Rencana kenaikan tarif royalti logam oleh Kementerian ESDM berdampak pada volatilitas pasar saham, terutama emiten timah dan emas, mulai Juni 2026. [688] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Rencana perubahan tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, hingga perak, membayangi prospek kinerja emiten logam sehingga memicu volatilitas saham dalam jangka pendek.
Mengutip riset Stockbit Sekuritas, Kementerian ESDM pada Jumat (8/5/2026) menggelar public hearing terkait perubahan tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, hingga perak. Perubahan tarif royalti tersebut umumnya terkait perubahan interval harga mineral acuan dan kenaikan tarif.
Kementerian ESDM berencana untuk segera mengajukan rencana kenaikan tarif royalti ini kepada Presiden Prabowo Subianto, dengan target mulai berlaku per Juni 2026, dan tidak berlaku surut.
Rentang tarif royalti dengan perubahan terbesar adalah timah, dari berkisar 3%–10% menjadi 5%–20%.
Sementara itu, konsentrat tembaga naik dari 7%–10% menjadi 9%–13%, katoda tembaga dari 4%–7% menjadi 7%–10%, emas dari 7%–16% menjadi 14%–20%, perak dari flat 5% menjadi berkisar 5%–8%. Tarif royalti untuk nikel tidak berubah di kisaran 14%–19%, tetapi interval harga mineral acuannya berubah.
Kementerian ESDM juga akan menyesuaikan klaster komoditas kobalt sebagai produk ikutan dalam nickel matte, yang nantinya akan dikenakan tarif royalti terhadap kandungan logam nikel dan logam kobalt.
Secara historis, menurut tim analis Stockbit, setiap berita kenaikan tarif selalu diikuti dengan reaksi negatif pasar dalam jangka pendek.
Mengacu pada daftar kenaikan royalti di atas dan melihat harga komoditas saat ini, timah merupakan komoditas dengan proposal kenaikan royalti tertinggi — yakni, sebesar +10% dibandingkan tarif sebelumnya — disusul emas dan tembaga masing–masing sebesar +3%, perak sebesar +2%, dan bijih nikel sebesar +1%.
"Oleh karena itu, PT Timah Tbk. (TINS) menjadi emiten yang paling terdampak dengan kebijakan royalti baru ini, sedangkan efek ke emiten nikel yang paling minimum, terutama emiten nikel dengan bisnis yang terdiversifikasi seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM)," paparnya dalam publikasi riset.
Selain kenaikan royalti, sektor minerba — khususnya nikel dan batu bara — masih akan dibayangi oleh wacana pemberlakuan bea ekspor dan windfall tax yang saat ini sedang didiskusikan oleh Kementerian Keuangan. Oleh karena itu, analis menilai bahwa pergerakan sektor minerba secara keseluruhan masih akan volatil dalam jangka pendek.
Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap rencana kenaikan tarif royalti sektor logam dan tekanan arus modal asing.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (8/5/2026), IHSG ditutup turun 2,86% atau 204,92 poin ke level 6.969,39. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 6.969 hingga 7.186.
Dari sisi sektoral, indeks saham sektor energi turun 4,59%, material dasar anjlok 7,80%, dan sektor industri terkoreksi 4,55%.
Managing Director Research and Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan tekanan terhadap pasar saham domestik meningkat setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar uji publik terkait skema baru tarif royalti progresif.
"Indeks sektor basic materials (material dasar) langsung melemah pada sesi kedua perdagangan setelah agenda uji publik tersebut berlangsung," ujar Harry, Jumat (8/5/2026).
Saham-saham emiten logam yang bergerak di komoditas nikel, timah, tembaga, emas, dan perak diperkirakan akan menghadapi tekanan akibat kenaikan tarif royalti. Kebijakan tersebut berisiko menekan profitabilitas emiten tambang logam dalam jangka menengah.
Dia memperkirakan laba PT Timah Tbk. (TINS) pada 2026 dapat turun hingga 20% apabila tarif royalti baru resmi diterapkan. Sentimen tersebut turut memicu koreksi tajam saham emiten timah pelat merah itu.
“Berdasarkan estimasi kami, laba TINS tahun 2026 dapat berkurang sekitar 20% apabila tarif royalti baru diterapkan. Kondisi itu turut menyebabkan harga saham TINS turun 14,88% pada perdagangan hari ini,” ujarnya.
Selain isu kenaikan royalti, Harry menambahkan sentimen pasar juga dibebani oleh penurunan cadangan devisa Indonesia sebesar US$2 miliar serta potensi arus keluar dana asing terkait penyesuaian indeks MSCI yang diperkirakan mencapai hampir Rp30 triliun.
Menurutnya, kombinasi faktor-faktor tersebut semakin menggerus sentimen investor di pasar domestik.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
IHSG anjlok 2,86% karena kekhawatiran kenaikan tarif royalti logam dan arus modal asing keluar. Sektor energi, material dasar, dan industri tertekan. [509] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap rencana kenaikan tarif royalti sektor logam dan tekanan arus modal asing.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 2,86% atau 204,92 poin ke level 6.969,39. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 6.969 hingga 7.186.
Dari sisi sektoral, indeks saham sektor energi turun 4,59%, material dasar anjlok 7,80%, dan sektor industri terkoreksi 4,55%.
Managing Director Research and Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan tekanan terhadap pasar saham domestik meningkat setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar uji publik terkait skema baru tarif royalti progresif.
"Indeks sektor basic materials (material dasar) langsung melemah pada sesi kedua perdagangan setelah agenda uji publik tersebut berlangsung," ujar Harry, Jumat (8/5/2026).
Saham-saham emiten logam yang bergerak di komoditas nikel, timah, tembaga, emas, dan perak diperkirakan akan menghadapi tekanan akibat kenaikan tarif royalti. Kebijakan tersebut berisiko menekan profitabilitas emiten tambang logam dalam jangka menengah.
Dia memperkirakan laba PT Timah Tbk. (TINS) pada 2026 dapat turun hingga 20% apabila tarif royalti baru resmi diterapkan. Sentimen tersebut turut memicu koreksi tajam saham emiten timah pelat merah itu.
“Berdasarkan estimasi kami, laba TINS tahun 2026 dapat berkurang sekitar 20% apabila tarif royalti baru diterapkan. Kondisi itu turut menyebabkan harga saham TINS turun 14,88% pada perdagangan hari ini,” ujarnya.
Selain isu kenaikan royalti, Harry menambahkan sentimen pasar juga dibebani oleh penurunan cadangan devisa Indonesia sebesar US$2 miliar serta potensi arus keluar dana asing terkait penyesuaian indeks MSCI yang diperkirakan mencapai hampir Rp30 triliun.
Menurutnya, kombinasi faktor-faktor tersebut semakin menggerus sentimen investor di pasar domestik.
Bursa Asia
Sementara itu, Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan pelemahan IHSG sejalan dengan bursa regional Asia yang bergerak di zona merah. Sentimen utama dipicu memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz.
“Konflik di jalur strategis tersebut memicu kekhawatiran terhadap risiko geopolitik. Tiga kapal perusak Angkatan Laut AS dilaporkan mencegat serangan Iran dan melakukan serangan balasan,” tulis riset tersebut, Jumat (8/5/2026).
Selain faktor Timur Tengah, pelaku pasar juga mencermati ketidakpastian hubungan AS-China. Meski Presiden Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping pada pekan depan, pejabat China dikabarkan khawatir untuk menggelar pembicaraan sebelum konflik AS-Iran mereda.
Dari dalam negeri, sentimen investor diperberat oleh rilis data cadangan devisa April yang mengalami penurunan. Kondisi tersebut terjadi di tengah tren pelemahan rupiah yang masih berlanjut terhadap dolar AS.
Berdasarkan data BEI, sebanyak 575 saham mengalami koreksi, sementara hanya 133 saham yang menguat, dan 108 saham stagnan. Adapun kapitalisasi pasar tercatat berada di posisi Rp12.431 triliun.
Pelemahan indeks hari ini terutama diseret oleh koreksi tajam sejumlah saham big caps. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) memimpin penurunan dengan koreksi sebesar 14,94% ke level Rp1.310 per saham.
Langkah serupa diikuti oleh saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang merosot 11,83% ke posisi Rp4.100, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang melemah 9,27% menjadi Rp4.210 per saham.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56