebut telah terjadi kebocoran data yang memengaruhi 17,5 juta akun Instagram dengan informasi sensitif seperti nama pengguna, alamat fisik, nomor telepon, dan alamat email yang bocor.
Data pengguna IG dijual di darkweb
Malwarebytes menemukan pelanggaran ini melalui pemindaian rutin di dark web, yang terkait dengan kebocoran API Instagram pada 2024.[conversation_history] Data tersebut kini dijual secara terbuka dan berpotensi disalahgunakan untuk serangan siber seperti phishing atau pengambilalihan akun, memicu lonjakan permintaan reset password yang membingungkan pengguna.
Dilansir dari Cybersecuritynews, Minggu (11/1/2026), melaporkan insiden ini awal memicu kekhawatiran serius soal privasi dan keamanan akun pengguna global, termasuk di Indonesia.
Penjual di dark web bernama "Subkek" mengklaim data ini di-scrape melalui API publik Instagram dan sumber negara-spesifik pada akhir 2024, dengan sampel record terlihat jelas di listing. Kombinasi data ini memudahkan pencuri identitas, phishing targeted, dan social engineering, di mana penjahat siber bisa kirim pesan palsu seolah dari Instagram untuk curi kata sandi.
Kebocoran data Instagram berdampak pada 17,5 juta pengguna, termasuk di Indonesia. Data sensitif dijual di dark web, memicu permintaan reset password massal. [455] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pengguna Instagram di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, baru-baru ini menerima notifikasi permintaan reset password secara massal. Laporan dari perusahaan antivirus Malwarebytes menyebut telah terjadi kebocoran data yang memengaruhi 17,5 juta akun Instagram dengan informasi sensitif seperti nama pengguna, alamat fisik, nomor telepon, dan alamat email yang bocor.
Malwarebytes menemukan pelanggaran ini melalui pemindaian rutin di dark web, yang terkait dengan kebocoran API Instagram pada 2024.
Data tersebut kini dijual secara terbuka dan berpotensi disalahgunakan untuk serangan siber seperti phishing atau pengambilalihan akun, memicu lonjakan permintaan reset password yang membingungkan pengguna.
Dilansir dari Cybersecuritynews, Minggu (11/1/2026), melaporkan insiden ini awal memicu kekhawatiran serius soal privasi dan keamanan akun pengguna global, termasuk di Indonesia.
Penjual di dark web bernama "Subkek" mengklaim data ini di-scrape melalui API publik Instagram dan sumber negara-spesifik pada akhir 2024, dengan sampel record terlihat jelas di listing. Kombinasi data ini memudahkan pencuri identitas, phishing targeted, dan social engineering, di mana penjahat siber bisa kirim pesan palsu seolah dari Instagram untuk curi kata sandi.
Data pengguna Instagram dijual di Dark Web/Cybersecuritynews
Pengguna di Indonesia Terima Notifikasi Massal
Anggri (34) salah satu pengguna Instagram di Indonesia mengaku telah menerima notifikasi lewat surel dari email resmi Instagram untuk mengganti password pada 6 Januari 2026 atau 5 hari lalu. Anggri tidak hanya mendapat email itu sekali, tetapi berkali-kali. Maksudnya, selama 5 hari ini Anggri sudah mendapat 2 kali notifikasi pada tanggal 6 Januari dan 10 Januari.
Anggri sempat memposting kondisi tersebut di story IG. Seketika ada 7 teman yang mengirim pesan langsung (DM) ke akunnya dan mengaku mengalami hal yang sama.
“Langsung dapat DM hari itu juga, mereka bilang juga dapat notifikasi yang sama,” kata Anggri kepada Bisnis.
Masalah serupa juga dialami oleh pengguna IG lainnya bernama Denis, yang juga mengaku mendapat email untuk mengubah password. Anggri dan Denis memilih mengabaikan pesan tersebut karena khawatir itu sebagai upaya scam. Dengan mengganti password, mereka khawatir data mereka diambil.
Email dari Instagram yang meminta password diganti
“Aku diamkan permintaan saja permintaannya di email. Semoga aman,” kata Denis.
Bisnis telah mencoba mengonfirmasi kepada Meta mengenai kabar dugaan data bocor Instagram dan kekhawatiran pengguna terkait permintaan penggantian password IG lewat email. Hingga berita ini diturunkan, Meta tidak membalas.
Perlu Ganti Password?
Sementara itu Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja menyarankan jika pengguna ingin melakukan pengkinian password, sebaiknya langsung di aplikasi Instagram yang sudah terdaftar di perangkat masing-masing karena sudah terverifikasi.
Dia mengimbau agar pengguna IG tidak mengklik tautan yang disebar di email meski itu dari akun email resmi Instagram.
“Jangan mengklik link-link atau tautan-tautan yang ada di email atau DM karena sekarang sangat sulit untuk verifikasi benar atau tidaknya email-email tersebut,” kata Ardi kepada Bisnis.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56