Bisnis.com, JAKARTA—Emiten teknologi PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) atau Surge mencatatkan lonjakan pendapatan dan laba per September 2025.
Dalam laporan keuangan yang dirilis Jumat (12/12), pendapatan WIFI mencapai Rp1,01 triliun, naik 101% dari Rp504,95 miliar per September 2024. Perincian pendapatan dari segmen telekomunikasi mencapai Rp739,44 miliar, menyumbang 72,77% dari total pendapatan (sebelum potongan harga).
Pendapatan dari segmen ini juga menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sisanya berasal dari segmen periklanan Rp276,67 miliar atau setara 27,23%.
Laba neto periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih melonjak 71,03% ke Rp260,09 miliar dari sebelumnya hanya Rp152,07 miliar. Dengan demikian maka laba per saham dasar WIFI per September 2025 mencapai Rp105,54 per lembar, naik dari Rp64,54 per saham dasar per September 2024.
Total aset Surge melonjak sebesar 331,32% menjadi Rp 12,54 triliun pada 30 September 2025, naik signifikan dari periode 31 Desember 2024 yang hanya Rp2,90 triliun. Ekuitas Grup mengalami kenaikan signifikan sebesar 749,90% dari Rp 969,84 miliar menjadi Rp 8,18 triliun. Peningkatan ini menyebabkan proporsi ekuitas terhadap total aset mencapai 65,28%, menandakan struktur permodalan yang kuat.
Total liabilitas juga meningkat sebesar 124,69% menjadi Rp 4,35 triliun. Namun, porsi liabilitas dalam pendanaan aset menjadi 34,72%. Rasio pengungkit (gearing ratio) per 30 September 2025 berada pada level negatif, yaitu (0,17), menunjukkan posisi liabilitas neto yang lebih rendah dibandingkan kas dan setara kas.
SAHAM WIFI
Penurunan harga saham WIFI telah menjadi sorotan. Namun, Direksi WIFI menekankan bahwa koreksi ini tidak boleh disalahartikan sebagai penurunan fundamental bisnis, melainkan sebagai penyesuaian pasar sementara akibat perubahan struktur modal yang mendukung fase ekspansi perusahaan yang sangat agresif.
Lonjakan beban bunga disebabkan investasi di depan atau capex. Utang obligasi WIFI yang melonjak signifikan dari Rp600 miliar menjadi Rp2,5 triliun. Dana segar ini didapatkan sepenuhnya untuk membiayai ekspansi, membuat total aset perusahaan meroket hingga Rp12,5 triliun.
"Meningkatnya beban bunga yang tercermin dalam laporan laba rugi kuartal III/2025 memang menekan laba bersih kami dalam jangka pendek. Namun, perlu ditekankan bahwa ini adalah 'biaya pertumbuhan' (cost of growth), bukan kerugian. Dana Rp2,5 triliun ini adalah modal kerja produktif yang kami tanamkan di depan untuk mematangkan infrastruktur jaringan baru. Pasar bereaksi terhadap tekanan laba sesaat ini, tetapi kami yakin investasi ini adalah pondasi untuk 'panen raya' pendapatan di kuartal-kuartal mendatang," tegas Direktur WIFI Shannedy Ong, dalam keterangan resminya, Jumat (12/12).
Kekuatan fundamental WIFI semakin teruji dengan masuknya raksasa telekomunikasi Jepang, NTT East, sebagai pemegang saham di anak usaha (IJE) pada Juli 2025. Kemitraan strategis dengan NTT East adalah validasi jangka panjang terhadap potensi dan kualitas aset WIFI.
“Masuknya mereka baru terjadi di awal kuartal III/2025. Sinergi operasional, transfer teknologi, dan efisiensi jaringan tidak terjadi dalam semalam. Pasar belum sepenuhnya menghargai valuasi dari kemitraan ini karena dampaknya ke bottom line membutuhkan waktu inkubasi 6 hingga 12 bulan. Ini adalah katalisator pertumbuhan masa depan, bukan sekadar suntikan dana sesaat," imbuhnya.
Dia mengajak investor untuk melihat gambaran besar. Koreksi harga saat ini mencerminkan sikap wait-and-see investor yang menunggu bukti bahwa beban bunga besar dari obligasi dapat dikonversi menjadi kenaikan pendapatan dan ROE (Return on Equity) yang sepadan.
"Koreksi saham WIFI saat ini adalah fenomena yang wajar dan jangka pendek, karena kami sedang berada di 'fase menanam' yang sangat agresif. Kami telah mengamankan pendanaan besar, aset kami tumbuh 4 kali lipat, dan kami didukung mitra global sekelas NTT East. Wajar jika profitabilitas sedikit tertekan beban bunga sebelum 'panen raya' dari kapasitas jaringan baru ini dimulai. Kami meminta investor untuk fokus pada fundamental yang semakin kuat dan prospek jangka panjang perusahaan," tuturnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.