Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten sektor konsumer yang terdampak boikot seperti pengelola jejaring restoran cepat saji KFC, PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST) hingga PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), mulai menatap pemulihan usai kinerja bisnis jeblok.
Adapun, boikot beberapa waktu terakhir menyasar produk KFC milik FAST seiring dengan konflik di Timur Tengah. KFC dinilai oleh masyarakat mendukung Israel dan memicu boikot global yang memengaruhi kinerja bisnisnya di Indonesia.
Selain KFC, brand dari Amerika Serikat lainnya juga kena boikot seperti Pizza Hut (PT Sarimelati Kencana Tbk.) dan Starbucks (PT MAP Boga Adiperkasa Tbk.).
Seiring berjalannya waktu, aksi boikot ini terpantau mengendur dan emiten pun kembali bisa bernapas. Seiring dengan perbaikan kinerja keuangan dan ragam siasat pemulihan, gerak saham emiten-emiten terdampak boikot itu pun kinclong.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham PT MAP Boga Adiperkasa Tbk. (MAPB) menguat 35,83% ytd ke level Rp1.630 per lembar. Harga saham FAST juga naik 71,23% ytd ke level Rp500 per lembar. Bahkan, saham PT Sarimelati Kencana Tbk. (PZZA) menguat dua kali lipat atau 100% ke level Rp226 per lembar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta mengatakan penguatan kinerja saham emiten-emiten terdampak boikot itu terjadi seiring dengan aksi boikot yang mulai mereda. Konflik di Timur Tengah yang menyulut aksi boikot pun mulai landai. Selain itu, strategi yang dijalankan sejumlah emiten terdampak boikot pun diapresiasi pasar.
“Efektivitas strategi penghematan dan optimalisai portofolio yang dilakukan UNVR membuat margin keuntungan tetap terjaga di tengah fluktuasi ekonomi,” kata Nafan kepada Bisnis pada Senin (1/12/2025).
Dia pun merekomendasikan add untuk UNVR dengan target harga saham di level Rp2.930 per lembar. Sementara, untuk PZZA, MAPB, dan FAST dia menyarankan untuk wait and see.
Sebelumnya, Kiwoom Sekuritas belum memberikan rekomendasi terhadap sejumlah emiten terdampak boikot. Meski sentimen boikot tak lagi sekencang tahun lalu, sejumlah tantangan masih dinilai membayangi kinerja emiten hingga akhir tahun.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menjelaskan bahwa kendati tekanan sentimen boikot mulai mereda, daya beli masyarakat Indonesia yang masih lemah serta minimnya katalis menjadi hambatan utama pemulihan.
“Dahulu, Unilever kita tahunya saham defensif. Sekarang sudah banyak saingannya dan kena boikot pula. Jadi itu sangat terasa,” kata Liza.
Menurut Liza, langkah rebranding menjadi strategi penting bagi emiten untuk memperbaiki citra dan kembali menarik minat konsumen. Dia mencontohkan upaya restrukturisasi kepemilikan dan rebranding di FAST yang kini mendapat dukungan modal dari anak konglomerat Haji Isam.
“Jadi dengan cara-cara rebranding seperti itu, mungkin lebih bisa menarik hati konsumer Indonesia,” tegasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.