Bisnis.com, JAKARTA — Pakar AI dari University of California, Berkeley, Stuart Russell, menilai pengembangan Artificial General Intelligence (AGI) oleh Sam Altman melalui OpenAI dan Elon Musk tidak terkendali dan mengarah pada dominasi pasar yang tidak sehat.
Sebagai informasi, AGI merupakan jenis kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan memahami, belajar, dan menyelesaikan berbagai tugas secara umum seperti manusia
Melansir dari TechCrunch, Selasa (5/5/2026), dalam persidangan di hadapan Hakim Yvonne Gonzalez Rogers, Russell menyatakan terdapat ketegangan besar antara pengejaran AGI dan aspek keamanan.
Dia menyoroti risiko yang mencakup ancaman keamanan siber, masalah ketidakselarasan, hingga sifat industri AGI yang cenderung bersifat winner-take-all.
“Ada berbagai risiko yang terkait dengan pengembangan AI, mulai dari ancaman siber hingga dominasi pasar yang tidak sehat,” ujar Russell di pengadilan federal.
Pakar yang pernah menandatangani petisi penundaan riset AI selama enam bulan pada Maret 2023 ini bertugas memberikan latar belakang teknis kepada juri. Russell selama ini dikenal sebagai kritikus dinamika perlombaan senjata antar-laboratorium AI yang bersaing menjadi yang pertama mencapai level AGI.
Di sisi lain, pengacara OpenAI melakukan pemeriksaan silang untuk membuktikan bahwa Russell tidak mengevaluasi struktur perusahaan atau kebijakan keamanan spesifik milik OpenAI secara langsung. Pihak OpenAI berargumen bahwa transisi ke model profit diperlukan untuk mendanai kebutuhan daya komputasi yang sangat besar.
Persidangan ini juga mengungkap kontradiksi dalam langkah bisnis Elon Musk. Meski Musk ikut menandatangani surat penundaan riset AI karena alasan keamanan, ia justru meluncurkan xAI sebagai laboratorium AI komersial miliknya sendiri pada periode yang hampir bersamaan.
Saat memberikan keterangan di bangku saksi, Musk memberikan pernyataan mengejutkan mengenai arah bisnis Tesla Inc. Dia menyatakan bahwa Tesla sebenarnya tidak memiliki rencana untuk mengejar pengembangan AGI secara spesifik.
Pernyataan tersebut memicu pertanyaan dari sisi pemegang saham dan investor otomotif dunia. Pasalnya, Tesla sebelumnya mengumumkan rencana pengeluaran modal sebesar US$25 miliar atau sekitar Rp433 triliun pada 2026 yang sebagian besar dialokasikan untuk proyek berbasis AI.
“Tesla tidak memiliki rencana untuk mengejar AGI,” kata Musk saat menjawab pertanyaan dalam pemeriksaan silang.
Selain isu AGI, Musk juga mengakui bahwa perusahaan miliknya, xAI, melakukan praktik "distilasi" terhadap teknologi dari OpenAI. Distilasi merupakan teknik menggunakan model AI yang lebih kuat untuk melatih model yang lebih kecil dan murah.
Hal ini menjadi ironi karena Musk sebelumnya sering mengkritik kompetitor lain, seperti Anthropic, karena dianggap mengambil data tanpa izin. Namun, di pengadilan, Musk menyebut bahwa praktik tersebut adalah hal yang lazim dilakukan di industri AI.
Fenomena ini mencerminkan dinamika di tingkat nasional, di mana para pembuat kebijakan mulai mempertimbangkan regulasi ketat terhadap pusat data. Senator Bernie Sanders, misalnya, telah mengusulkan moratorium konstruksi pusat data akibat kekhawatiran yang serupa dengan apa yang disampaikan para tokoh teknologi.
Hingga saat ini, persidangan masih terus menimbang sejauh mana keserakahan korporasi berdampak pada pengabaian protokol keamanan AI. Kasus ini diprediksi akan menjadi preseden hukum penting bagi tata kelola pengembangan kecerdasan buatan di masa depan.