Bisnis.com, JAKARTA – Akumulasi Bitcoin (BTC) oleh investor institusi raksasa, MicroStrategy dan Metaplanet, di ujung 2025 ini dinilai akan menjadi katalis positif pasar yang bisa mempengaruhi persepsi investor ritel maupun institusi dengan kelas lebih kecil.
Apalagi, pembelian tersebut dilakukan di harga tinggi, saat BTC berada di level US$100.000.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai bahwa akumulasi yang dilakukan oleh MicroStrategy dan perusahaan lain yang mengikuti jejak serupa, dapat berfungsi sebagai pemicu signifikan bagi aliran modal baru, baik dari institusi maupun investor ritel.
Alasan yang pertama, Fyqieh menilai tindakan mereka dianggap sebagai semacam afirmasi bahwa Bitcoin sebagai aset cadangan korporasi, bukan sekadar instrumen spekulatif, sehingga perusahaan publik lain dan manajer aset besar mungkin terdorong untuk ikut membeli, baik lewat pembelian langsung maupun lewat produk-produk investasi seperti ETF atau saham perusahaan kripto.
"Kedua, akumulasi tersebut membantu menciptakan basis permintaan nyata dan jangka panjang, dengan pengurangan suplai aktif di pasar spot, karena Bitcoin disimpan di neraca perusahaan, yang pada gilirannya dapat menahan atau mendorong harga naik ketika permintaan meningkat," ujarnya kepada Bisnis, dikutip Senin (1/12/2025).
Berikutnya, dari sisi psikologis dan strategis, Fyqieh menilai akumulasi besar ini memperkuat persepsi bahwa Bitcoin adalah safe-haven modern terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi, terutama di tengah gejolak pasar global.
Adapun, melansir data Ajaib Kripto, perusahaan investasi Bitcoin besutan Michael Saylor, MicroStrategy Incorporated dilaporkan telah melakukan pembelian tambahan 196 BTC senilai US$22,1 juta dengan harga rata-rata US$113.048 per koin.
Dengan akuisisi terbaru itu, Strategy mengantongi total 640.031 BTC dengan nilai total sekitar US$47,35 miliar dan semakin menegaskan posisi mereka sebagai perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia.
Sementara itu, perusahaan investasi publik asal Jepang, Metaplanet juga dilaporkan mengakuisisi 5.268 BTC senilai US$615,67 juta dengan harga rata-rata $116.870 per koin. Dengan akuisisi ini, total kepemilikan Metaplanet mencapai 30.823 BTC yang menjadikannya perusahaan publik dengan cadangan Bitcoin terbesar keempat di dunia.
"Karena pemain besar rela membeli di harga tinggi, banyak investor kecil cenderung menafsirkan ini sebagai sinyal kepercayaan jangka panjang sehingga mendorong masuknya dana ritel," ujar Fyqieh.
Fyqieh menambahkan, fenomena yang juga perlu diperhatikan pasar adalah model yang dilakukan MicroStrategy yang menggunakan pasar saham/ekuitas untuk mendanai pembelian Bitcoin telah menjadi blueprint bagi adopsi institusional lebih luas.
Artinya, ini bukan hanya efek satu perusahaan saja, melainkan potensi gelombang adopsi korporasi dan institusi besar lainnya yang bisa memperkuat stabilitas dan legitimasi Bitcoin di sistem keuangan global.
Sementara itu, Analyst Reku Fahmi Almuttaqin menilai tren akumulasi Bitcoin dan ETH oleh investor institusi telah menjadi salah satu katalis positif yang cukup kuat di sepanjang tahun ini, termasuk memicu berkembangnya narasi Digital Asset Treasury DATs, alias strategi utama korporasi untuk membeli dan menyimpan aset kripto di neraca keuangan mereka sebagai cadangan, bukan sekadar investasi sampingan.
Narasi tersebut menurutnya membuat semakin banyak perusahaan tradisional mengadopsi strategi serupa dengan mengintegrasikan aset kripto di dalam treasury mereka.
Tren tersebut menurutnya juga dibarengi dengan faktor tantangan berupa pelemahan harga dan implikasinya terhadap stabilitas neraca perusahaan, sehingga masih menjadi kendala untuk adopsi yang lebih luas lagi
"Namun terlepas dari itu, dengan ETH dan BTC menjadi aset yang semakin bernilai dengan potensi yield yang menarik seperti di ekosistem DeFi, aliran modal baru dapat berlanjut dan memperkuat posisi BTC dan ETH sebagai aset investasi strategis," ujar Fahmi.
Sementara itu, Co-founder dari Cryptowatch dan pengelola channel Duit Pintar Christopher Tahir menilai akumulasi Bitcoin oleh investor besar seperti MicroStrategy memang bisa menjadi katalis positif di pasar, namun pengaruhnya tidak secara langsung karena transaksi biasanya berlangsung melalui over the counter (OTC), alias transaksi jual beli di luar bursa. Biasanya, transaksi ini dilakukan langsung antara pembeli dan penjual melalui broker atau desk OTC.
"Dampak kepada harga tidak akan banyak, atau pun bahkan tidak ada. Seharusnya pergerakan whales tidak akan terlalu besar [mempengaruhi pasar], dikarenakan biasanya mereka akan melakukan transaksi melalui OTC," ujar Christopher.
Dengan pertimbangan tersebut, Christopher menyarankan bagi investor apabila ingin investasi jangka panjang dapat menggunakan strategi dollar cost averaging (DCA) alias strategi investasi dengan membeli aset kripto secara rutin dengan nominal pembelian yang sama tanpa peduli harga sedang naik atau turun. Sedangkan, untuk trading jangka pendek dia menyarankan dapat dilakukan dengan pengelolaan risiko yang ketat.
Menilik pergerakan Bitcoin di pasar, harga BTC yang sempat merosot ke level US$87.000 sempat pulih ke level US$90.000 menyusul aksi akumulasi yang dilakukan whales institusi. Melansir coinmarketcap pada pada Jumat (28/11/2025), pukul 11.07 WIB, harga BTC mulai menanjak ke US$91.158,69. Level harga ini mencerminkan penguatan 0,08% dalam 24 jam terakhir, atau 6,43% dalam sepekan terakhir.
Mengacu harga terbaru, hari ini Senin (1/12/2025) pukul 11.32 WIB harga BTC kembali jatuh ke level US$85.826,66, mencerminkan penurunan 5,59% dalam 24 jam terakhir atau 1,05% dalam tujuh hari terakhir.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.