TikTok Menyerah di Eropa, Akun di Bawah Umur Bakal Dihapus Pakai AI
TikTok akan meluncurkan AI untuk mendeteksi dan menghapus akun pengguna di bawah 13 tahun di Eropa, merespons tekanan global terkait perlindungan anak.
(Bisnis.Com) 24/01/26 13:10 112972
Bisnis.com, JAKARTA – TikTok akhirnya menyatakan akan meluncurkan sistem deteksi usia berbasis kecerdasan artifisial (AI) di seluruh wilayah Eropa dalam beberapa pekan mendatang.
Sistem deteksi ini diambil untuk untuk merespons tekanan global yang meningkat terkait penegakan aturan batas usia dan perlindungan anak di ranah digital.
Melansir dari Mashable Sabtu (24/1/2026), Manajemen TikTok mengonfirmasi bahwa teknologi ini dirancang khusus untuk mengidentifikasi dan menghapus akun pengguna di bawah usia 13 tahun.
Kebijakan ini merupakan upaya perusahaan untuk mematuhi persyaratan peraturan di Eropa serta menegakkan kebijakan internal platform.
Secara teknis, sistem deteksi ini bekerja dengan menganalisis berbagai titik data digital, mencakup informasi profil, video yang dipublikasikan, serta pola perilaku pengguna. Analisis data tersebut digunakan untuk memperkirakan apakah seorang pengguna berada di bawah batas usia minimum yang diizinkan.
Namun, TikTok menegaskan bahwa keputusan moderasi tidak sepenuhnya diserahkan kepada algoritma. Apabila sistem menandai sebuah akun sebagai milik pengguna di bawah umur, akun tersebut akan ditinjau lebih lanjut oleh moderator spesialis manusia sebelum diambil keputusan penghapusan.
Mekanisme moderasi berlapis ini diterapkan untuk meminimalkan risiko kesalahan teknis. Perusahaan mengakui adanya potensi "positif palsu", di mana pengguna yang sebenarnya berusia di atas 13 tahun dapat secara keliru ditandai oleh sistem.
Peluncuran teknologi ini dilakukan melalui kolaborasi dengan Komisi Perlindungan Data Irlandia. Kerja sama tersebut bertujuan memastikan bahwa integrasi teknologi deteksi usia tetap mematuhi undang-undang privasi Eropa yang ketat.
“Dengan mengintegrasikan prinsip perlindungan data ke dalam fase desain teknologi sejak awal, hal ini memastikan bahwa prediksi kemungkinan seseorang berusia di bawah 13 tahun tidak digunakan untuk tujuan selain memutuskan apakah akan mengirim akun ke moderator manusia,” tulis manajemen TikTok dalam unggahan blog resminya.
Pihak TikTok menambahkan bahwa pendekatan privasi yang diadopsi memungkinkan perusahaan memberikan keamanan bagi remaja tanpa mengorbankan perlindungan data pribadi pengguna.
Langkah TikTok ini tidak lepas dari sorotan tajam regulator Uni Eropa yang mendesak platform media sosial untuk bertindak lebih tegas terhadap isu keselamatan anak.
Parlemen Eropa bahkan tengah mengkaji kemungkinan penerapan larangan media sosial bagi anak di bawah usia 15 tahun, mengikuti jejak Australia yang baru saja melembagakan larangan bagi anak di bawah 16 tahun.
Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah merancang Peraturan Pemerintah TUNAS (PP Tunas) yang menetapkan kewajiban bagi platform digital untuk menjaga keselamatan anak-anak.
Perlindungan ini mencakup pengaturan akun khusus anak, pembatasan akses terhadap fitur yang berpotensi membahayakan, serta penerapan mekanisme pengawasan yang lebih ketat.
Di sisi lain, tantangan verifikasi usia secara online juga menjadi isu operasional bagi pelaku industri lainnya. Dilaporkan pula platform gim Roblox kini menggunakan teknologi pengenalan wajah, namun masih menghadapi kendala teknis berupa manipulasi sistem oleh pengguna.
#tiktok-eropa #akun-di-bawah-umur #deteksi-usia-ai #perlindungan-anak-digital #kebijakan-tiktok-eropa #moderasi-akun-tiktok #privasi-pengguna-tiktok #komisi-perlindungan-data #keselamatan-anak-media-so