Smelter Nikel Vale Kongsi Ford & Huayou Senilai Rp76 Triliun Tuntas Agustus 2026

Smelter Nikel Vale Kongsi Ford & Huayou Senilai Rp76 Triliun Tuntas Agustus 2026

Proyek smelter HPAL yang digarap Vale Indonesia bersama Ford dan Huayou ditargetkan rampung pada Agustus 2026 dan beroperasi tahun ini.

(Bisnis.Com) 19/01/26 19:35 107722

Bisnis.com,JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melaporkan progres pembangunan proyek smelter high pressure acid leaching (HPAL) di Pomalaa Sulawesi Tenggara, Bahodopi Sulawesi Tengah, dan Sorowako Sulawesi Selatan.
Adapun, ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari komitmen hilirisasi nikel perusahaan untuk memenuhi mandat izin usaha pertambangan khusus (IUPK).
Presiden Direktur INCO Bernardus Irmanto bahkan menyebut, proyek tambang dan smelter HPAL Pomalaa bakal beroperasi pada 2026 ini. Dia menjelaskan, pembangunan smelter HPAL Pomalaa dilakukan bersama Ford dan Huayou.
Proyek dengan nilai investasi US$4,5 miliar atau sekitar Rp76,21 triliun (asumsi kurs Rp16.935 per US$) itu dapat menghasilkan produk mixed hydroxide precipitate (MHP) dengan kapasitas 120 ktpa. Di satu sisi, tambang di Pomalaa ditargetkan mampu memproduksi 7 juta ton bijih nikel saprolite (kadar tinggi) dan 21 juta ton limonite (kadar rendah).
"Konstruksi sudah mencapai 60% dan kita harapkan di bulan Agustus tahun 2026 itu dalam tanda kutip sudah bisa melakukan mechanical completion," kata Bernardus dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (19/1/2026).
Adapun, proyek tambang dan smelter Pomalaa itu dinilai dapat menyerap tenaga kerja hingga 5.150 orang.
Bernardus menyebut bahwa pada Agustus 2026, smelter HPAL di Pomalaa sudah bisa menerima pasokan bijih nikel. Oleh karena itu, pihaknya membutuhkan stockpile untuk pasokan selama 3 bulan.
Proyek selanjutnya adalah tambang dan smelter HPAL Morowali di Bahodopi. Proyek dengan nilai investasi US$2 miliar ini dikerjakan bersama perusahaan China GEM dan perusahaan Korea Selatan Ecopro.
Bernardus memaparkan, kebutuhan smelter HPAL Bahodopi akan dipasok dari tambang yang memproduksi 5,5 juta ton nikel saprolite dan 10,4 juta ton nikel limonite per tahun. Smelter tersebut ditargetkan memproduksi 66 ktpa MHP per tahun.
"Perkiraannya juga di kuartal IV tahun 2026 mechanical completion-nya sudah bisa dicapai, mudah-mudahan semua hal terkait dengan perizinan bisa cepat kami peroleh," tutur Bernardus.
Dia mengatakan, smelter di Bahodopi ini membutuhkan stockpile bijih nikel untuk 3 bulan. Adapun, proyek tambang dan smelter itu diklaim dapat menyerap tenaga kerja hingga 3.579 orang.
Proyek berikutnya adalah tambang dan smelter HPAL Sorowako Limonite. Proyek dengan nilai investasi US$2,2 miliar itu dikerjakan bersama Huayou itu ditargetkan beroperasi pada 2027.
Bernardus memerinci, progres pembangunan smelter HPAL di Sorowako tersebut baru mencapai 17%. Smelter itu ditargetkan memiliki kapasitas produksi MHP 60 ktpa. Sementara itu, total kebutuhan pasokan nikel limonite mencapai 11,5 juta ton per tahun.
"Ini mungkin secara progres ini yang paling terlambat dibandingkan dengan Pomalaa dan Bahodopi," ungkap Bernardus.

#smelter-nikel #vale-indonesia-tbk #ford #huayou #proyek-hpal

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260119/44/1945294/smelter-nikel-vale-kongsi-ford-huayou-senilai-rp76-triliun-tuntas-agustus-2026