Bisnis.com, JAKARTA — PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) resmi merilis program diskon tarif tiket penyeberangan untuk periode Angkutan Lebaran 2026.
Langkah ini ditempuh guna mendistribusikan arus kendaraan agar tidak menumpuk pada puncak arus mudik, sekaligus memberikan insentif bagi masyarakat yang melakukan perjalanan lebih awal.
Berdasarkan Surat Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor PR.301/1/2/DRJD/2026 tertanggal 12 Februari 2026, stimulus tarif tersebut berlaku untuk periode keberangkatan 12 Maret hingga 31 Maret 2026.
"Kami mengajak masyarakat untuk memanfaatkan diskon tarif ini dengan merencanakan perjalanan lebih awal. Selain lebih hemat, hal ini juga akan meningkatkan kenyamanan pengguna jasa di pelabuhan," tulis manajemen dalam keterangannya, dikutip Jumat (27/2/2026).
Program diskon ini mencakup sejumlah lintasan strategis yang menghubungkan pulau-pulau besar di Indonesia. Berikut rincian penyesuaian tarif pada beberapa rute utama:
Lintasan Merak–Bakauheni (PP)
Dewasa (Express): tarif normal Rp84.800 menjadi Rp44.000
Dewasa (Reguler): tarif normal Rp22.700 menjadi Rp18.100
Kendaraan Golongan IVA: tarif normal Rp481.800 menjadi Rp431.200
Lintasan Ketapang–Gilimanuk (PP)
Lintasan Lembar–Padangbai (PP)
Selain rute tersebut, penyesuaian tarif juga berlaku pada lintasan Kayangan–Pototano, Tanjung Uban–Telaga Punggur, Ajibata–Ambarita, hingga Sape–Labuan Bajo.
Sebagai bagian dari komitmen pelayanan, ASDP juga menyiapkan skema kompensasi bagi pengguna jasa yang telah membeli tiket dengan tarif normal untuk periode keberangkatan yang masuk masa diskon.
Pengguna jasa berhak mengajukan pengembalian dana sebagian (partial refund) dengan menghubungi Contact Center 191 atau melalui layanan pesan WhatsApp resmi ASDP. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga kepercayaan konsumen seiring transformasi digital yang terus dilakukan perseroan.
Pemerintah memprediksi pergerakan masyarakat pada Mudik Lebaran 2026 akan meningkat signifikan. Oleh karena itu, manajemen trafik melalui skema diskon tarif dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk memitigasi potensi kepadatan di pelabuhan penyeberangan utama.