Bisnis.com, JAKARTA — Laju pergerakan Indeks Bisnis-27 ditutup menguat pada perdagangan hari ini Rabu (11/2/2026) sejalan dengan penguatan oleh mayoritas konstituen seperti BRPT dan MAPI.
Berdasarkan data IDX Mobile, indeks kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia tersebut ditutup naik 6,75 basis point atau 1,26% ke level 543,98. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak pada rentang 534,23 hingga 543,98.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp11,52 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 17,41 miliar saham. Mayoritas saham konstituen atau sebanyak 17 saham menghijau, 9 saham memerah, dan 1 saham stagnan, mencerminkan sentimen pasar yang cenderung positif namun masih selektif.
Saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) menjadi motor penguatan setelah melesat 12,32% ke level Rp2.280. Kenaikan juga ditopang saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) yang naik 10,83% ke Rp1.330, serta PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang menguat 9,68% ke Rp272.
Selain itu, saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) turut naik 7,87% ke Rp6.850 dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) menguat 6,02% ke Rp1.410.
Di sisi lain, sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penekan indeks. Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) terkoreksi 2,9% ke Rp6.700. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melemah 1,47% ke Rp5.025, sementara PT Astra International Tbk. (ASII) turun 1,46% ke Rp6.750.
Saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) juga melemah 1,16% ke Rp2.550 dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) turun 1,03% ke Rp1.930.
Tim Riset Sinarmas Sekuritas mencatat sentimen domestik berasal dari penjualan ritel Indonesia yang tumbuh 3,5% year on year pada Desember 2025, melambat dibandingkan November yang sebesar 6,3%.
Pelaku pasar juga menantikan hasil pertemuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dengan MSCI terkait perbaikan dan transparansi data sebagai tindak lanjut pertemuan sebelumnya.
Dari eksternal, sentimen global datang dari rilis data ekonomi Amerika Serikat. Penjualan ritel AS tercatat stagnan pada Desember 2025 setelah meningkat 0,6% pada November, serta berada di bawah ekspektasi pasar. Investor juga menanti rilis data ketenagakerjaan AS yang sempat tertunda pada pekan lalu.
--
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.