Bisnis.com, JAKARTA — Platform media sosial video TikTok milik ByteDance Ltd. berencana menginvestasikan sekitar US$37,7 miliar atau sekitar Rp625,9 triliun untuk membangun pusat data (data center) di Brasil. Langkah ini menandai proyek pertama perusahaan di kawasan Amerika Latin.
Melansir Bloomberg pada Kamis (4/12/2025), Head of Public Policy TikTok Brasil Monica Guise menyampaikan pihaknya akan menggandeng pengembang pusat data Omnia serta Casa dos Ventos, salah satu penyedia energi terbarukan terbesar di Brasil, untuk membangun fasilitas tersebut di negara bagian Ceará, wilayah timur laut Brasil.
Proyek tersebut akan dikembangkan di dekat pelabuhan industri Pecém dan sepenuhnya mengandalkan pasokan energi bersih dari pembangkit tenaga angin.
“Ini merupakan investasi bersejarah bagi TikTok di Brasil,” kata Guise dalam sebuah acara di Ceará yang turut dihadiri Presiden Luiz Inacio Lula da Silva.
Menurutnya, proyek tersebut mencerminkan komitmen perusahaan terhadap Brasil sebagai salah satu pasar digital paling dinamis di dunia.
Brasil dinilai sebagai negara dengan posisi terbaik di kawasan Amerika Latin untuk menangkap lonjakan investasi pusat data global, khususnya guna mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI). Keunggulan itu ditopang oleh ketersediaan energi terbarukan yang melimpah, jaringan listrik nasional yang saling terkoneksi, serta infrastruktur serat optik berkecepatan tinggi terbesar di kawasan.
Dalam konteks lebih luas, China saat ini merupakan mitra dagang terbesar Brasil dan tengah berupaya memperluas hubungan ekonomi serta politik di kawasan Amerika Latin, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
TikTok mengoperasikan pusat data di berbagai belahan dunia untuk menyimpan serta mencadangkan data pengguna. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan juga meningkatkan upaya untuk menyimpan data secara regional guna merespons kekhawatiran terkait keamanan data.
Sebagai contoh, TikTok mulai membangun pusat data di Finlandia tahun lalu untuk menampung data pengguna Eropa. Di AS, selama beberapa tahun terakhir, Oracle Corp. menyediakan layanan komputasi awan bagi TikTok, sekaligus mengelola sistem pemisahan data antara pengguna AS dan karyawan ByteDance di China.
Lokasi Pecém berada dekat dengan pusat kabel bawah laut utama yang mendarat di kota Fortaleza, yang menyediakan salah satu rute tercepat konektivitas data antara Brasil dengan Eropa dan Afrika.
Investasi di Pecém sejalan dengan agenda Presiden Lula terkait pengembangan AI. Pada September lalu, Lula menandatangani aturan sementara yang memberikan insentif kepada perusahaan yang membangun pusat data di Brasil, termasuk fasilitas impor bebas pajak untuk sejumlah peralatan.
“Saya yakin pusat data ini akan memberikan dampak luar biasa bagi pengembangan teknologi di negara ini. Proyek ini bisa menjadi contoh bagi pembangunan pusat data lain di berbagai wilayah Brasil,” kata Lula
Di sisi lain, TikTok juga tengah mempererat kehadirannya di Brasil di tengah ketidakpastian masa depan operasinya di AS. Hingga kini, perusahaan belum mencapai kesepakatan untuk mencegah pemblokiran layanan TikTok di AS.
Pemerintah China bulan lalu menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan Washington untuk menyelesaikan nasib bisnis TikTok di AS, tetapi belum memberikan dukungan terhadap rencana pemisahan usaha yang digaungkan Presiden Trump, yang mengusulkan pembentukan entitas baru dengan kepemilikan mayoritas investor asal AS.
Berdasarkan undang-undang keamanan nasional yang diteken mantan Presiden Joe Biden tahun lalu, ByteDance diwajibkan untuk melepas kepemilikan TikTok AS atau menghadapi pelarangan operasional di negara tersebut.
Tenggat awal ditetapkan pada Januari 2025, namun Trump telah beberapa kali memperpanjang batas waktu tersebut guna membuka ruang tercapainya kesepakatan.