Bisnis.com, JAKARTA—Di tengah fluktuasi pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut indeks berbasis Environmental, Social, dan Governance (ESG) semakin menjadi panduan investasi.
Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan Indeks ESG di BEI semakin menjadi acuan dalam pengambilan keputusan investasi. Termasuk meningkatnya perhatian investor global pada sektor energi terbarukan dan transisi energi.
Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2026, Jeffrey menyampaikan ada 72 reksadana pasif dan exchange-traded fund (ETF) berbasis saham yang dicatatkan di Bursa dengan total dana kelolaan mencapai Rp15,83 triliun.
“BEI menyediakan 6 indeks berbasis ESG untuk mendorong penciptaan produk investasi ESG, platform, panduan ESG reporting, program edukasi kepada pelaku investasi, serta kolaborasi dengan regulator dan mitra strategis,” katanya, Senin (6/4/2026).
Salah satu indeks hijau tersebut ialah Indeks ESG Leaders atau IDXESGL, yang mengukur kinerja harga dari saham-saham yang memiliki penilaian Environmental, Social, dan Governance (ESG).
Emiten-Emiten yang sahamnya masuk dalam IDX ESG Leaders ini juga tidak terlibat pada kontroversi secara signifikan serta memiliki likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.
Adapun, penilaian ESG dan analisis kontroversi dilakukan oleh Sustainalytics berupa skor ESG Risk Rating dalam rentang 0-100. Makin kecil angkanya, maka skor ESG kian baik. Ada lima kategori, yaitu negligible (0-10), low (10-20), medium (20-30), high (30-40, dan severe (lebih dari 40).
Emiten-emiten yang sahamnya masuk dalam IDX ESG Leaders diperoleh dari konstituen IDX80, yaitu indeks yang mengukur kinerja harga dari 80 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.
Formula penghitungan (metode pembobotan) Indeks IDX ESG Leaders menggunakan metodologi Capped Free Float Market Capitalization Weighted Average and ESG Tilt Factored.
Metode ini menambahkan faktor lain selain kapitalisasi pasar free float, yaitu faktor ESG. Selain itu, bobot konstituen juga diberlakukan batasan (capped) paling tinggi 15%. Faktor ESG didefinisikan sebagai ESG tilt factor yang dihitung berdasarkan z-score dari skor risiko ESG.
Co-founder dan Chief Executive Officer Katadata Metta Dharmasaputra mengatakan inovasi ekonomi hijau diharapkan mampu mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8%.
“Tanpa sektor ini sebagai pendorong baru, kelihatannya akan sulit untuk mencapai target pertumbuhan sebesar itu,” ujar Metta.
Metta juga menambahkan, dalam survei BEI bersama Mandiri Institute tahun 2024 terhadap 150 perusahaan, tantangan utama penerapan ESG di Indonesia adalah kurangnya data kuantitatif yang memadai, keterbatasan sumber daya manusia, dan tingginya biaya pengumpulan data ESG.
Oleh karena itu, Katadata Green meluncurkan KESGI (Katadata ESG Insight) Dashboard pada Senin (6/4/2026). Dasbor ini menghimpun dan menganalisis data ESG perusahaan yang melantai di pasar saham, diperkuat penilaian berdasarkan panel ahli serta teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung implementasi ESG perusahaan-perusahaan Indonesia.