Saham BBCA-BBRI Rebound! Sinyal Titik Balik Emiten Bank Jumbo?
Saham bank besar seperti BBCA dan BBRI rebound seiring meredanya sentimen MSCI. Namun, pemulihan belum merata, dengan beberapa saham masih melemah.
(Bisnis.Com) 29/01/26 14:34 118524
Bisnis.com, JAKARTA — Saham perbankan jumbo seperti BBCA hingga BBRI mulai menunjukkan sinyal rebound pada perdagangan terbaru, seiring dengan sentimen penyesuaian indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) mulai mereda.
Sejumlah saham bank berkapitalisasi besar berbalik menguat, meski sebagian lainnya masih tertahan di zona merah.
Berdasarkan data perdagangan Stockbit pukul 14.00 WIB, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tercatat naik 0,71% ke level 7.075. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga menguat 1,39% ke posisi 3.640.
Selain itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) turut mencatatkan penguatan sebesar 1,68% ke harga 1.815. Selanjutnya terpantau saham PT Bank Ganesha Tbk. (BGTG) yang naik 3,94% atau 5 poin ke Rp132 per saham. Serta saham PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI) naik 0,51% atau 20 poin ke Rp3.970 per saham.
Penguatan tersebut mencerminkan mulai berkurangnya tekanan teknikal akibat rebalancing MSCI, yang sebelumnya memicu aksi jual asing secara masif, terutama pada saham-saham bank berlikuiditas tinggi. Pelaku pasar mulai melakukan bargain hunting seiring valuasi saham bank jumbo yang dinilai semakin atraktif.
Namun demikian, pemulihan belum terjadi secara merata. Sejumlah saham perbankan lainnya masih melanjutkan pelemahan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun 0,88% ke level 4.520, sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) melemah 2,03% ke posisi 4.350.
Di luar bank-bank besar, tekanan jual juga masih membayangi saham bank menengah dan kecil. PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) terkoreksi 1,43% ke harga 2.070.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) turun 2,09% ke level 1.170. Selanjutnya, PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) melemah 2,08% ke posisi 940, serta PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) yang turun 2,00% ke level 392.
Di sisi lain, PT Bank Jago Tbk. (ARTO) mencatatkan lonjakan signifikan dengan kenaikan 7,49% ke harga 1.795, menandakan adanya minat selektif investor pada saham perbankan digital di tengah volatilitas pasar.
MSCI Goyang Saham Bank
Seluruh saham di semua sektor ambles akibat adanya sentimen MSCI, salah satu yang paling besar yaitu sektor perbankan. Bahkan Indeks Harga Gabungan Saham (IHSG) sempat anjlok dan sempat meninggalkan level 8.000. Hal ini membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan trading halt sementara sebanyak dua kali.
Bursa Efek Indonesia memaparkan kronologi diskusi penyesuaian metodologi perhitungan free float saham-saham Indonesia antara Morgan Stanley Capital International (MSCI) dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk rebalancing indeks periode Maret 2026 yang berujung tak membuahkan hasil.
Akibatnya, MSCI pada 27 Januari 2026 mengumumkan pembekuan sementara rebalancing indeks saham Indonesia. Ini artinya, saham konstituen asal Indonesia di MSCI Index tidak akan bertambah maupun berkurang.
Masuknya saham-saham baru di MSCI Index biasanya menjadi sentimen positif IHSG. Sebaliknya, dengan hasil ini pasar merespons dengan aksi jual besar-besaran, membuat IHSG jeblok dan mengalami trading halt di 2 hari perdagangan beruntun.
Direktur Utama BEI Iman Rachman menjelaskan diskusi BEI dengan MSCI sebenarnya sudah berlangsung sejak Oktober 2025 kala MSCI mengumumkan perubahan metodologi perhitungan free float khusus untuk pasar saham Indonesia.
Dalam usulan proposal tersebut, MSCI mengusulkan agar perhitungan free float perusahaan Indonesia didasarkan pada angka terendah antara dua sumber data, yaitu data resmi perusahaan seperti laporan tahunan dan siaran pers, serta estimasi dari KSEI Holding Composition Report.
Dalam laporan KSEI tersebut, kategori script shares, corporates (lokal dan asing), serta others (lokal dan asing) akan diklasifikasikan sebagai non-free float.
Dalam skenario alternatif lainnya, hanya script shares dan corporates yang dikategorikan sebagai non-free float. "Waktu itu mereka menunjuk bahwa mereka akan menggunakan data dari KSEI.
Sebagaimana diketahui data KSEI itu mencampurkan antara yang di bawah 5% kepemilikan sahamnya dan di atas 5%. Kami, OJK dan KSEI secara langsung berdiskusi dengan MSCI untuk menyampaikan keberatan kami, adalah bahwa pengenaan proposal mereka tidak berlaku di bursa lain. Kami minta equal treatment," kata Iman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (29/1/2026).
Dalam diskusi tersebut, Iman mengatakan pihak Indonesia juga menyampaikan beberapa opsi yang bisa membantu perhitungan metodologi free float MSCI. Diskusi ini berlangsung dari tahun lalu sampai 15 Januari 2026.
BEI dan OJK bahkan sempat terbang ke Amerika Serikat (AS) pada 8 Desember 2025. Sebagai solusi dari BEI, pada 2 Januari 2026, SRO bursa telah mendetailkan data free float yang dipublikasikan, dengan harapan sesuai standar yang diharapkan MSCI. Namun, rupanya apa yang sudah dilakukan BEI dan KSEI belum cukup di mata MSCI.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#saham-bank #bbca-bbri #rebound-saham #saham-perbankan #msci-indeks #saham-bank-jumbo #saham-bank-besar #saham-bank-kecil #saham-digital #ihsg-anjlok #trading-halt #bei-msci #free-float-saham #saham-in