Bisnis.com, JAKARTA— PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (Surge) dan PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MoraRepublic) menggunakan cara yang berbeda untuk mengusai pasar internet tetap nirkabel (fixed wireless acces/FWA) 5G di Tanah Air. Surge nampak lebih agresif. Sementara MoraRepublic terus memperkuat infrastruktur dasar.
WIFI mencatat jumlah pelanggan layanan 5G FWA telah melampaui 400.000 hingga saat ini. Angka tersebut berkontribusi sekitar 21% terhadap total basis pelanggan grup yang mencapai sekitar 1,7 juta pelanggan per Maret 2026.
Director PT Solusi Sinergi Digital Tbk. Shannedy Ong mengatakan perusahaan melihat FWA 5G sebagai salah satu peluang monetisasi jaringan 5G yang paling menjanjikan. Menurutnya, layanan tersebut memiliki keunggulan karena dapat diimplementasikan lebih cepat dibandingkan jaringan fiber yang membutuhkan pembangunan kabel hingga ke rumah pelanggan.
“Dibandingkan FTTH [Fiber-to-the-Home] 5G FWA memiliki speed-to-market yang jauh lebih cepat karena tidak memerlukan pembangunan jaringan fiber hingga ke rumah pelanggan. Hal ini membuat proses implementasi lebih sederhana, lebih cepat, dan lebih efisien, terutama dari sisi perizinan dan pembangunan last mile,” kata Shannedy kepada Bisnis pada Jumat (26/6/2026).
Dengan karakteristik tersebut, lanjut Shannedy, 5G FWA menjadi salah satu motor utama percepatan ekspansi pelanggan dan pertumbuhan bisnis perusahaan, khususnya di wilayah yang membutuhkan akses fixed broadband berkualitas namun belum ekonomis untuk dilayani dengan jaringan fiber.
Shannedy menambahkan strategi pengembangan perusahaan ke depan akan difokuskan untuk memperluas penetrasi ke wilayah greenfield maupun brownfield yang belum terjangkau jaringan fiber atau masih memiliki keterbatasan akses fixed broadband berkualitas. Kedua, mengembangkan paket layanan yang semakin kompetitif melalui bundling dengan
berbagai layanan digital dan produk pendukung lainnya, serta menghadirkan kualitas layanan (SLA) yang mendekati 100% availability agar pengalaman pelanggan semakin baik.
“Selain itu, kami akan terus mengoptimalkan sinergi antara jaringan fiber backbone dan 5G FWA sehingga dapat menghadirkan layanan fixed broadband yang cepat, andal, dan efisien, sekaligus memperluas jangkauan pasar serta meningkatkan monetisasi jaringan yang telah dibangun,” kata Shannedy.
Sementara itu, Chief Commercial Officer PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MoraRepublic) Iman Syahrizal mengatakan perusahaan juga melihat respons pasar yang positif terhadap layanan MyRepublic Air sejak diluncurkan pada April 2026. Menurutnya, layanan tersebut menjadi alternatif internet rumah yang praktis karena tidak bergantung pada ketersediaan jaringan fiber di lokasi pelanggan.
Saat ini fokus utama MoraRepublic adalah membangun fondasi layanan FWA 5G yang kuat melalui penguatan infrastruktur, perluasan cakupan jaringan, serta memastikan kualitas layanan yang andal dan konsisten bagi pelanggan.
“Kami meyakini bahwa kesiapan jaringan merupakan faktor kunci untuk mendukung pertumbuhan pelanggan yang berkelanjutan ke depan,” kata Iman saat dihubungi Bisnis pada Jumat (26/6/2026).
Iman menambahkan minat masyarakat terhadap layanan FWA meningkat dalam satu hingga dua tahun terakhir, didorong kebutuhan internet rumah yang semakin tinggi, penggunaan banyak perangkat secara bersamaan, serta proses berlangganan yang lebih mudah. MoraRepublic pun menargetkan pengembangan layanan FWA di 180 kota dan kabupaten sepanjang 2026—2030. Hingga April 2026, perusahaan telah mengoperasikan lebih dari 200 on-air sites FWA yang tersebar di 90 kota dan kabupaten di Indonesia.
Cermat Pakai Frekuensi
Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sarwoto Atmosutarno menilai FWA merupakan salah satu implementasi utama jaringan 5G yang dapat menjadi solusi komplementer bagi pelanggan yang belum terjangkau layanan FTTH. Namun, dia mengingatkan pengembangan layanan tersebut harus diimbangi peningkatan kapasitas gateway dan core network agar kualitas layanan tetap terjaga.
“Untuk menjadi model bisnis yang berkelanjutan pemerintah mesti cermat merencanakan alokasi frekuensi untuk FBB 5G agar lebar bandnya optimal, baik di low, middle dan high band,” kata Sarwoto.
Dia menjelaskan, di banyak negara pita frekuensi high band digunakan untuk FWA 5G dengan biaya akuisisi yang relatif rendah sehingga operator dapat menghadirkan layanan yang lebih kompetitif. Saat ini, Mastel juga tengah mengkaji skema tersebut bersama regulator dan pelaku industri dengan mempertimbangkan kematangan ekosistemnya.
Lebih lanjut, Sarwoto mengatakan salah satu use case utama 5G memang untuk Fixed Broadband (FBB). Menurutnya, FBB dapat menjadi solusi pelengkap bagi masyarakat yang belum terjangkau FTTH. Namun, tanpa peningkatan kapasitas gateway dan core network, kualitas layanan 5G berpotensi mengalami penurunan yang signifikan di sisi pengguna.
“5G yang secara teoritis bisa 1GB/s akan sangat menurun drastis di sisi users bisa dibawah 200 mbps,” katanya.
Prospek FWA juga sejalan dengan tren global. Ericsson Mobility Report edisi Juni 2026 memperkirakan kontribusi trafik FWA terhadap total trafik data seluler dunia akan meningkat dari sekitar 27% pada 2025 menjadi lebih dari 36% pada 2031. Selama periode tersebut, trafik FWA diproyeksikan melonjak dari sekitar 55 exabyte (EB) menjadi 187 EB per bulan atau tumbuh sekitar 240%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan trafik data seluler non-FWA.
Laporan tersebut juga memperkirakan porsi trafik data yang berjalan di jaringan 5G akan meningkat dari 48% pada 2025 menjadi 85% pada 2031. Peningkatan itu didorong oleh semakin luasnya penggunaan aplikasi berbasis generative artificial intelligence (GenAI), perangkat extended reality (XR), layanan video streaming, serta ekspansi FWA di wilayah yang belum terjangkau jaringan broadband berbasis fiber.