Kredit Diramal Naik pada Akhir 2025, Sinyal Pemulihan Fungsi Intermediasi?
Bank Indonesia memprediksi peningkatan kredit pada kuartal IV/2025, menandakan sinyal pemulihan fungsi intermediasi.
(Bisnis.Com) 22/10/25 09:35 11853
Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkirakan penyaluran kredit pada kuartal IV/2025 meningkat dibanding kuartal sebelumnya. Keyakinan ini dinilai sebagai sinyal awal pemulihan fungsi intermediasi yang masih bergantung pada perbaikan permintaan korporasi dan daya serap dunia usaha.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menyampaikan keyakinan BI terhadap peningkatan penyaluran kredit pada kuartal IV/2025 pada dasarnya merefleksikan harapan atas fungsi intermediasi perbankan yang mulai menguat di tengah stabilitas makro yang terjaga.
“BI membaca peluang bahwa sektor riil khususnya korporasi besar mulai menyesuaikan struktur pembiayaannya menjelang akhir tahun, seiring tren penurunan suku bunga acuan dan kelonggaran makroprudensial yang telah diberikan,” kata Rizal kepada Bisnis, Selasa (21/10/2025).
Namun dari sudut pandang empiris, Rizal menyebut bahwa ekspektasi ini masih memerlukan kehati-hatian karena gap antara likuiditas dan permintaan kredit riil belum sepenuhnya pulih.
Pertumbuhan kredit tahun berjalan masih terbatas pada kisaran 7%-8% secara tahunan (year on year/YoY), dengan transmisi kebijakan moneter ke suku bunga pinjaman yang berjalan lambat.
“Optimisme BI tidak bisa dibaca sebagai indikasi lonjakan besar, melainkan sebagai sinyal awal pemulihan fungsi intermediasi yang masih bergantung pada perbaikan permintaan korporasi dan daya serap dunia usaha,” tuturnya.
Menurutnya, optimisme tersebut bersifat conditional realistis apabila momentum belanja akhir tahun terjaga dan dunia usaha kembali aktif memanfaatkan kredit modal kerja.
Sebaliknya, lanjut dia, jika sisi permintaan tetap lemah akibat tekanan biaya dan ketidakpastian global, penyaluran kredit hanya akan tumbuh secara nominal, bukan secara riil produktif.
Lebih lanjut, Rizal menyebut bahwa kenaikan kredit pada kuartal IV/2025 cenderung tak bisa dilepaskan dari pola musiman. Dia menuturkan, akhir tahun lazimnya menjadi periode peningkatan kebutuhan modal kerja dan konsumsi, baik oleh korporasi yang menutup siklus bisnis maupun rumah tangga yang meningkatkan belanja akhir tahun.
Dalam konteks ini, ujar dia, kenaikan kredit merupakan respon jangka pendek terhadap peningkatan likuiditas musiman bukan tanda perbaikan struktural.
Kendati begitu, kenaikan kredit tidak sepenuhnya musiman. Dia mengatakan ada sinyal fundamental yang mulai membaik di mana inflasi yang terkendali di bawah 3 persen, nilai tukar relatif stabil, serta kebijakan penurunan suku bunga BI yang mulai memberi ruang bagi perbankan menurunkan cost of fund.
“Faktor-faktor ini membentuk baseline pemulihan yang lebih kuat dibandingkan paruh pertama 2025,” ujarnya.
Namun secara struktural, Rizal menyebut bahwa belum semua sektor produktif menunjukkan rebound yang signifikan. UMKM dan sektor padat karya masih menghadapi tekanan permintaan, sehingga dorongan kredit lebih bersifat top-down dari sisi bank, bukan bottom-up dari sisi debitur.
BI dalam Survei Perbankan memperkirakan penyaluran kredit baru pada kuartal IV/2025 meningkat dibanding kuartal III/2025. Perkiraan tersebut terindikasi dari saldo bersih tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru pada kuartal IV/2025 yang sebesar 96,40%. Angka itu lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang tercatat 82,33%.
“Prioritas utama responden dalam penyaluran kredit baru pada kuartal IV/2025 sama dengan periode sebelumnya, yaitu Kredit Modal Kerja, diikuti oleh Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi,” tulis BI dalam survei tersebut, dikutip Selasa (21/10/2025).
Untuk jenis Kredit Konsumsi, otoritas moneter memperkirakan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR)/Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) masih menjadi prioritas utama, diikuti oleh Kredit Multiguna dan Kredit Tanpa Agunan.
Menurut sektor, penyaluran kredit baru pada periode tersebut diperkirakan terbesar pada sektor Industri Pengolahan, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Perantara Keuangan.
Adapun responden pada survei kuartal III/2025 memperkirakan outstanding kredit sampai dengan akhir 2025 meningkat, dengan nilai SBT 94,43%. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan SBT pertumbuhan kredit 2024 sebesar 95,74%.
#kredit-2025 #fungsi-intermediasi #penyaluran-kredit #bi-kredit #kuartal-iv-2025 #permintaan-korporasi #daya-serap-usaha #suku-bunga-acuan #likuiditas-kredit #pertumbuhan-kredit #kredit-modal-kerja #kr