Bisnis.com, JAKARTA — Laba sektor industri di China melonjak pada dua bulan pertama 2026, sebelum perang di Timur Tengah mengguncang pasar minyak global dan mendorong kenaikan tajam biaya bahan baku.
Menurut data Biro Statistik China (NBS) pada Jumat (27/3/2026), laba perusahaan industri China meningkat 15,2% secara tahunan pada Januari–Februari 2026. Kinerja tersebut menjadi awal tahun tercepat sejak 2018 di luar lonjakan yang terjadi saat pandemi pada 2021
“Kinerja perusahaan industri menunjukkan tren pemulihan yang berkelanjutan,” ujar analis NBS Yu Weining dalam pernyataan yang dikutip dari Bloomberg.
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa lingkungan internasional masih bergejolak dan risiko rambatan dari konflik geopolitik terus meningkat.
Kenaikan ini terjadi setelah periode stabilisasi pada 2025, ketika laba perusahaan industri hanya tumbuh tipis 0,6% setelah sebelumnya mengalami kontraksi selama tiga tahun berturut-turut.
Meski begitu, runtuhnya pasar properti masih menekan permintaan domestik di tengah perusahaan yang juga terjebak dalam perang harga. Di sisi lain, reli global pada logam serta kampanye pemerintah untuk menekan persaingan berlebihan membantu meredakan tekanan deflasi.
Namun, situasi mulai berubah setelah harga minyak mentah melonjak sekitar 50% sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari. Kenaikan ini mendorong lonjakan biaya bahan baku untuk industri kimia, serat, dan plastik, yang berpotensi menekan laba pabrik, meskipun produsen energi di sektor hulu kemungkinan diuntungkan.
Pada Januari–Februari, sektor manufaktur elektronik menjadi salah satu pendorong utama lonjakan laba dengan kenaikan lebih dari 200% dibandingkan tahun sebelumnya.
Industri tersebut diuntungkan oleh lonjakan global dalam pengembangan kecerdasan buatan. Permintaan yang lebih tinggi terhadap semikonduktor dan peralatan listrik mendorong pertumbuhan ekspor China meskipun perang masih berlangsung, serta meningkatkan pendapatan produsen chip seperti ChangXin Memory Technologies.
Industri yang terkait dengan produksi logam non-besi, termasuk pertambangan serta peleburan dan penempaan, juga mencatat kinerja lebih baik. Harga logam seperti Copper dan Aluminum telah mengalami reli selama beberapa bulan sebelum melemah pada Maret akibat kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Pertumbuhan harga produsen di China diperkirakan kembali positif pada Maret seiring kenaikan harga minyak, setelah lebih dari tiga tahun mengalami kontraksi. Kondisi ini berpotensi mengakhiri periode deflasi ekonomi terpanjang yang pernah terjadi di negara tersebut.
Data resmi juga menunjukkan sejumlah produk industri utama seperti benang poliester dan polietilena—plastik yang umum digunakan—mengalami kenaikan harga dua digit pada periode 11–20 Maret dibandingkan 10 hari pertama bulan tersebut.
Meski demikian, profitabilitas perusahaan industri masih menghadapi tekanan. Margin laba rata-rata perusahaan industri China turun selama empat tahun berturut-turut menjadi 5,3% pada akhir 2025, level terendah sejak pencatatan data dimulai pada 2014.