Bisnis.com, BADUNG — TikTok, aplikasi social commerce, menerapkan sejumlah fitur dalam menjaga ratusan juta penggunanya di Indonesia agar terus menatap layar smartphone.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat TikTok menjadi aplikasi media sosial yang paling banyak diakses pengguna internet di Indonesia pada 2026, menggeser Instagram dan Facebook.
Dominasi aplikasi berbasis video pendek itu menunjukkan perubahan pola konsumsi konten digital sekaligus menguatnya posisi TikTok sebagai ruang interaksi komunitas hingga pemasaran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Managing Director of Product Partnerships TikTok Isaac Bass mengatakan, pertumbuhan platform tersebut berlangsung secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir, baik di Indonesia maupun secara global.
TikTok sendiri mencatat memiliki lebih dari 160 juta pengguna aktif bulanan di Indonesia, dan lebih dari 460 juta pengguna aktif bulanan di Asia Tenggara.
Menurutnya, perkembangan TikTok tidak hanya ditopang oleh popularitas video pendek, tetapi juga oleh kemudahan pengguna dalam membuat konten dan menemukan komunitas yang sesuai dengan minat masing-masing.
"Salah satu hal yang sangat dikuasai TikTok adalah menemukan video yang tepat untuk orang yang tepat pada waktu yang tepat," ujarnya, dikutip pada Kamis (18/6/2026).
Dia menjelaskan TikTok terus mengurangi hambatan dalam proses pembuatan konten sehingga semakin banyak pengguna dapat berpartisipasi tanpa memerlukan kemampuan teknis yang rumit.
Misalnya dengan kehadiran fitur seperti AutoCut, alat pengeditan berbasis AI yang secara otomatis memotong, menyusun, dan menyinkronkan beberapa klip video atau foto dengan musik pilihan pengguna.
Alhasil, pengguna tak perlu lagi mengedit video maupun foto secara manual yang kerap menyita banyak waktu.
Kemampuan rekomendasi konten tersebut membuat pengguna dengan minat yang sangat beragam dapat menemukan komunitasnya secara organik. Kondisi itu turut memperluas basis pengguna TikTok yang kini tidak lagi didominasi kelompok usia tertentu.
“Ibu saya yang berusia 81 tahun pun kini menggunakan TikTok. Dia menemukan konten yang tepat dan sesuai dengan preferensinya. Jadi, itulah bagian dari evolusi yang kami lihat,” ungkapnya.
Di samping penggunaan pribadi, kini TikTok semakin relevan bagi pelaku UMKM yang ingin menjangkau konsumen baru. Pertumbuhan usaha kecil di platform tersebut terjadi secara alami karena pelaku usaha dapat langsung bertemu dengan komunitas yang sesuai dengan produk yang ditawarkan.
"TikTok adalah tempat di mana audiens berada. Semakin banyak komunitas dan kategori konten yang ada di platform, orang-orang akan datang secara alami," katanya.
Isaac mengungkapkan, banyak usaha kecil dan mikro yang berkembang setelah bergabung dengan TikTok.
Menurutnya, skala usaha bukan menjadi faktor utama keberhasilan di platform tersebut. Pelaku usaha kecil tetap memiliki peluang menjangkau konsumen yang tepat selama mampu membangun hubungan yang autentik dengan komunitas dan kreator.
“Anda bisa memiliki usaha yang sangat kecil dan menemukan orang yang tepat, yang tertarik dengan produk Anda, bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Selama Anda fokus pada ciri khas masing-masing,” lanjutnya.
Di tengah munculnya berbagai pembatasan penggunaan media sosial bagi kelompok usia muda di sejumlah negara, TikTok memastikan akan mematuhi setiap regulasi yang berlaku.
Meski demikian, perusahaan tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan pengguna di Indonesia, sekalipun kini terdapat pembatasan pengguna di bawah 16 tahun. TikTok menilai pertumbuhan internet yang terus berlangsung akan menjadi pendorong ekspansi platform digital dalam jangka panjang.
“Tidak ada strategi khusus untuk mendorong jumlah pengguna. Kami tentu saja akan selalu mematuhi peraturan pemerintah mana pun. Kami melihat banyak hal, katakanlah TikTok terus tumbuh secara umum, kami terus mendapatkan lebih banyak pengguna,” ujarnya.
Sebelumnya, dalam Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet 2026 yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat TikTok menjadi aplikasi media sosial yang paling banyak diakses dengan porsi 31,8%. Meski tetap berada di posisi teratas, angkanya turun dibandingkan 35,2% pada 2025.
Di bawah TikTok, Instagram mencatat kenaikan signifikan dengan porsi penggunaan mencapai 27,7% dari sebelumnya 15,9%. Adapun Facebook berada di posisi ketiga dengan porsi 20,4%, turun dari 21,6% pada tahun sebelumnya.