Bisnis.com, JAKARTA — Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa China, Australia, dan Argentina menjadi tiga negara penyumbang defisit perdagangan nonmigas terbesar bagi Indonesia sepanjang Januari–April 2026.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan bahwa kontribusi China dalam defisit nonmigas Indonesia selama periode ini mencapai US$8,03 miliar. Pudji menjelaskan defisit nonmigas dengan China terutama berasal dari impor berbagai produk manufaktur.
Sementara itu, Australia menyumbang defisit sebesar US$3,05 miliar dan Argentina US$730 juta.
"Yang pertama adalah untuk negara China. Ini didorong oleh komoditas mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, kemudian mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, kemudian plastik dan barang dari plastik,” kata Pudji dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Selasa (2/6/2026).
Sepanjang Januari–April 2026, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China tercatat sebesar US$22,76 miliar, sedangkan impor mencapai US$30,79 miliar.
BPS mencatat defisit perdagangan dengan China terutama disumbang oleh impor mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) sebesar US$6,81 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) sebesar US$6,54 miliar, serta plastik dan barang dari plastik (HS 39) sebesar US$1,63 miliar.
Kemudian, Australia menempati posisi kedua sebagai penyumbang defisit nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai mencapai US$3,05 miliar. Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Australia selama Januari–April 2026 tercatat sebesar US$1,10 miliar, sedangkan impor barang dari Australia mencapai US$4,15 miliar.
Defisit perdagangan dengan Australia terutama berasal dari komoditas logam mulia dan perhiasan atau permata (HS 71) yang mencatat defisit sebesar US$1,38 miliar. Selain itu, komoditas serealia (HS 10) menyumbang defisit US$0,51 miliar dan bahan bakar mineral (HS 27) sebesar US$0,40 miliar.
Sementara itu, Argentina menjadi negara ketiga penyumbang defisit nonmigas terdalam bagi Indonesia dengan nilai mencapai US$730 juta. Sepanjang empat bulan pertama 2026, ekspor nonmigas Indonesia ke Argentina hanya mencapai US$90 juta, sedangkan impor tercatat sebesar US$810 juta.
Pudji menyampaikan defisit perdagangan dengan negara tersebut terutama dipicu oleh impor komoditas serealia (HS 10) yang menyumbang defisit sebesar US$0,49 miliar. Selain itu, ampas dan sisa industri makanan (HS 23) mencatat defisit US$0,28 miliar, sedangkan kelompok ikan, krustasea, dan moluska (HS 03) menyumbang defisit sebesar US$0,01 miliar.
“Untuk negara Argentina, defisit terbesar pada komoditas serealia, ampas dan sisa industri makanan, kemudian ikan, krustasea, dan moluska,” pungkasnya.