Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan kinerja saham lapis dua yang tercermin dalam indeks SMC-Liquid sepanjang tahun ini jauh meninggalkan saham-saham blue chips di LQ45.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menuturkan kedua indeks saham tersebut masing-masing punya keunggulan. Menurutnya, saham SMC Liquid yang memiliki fundamental positif cenderung lebih menarik saat ini, terutama bagi investor yang mencari peluang pertumbuhan agresif. Namun, pilihan tetap bergantung pada profil risiko.
"Jika dibandingkan, LQ45 unggul dalam stability, likuiditas, dan kepastian dividen, namun kurang menarik dari sisi pertumbuhan [harga] karena potensi capital gain yang terbatas. Sedangkan, SMC Liquid fundamental kuat unggul pada potensi pertumbuhan dan peluang cuan lebih besar, namun memiliki risiko volatilitas dan likuiditas yang lebih menantang dibanding saham-saham besar," ujarnya kepada Bisnis, Senin (24/11/2025).
Berdasarkan data perdagangan sampai Jumat (21/11/2025), indeks LQ45 secara year to date (YtD) naik 2,30%. Sedangkan jika ditarik dalam 12 bulan terakhir, saham keping biru itu mengalami koreksi 3,37%.
Sedangkan dalam periode lebih singkat sebulan terakhir, indeks LQ45 melesat 6,20%. Sedangkan, SMC Liquid menguat 12,42% secara YtD, atau 10,52% dalam 12 bulan terakhir.
Hari menjabarka perbedaan gerak kinerja LQ45 dan SMC Liquid tahun ini terutama dipengaruhi oleh karakteristik masing-masing indeks. LQ45 yang didominasi saham blue chip cenderung bergerak defensif, sehingga kenaikannya terbatas di tengah perlambatan ekonomi dan tekanan global.
Di sisi lain, Hari menjelaskan bahwa indeks SMC Liquid yang diisi emiten mid-cap lebih agile dan agresif berekspansi, sehingga lebih cepat merespons katalis seperti perbaikan kinerja fundamental, aksi korporasi, dan rotasi sektor.
"Alhasil, kenaikan SMC lebih menonjol sepanjang tahun. Untuk prospek tahun depan, LQ45 diperkirakan lebih stabil dengan potensi kenaikan bertahap seiring proyeksi pemulihan ekonomi dan kelanjutan pembagian dividen," ujarnya.
Untuk rekomendasi bagi para investor, Hari menyarankan agar dapat menyeimbangkan peluang pertumbuhan dan stabilitas. Menurutnya, portofolio bisa dibagi antara LQ45 yang konsisten menebar dividen dengan SMC Liquid yang bertenaga fundamental.
Dengan demikian, saham-saham LQ45 akan berperan sebagai penopang stabilitas dengan dividen rutin dan volatilitas rendah, sementara SMC Liquid menjadi mesin pertumbuhan dengan potensi capital gain lebih besar.
"Kombinasi keduanya membuat portofolio tetap defensif saat pasar melemah, namun tetap agresif menangkap peluang saat momentum bullish muncul. Dengan pendekatan ini, investor tidak hanya mengejar cuan, tetapi juga menjaga keseimbangan risiko secara lebih terukur," pungkasnya.
Adapun, beberapa saham konstituen LQ45 yang menunjukkan penguatan seiring dengan komitmen pembagian dividen antara lain adalah BBCA dan AADI.
Manajemen PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) pada awal bulan lalu menyatakan pembagian dividen interim telah menjadi rutinitas tahunan perseroan tiap tahun, yang biasanya dilakukan pada bulan Desember. Akhir 2024 lalu, BCA membagikan dividen interim dengan rasio pembayaran (dividend payout/DPR) mencapai sekitar 68%, yang tergolong tinggi di industri perbankan.
Sepanjang Januari-September 2025, BBCA membukukan laba bersih sebesar Rp43,4 triliun, tumbuh 5,7% secara tahunan (year on year/YoY) dibanding Rp41,1 triliun pada periode yang sama 2024.
Sedangkan di lantai bursa, pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (24/11) BBCA menguat 0,89% ke Rp8.475. Level harga ini mencerminkan koreksi 12,40% secara YtD, namun mengalami penguatan 1,80% dalam sebulan terakhir.
Selain BBCA, ada pula PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) yang siap menebar dividen interim tahun buku 2025 sebesar US$250 juta atau setara Rp3,9 triliun (kurs Rp15.600 per dolar AS).
Dividen interim tersebut diambil dari laba bersih yang dicatat perseroan dalam sembilan bulan pertama 2025. Hingga kuartal III/2025, AADI membukukan laba bersih US$587,32 juta, turun 45,35% YoY dibanding US$1,07 miliar pada periode yang sama 2024.
Pada penutupan pasar hari ini, saham AADI menguat 1,31% ke Rp7.750. Level harga saat ini menunjukkan koreksi 8,55% secara YtD, namun mencerminkan peningkatan 13,5% dalam tiga bulan terakhir.
Sementara itu, saham konstituen SMC Liquid yang menunjukkan lesatan harga sejalan dengan kinerja fundamental salah satunya adalah PT Petrosea Tbk. (PTRO). Harga PTRO di penutupan hari ini menguat 9,78% ke Rp9.825. Level harga ini mencerminkan penguatan 35,52% dalam sebulan terakhir, atau melesat 255,66% sejak awal tahun.
Dari sisi fundamental, emiten milik Prajogo Pangestu tersebut dalam Januari-September 2025 membukukan laba bersih US$6,93 juta atau setara Rp115,7 miliar (kurs Rp16.692 per dolar AS). Laba bersih tersebut melonjak 141,88% dibanding US$2,86 juta pada periode yang sama 2024.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.