Bisnis.com, JAKARTA — Harga tembaga melesat mendekati rekor US$13.000 per ton di London Metal Exchange (LME). Reli akhir tahun yang mengejutkan pasar ini didorong oleh kekhawatiran pasokan yang kian mengetat.
Berdasarkan data Bloomberg, harga tembaga melonjak hingga 6,6% menjadi US$12.960 per ton di LME setelah perdagangan kembali dibuka usai libur umum dua hari di Inggris.
Pada pukul 11.38 waktu Shanghai, tembaga di LME diperdagangkan di level US$12.919,50 per ton. Sementara itu harga kontrak berjangka tembaga naik 1,2% menjadi US$5,908 per pon di di Comex New York, setelah melonjak 5% pada akhir pekan lalu ketika LME tidak beroperasi.
Di sepanjang Desember ini, harga logam yang dibutuhkan untuk industri energi terbarukan dan jaringan listrik ini sudah melesat lebih dari 15%. Kenaikan harga tembaga didorong oleh spekulasi investor terkait dengan lonjakan pengiriman tembaga ke AS menjelang kemungkinan penerapan tarif impor akan memaksa pembeli di wilayah lain membayar lebih mahal.
Lonjakan harga pada akhir tahun ini akan menutup periode yang luar biasa bagi tembaga. Harga tembaga tahun ini digerakkan oleh sejumlah sentimen seperti gangguan produksi tambang yang tidak direncanakan, ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump, serta tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pabrik peleburan di seluruh dunia.
Meskipun demikian, terdapat peringatan bahwa harga telah naik terlalu tinggi. Namun, gelombang sentimen positif di pasar logam mulia kemungkinan turut merembet ke pasar tembaga.
Kepala Riset Logam Dasar Minmetals Futures Co. Wu Kunjin mengatakan saat ini pergerakan harga tembaga sepertinya masih didorong oleh soal ekspektasi.
"Sejumlah pabrik fabrikasi di China yang merupakan pembeli tembaga dan sangat sensitif terhadap harga, telah mengurangi produksi atau bahkan menghentikan operasionalnya setelah reli harga terbaru," imbuh Wu, dikutip dari Bloomberg pada Senin (29/12/2025).
Lebih lanjut, Trump dijadwalkan akan memutuskan penerapan tarif impor untuk tembaga olahan pada pertengahan tahun depan. Kondisi ini mendorong para pedagang besar mengirimkan tembaga dalam jumlah besar ke AS sebelum tarif diterapkan, sehingga memangkas persediaan di wilayah lain di dunia.