Bisnis.com, JAKARTA - Saham PT Jasa Marga Tbk. (JSMR) dinilai memiliki peluang revaluasi (re-rating) seiring dengan normalisasi belanja modal dan prospek arus kas bebas (free cash flow/FCF) yang membaik dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam riset terbarunya pada Selasa (14/10/2025), BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan “buy” untuk saham JSMR dengan target harga Rp4.750 per saham karena valuasinya masih tergolong murah dengan diskon sekitar 23% terhadap rata-rata historis EV/EBITDA.
Saham JSMR ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa hingga 1,56% di level Rp3.780. JSMR telah terkontraksi 13,30% sejak awal tahun ini (year-to-date/YtD).
Meskipun JSMR tetap menjadi pemain dominan di infrastruktur transportasi darat dengan pangsa pasar stabil di atas 40%, minat investor terhadap saham ini menurun pasca-pandemi.
Hal itu disebabkan oleh fluktuasi margin laba bersih akibat pemulihan lalu lintas yang belum sepenuhnya stabil serta penyesuaian tarif khusus yang lebih rendah, yaitu hanya naik 1% pada 2024–2025, dibandingkan 15% dan 5% pada 2022–2023.
Kondisi ini membuat ROE JSMR berfluktuasi dan kinerja free cash flow (FCF) tertahan karena kebutuhan belanja modal (capex) yang tinggi. Sepanjang periode 2014–2024, pertumbuhan capex JSMR mencapai rata-rata 18% per tahun.
Namun ke depan, BRI Danareksa memproyeksikan pertumbuhan capex akan melambat menjadi hanya 1% CAGR pada 2026–2031, seiring pergeseran fokus belanja pemerintah dari infrastruktur fisik ke sektor lain.
Normalisasi ini diyakini menjadi peluang bagi JSMR untuk memperbaiki arus kas bebas dan imbal hasil FCF melalui disiplin pengelolaan modal, seperti recycling aset dan penjadwalan capex yang lebih efisien.
“Kami melihat potensi re-rating JSMR yang berkelanjutan akan sangat bergantung pada disiplin penggunaan modal untuk memperbaiki arus kas bebas di tengah normalisasi belanja modal,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas Ismail Fakhri Suweleh dalam risetnya.
Analis memproyeksikan laba operasi (EBIT) JSMR tumbuh rata-rata 7% per tahun pada 2026–2031, didukung oleh kenaikan volume lalu lintas sekitar 5%, penyesuaian tarif dua tahunan sebesar 2–3%, serta efisiensi biaya operasional yang stabil di kisaran 11%.
Dengan asumsi tidak ada pembengkakan capex atau akuisisi besar, yield FCF JSMR diperkirakan dapat mencapai 10% pada 2031, dibandingkan kondisi negatif saat ini.
BRI Danareksa memperkirakan EBITDA JSMR akan berada di kisaran Rp12 triliun-Rp18 triliun per tahun pada 2026–2031, cukup untuk mendanai belanja modal sekitar Rp10 Triliun–Rp12 triliun per tahun.
Namun demikian, analis mengingatkan adanya sejumlah risiko, antara lain pertumbuhan lalu lintas yang lebih lemah dari proyeksi, potensi kendala dalam pelaksanaan capex yang dapat membebani arus kas dan bunga pinjaman, serta kemungkinan injeksi aset nonproduktif dari pemerintah.
---------------------------
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.