Trump Lempar Tarif 25% ke Mitra Dagang Iran, Perdagangan Global Berisiko Terguncang

Trump Lempar Tarif 25% ke Mitra Dagang Iran, Perdagangan Global Berisiko Terguncang

Trump menerapkan tarif 25% pada mitra dagang Iran, mengancam stabilitas perdagangan global. Kebijakan ini memicu ketegangan di tengah protes besar di Iran.

(Bisnis.Com) 13/01/26 14:34 102031

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif 25% terhadap negara-negara yang tetap berbisnis dengan Iran, meningkatkan tekanan di tengah gelombang protes besar yang mengguncang Teheran.

Melansir Bloomberg pada Selasa (13/1/2026), Trump menyampaikan melalui media sosial bahwa tarif baru tersebut berlaku segera, tanpa merinci cakupan maupun mekanisme penerapannya.

Kebijakan ini berpotensi mengganggu hubungan dagang utama AS di berbagai belahan dunia. Mitra Iran tidak hanya negara-negara tetangga, tetapi juga perekonomian besar seperti India, Turki, dan China.

“Negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenai tarif 25% atas seluruh kegiatan bisnis dengan Amerika Serikat. Perintah ini bersifat final dan mengikat,” tulis Trump.

Sebelumnya, Trump telah mengenakan tarif hingga 50% terhadap sejumlah produk India yang terkait dengan pembelian minyak Rusia. AS dan India sendiri telah berbulan-bulan berupaya merampungkan kesepakatan untuk memberikan pelonggaran tarif bagi New Delhi

Hubungan dagang India dengan Iran relatif kecil, hanya sekitar 0,15% dari total perdagangan India. Iran sempat menjadi pemasok minyak mentah terbesar ketiga bagi India, namun New Delhi menghentikan impor pada 2019 setelah AS memberlakukan kembali sanksi terhadap Teheran.

Meski ruang lingkup kebijakan tarif terbaru Trump belum jelas, kepentingan India di pelabuhan Chabahar, Iran, berpotensi menjadi sorotan. Pelabuhan tersebut merupakan jalur strategis bagi India menuju Afghanistan dan Asia Tengah melalui Koridor Transportasi Internasional Utara–Selatan, sekaligus memungkinkan New Delhi menghindari Pakistan. India menandatangani perjanjian jangka panjang pada 2024 untuk mengelola pelabuhan itu dan memperluas pengaruh regionalnya.

Pengenaan tarif tambahan 25% terhadap produk China juga berisiko mengganggu gencatan dagang yang dinegosiasikan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir tahun lalu. China merupakan pembeli minyak mentah Iran terbesar di dunia, dengan kilang independen yang bahkan meningkatkan serapan minyak Iran hingga bulan lalu.

Ancaman tarif ini juga dibayangi putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas tarif global Trump. Jika pengadilan memutuskan tidak mendukung kebijakan tersebut, kemampuan Trump untuk secara cepat mengenakan tarif terhadap mitra Iran bisa terhambat. Mahkamah Agung dijadwalkan mengeluarkan putusan berikutnya pada Rabu (14/1/2026).

Iran sendiri telah mengalami berminggu-minggu kerusuhan massal yang awalnya dipicu krisis mata uang dan memburuknya kondisi ekonomi, namun kini beralih menjadi penentangan langsung terhadap rezim. Gelombang protes ini disebut sebagai tantangan terbesar bagi sistem pemerintahan Republik Islam sejak 1979

Meski rezim Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pernah menghadapi protes sebelumnya, demonstrasi kali ini kian meluas dan, menurut sejumlah laporan, menarik ratusan ribu massa di berbagai kota selama akhir pekan.

Otoritas Iran berupaya menekan aksi tersebut dengan kekerasan, menewaskan lebih dari 500 orang dan menangkap lebih dari 10.000 orang, menurut Human Rights Activists News Agency.

Trump secara terbuka mendukung para demonstran dan memperingatkan Teheran agar tidak menindak aksi unjuk rasa secara brutal. Dalam wawancara dengan Fox News pekan lalu, Trump menyatakan AS akan menghantam Iran dengan sangat keras jika aparat terus menembaki para demonstran.

Pada Minggu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa pimpinan Iran telah menghubungi AS untuk membuka pembicaraan dan pertemuan sedang disiapkan, meski tanpa rincian waktu. Namun, dia menegaskan pemerintahannya tetap mempertimbangkan berbagai opsi dan berkoordinasi dengan para sekutu.

“Kami menanganinya dengan sangat serius. Militer juga sedang mengkaji, dan kami mempertimbangkan sejumlah opsi yang sangat kuat. Saya menerima laporan setiap jam dan kami akan mengambil keputusan," kata Trump.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebut Trump telah menerima pengarahan mengenai berbagai opsi serangan militer terhadap Iran, termasuk sasaran nonmiliter. Presiden disebut serius mempertimbangkan pemberian otorisasi serangan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan telah membuka jalur komunikasi dengan utusan Timur Tengah Trump, Steve Witkoff, menurut pernyataan juru bicara kementerian pada Senin.

Iran memperingatkan AS dan Israel yang berkoordinasi melakukan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu agar tidak melakukan intervensi. Teheran dan Washington sendiri telah lama tidak memiliki hubungan diplomatik formal.

Ancaman Trump terhadap Iran membuat kawasan berada dalam ketegangan tinggi, terlebih setelah serangan AS awal bulan ini di Venezuela negara kaya minyak lainnya, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Jika AS atau sekutunya, Israel, melakukan intervensi, situasi berpotensi menyeret negara-negara tetangga dan mengancam akses ke Selat Hormuz, jalur vital bagi ekspor energi global.

#trump-tarif-25 #perdagangan-global #mitra-dagang-iran #tarif-baru-trump #hubungan-dagang-as #india-iran-perdagangan #china-minyak-iran #tarif-produk-china #mahkamah-agung-tarif #protes-iran #trump-du

https://kabar24.bisnis.com/read/20260113/19/1943892/trump-lempar-tarif-25-ke-mitra-dagang-iran-perdagangan-global-berisiko-terguncang