Fundamental Moncer, Saham BBCA Kena Badai Net Sell Rp4,1 Triliun Efek MSCI

Fundamental Moncer, Saham BBCA Kena Badai Net Sell Rp4,1 Triliun Efek MSCI

Saham BBCA tertekan net sell Rp4,1 triliun akibat penangguhan MSCI, meski fundamental tetap solid. BCA rencanakan buyback saham Rp5 triliun untuk stabilitas.

(Bisnis.Com) 29/01/26 15:43 118626

Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan jual yang melanda pasar saham Indonesia dalam dua hari terakhir ikut menyeret saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), meski secara fundamental kinerja bank swasta terbesar di Tanah Air itu masih mencatatkan performa solid sepanjang 2025.

Saham-saham perbankan kompak melemah tajam pada perdagangan Rabu (28/1/2026) seiring aksi panic selling investor menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penangguhan sementara terhadap saham asal Indonesia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp6,17 triliun di pasar reguler pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Saham BBCA menjadi yang paling banyak dilepas dengan nilai jual bersih mencapai Rp4,1 triliun kemarin.

Sejalan dengan derasnya arus keluar dana asing tersebut, saham BCA ditutup terkoreksi 6,33% atau turun 475 poin ke level Rp7.025 per saham saat itu. Sepanjang perdagangan Rabu, saham BBCA bahkan sempat menyentuh level terendah di Rp6.925 per saham sebelum kembali naik terbatas menjelang penutupan. Kapitalisasi pasar BCA pun menyusut menjadi sekitar Rp866,01 triliun.

Tekanan berlanjut pada perdagangan Kamis (29/1/2026). Berdasarkan data BEI pukul 10.15 WIB, saham BBCA kembali terkoreksi 4,63% atau turun 325 poin ke level Rp6.700 per saham. Saham ini sempat menyentuh titik terendah di Rp6.375 per saham. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp820 triliun, pelemahan BBCA turut memberikan kontribusi signifikan terhadap tekanan di sektor keuangan.

Namun, memasuki perdagangan siang hari, saham perbankan jumbo termasuk BBCA mulai menunjukkan sinyal pemulihan seiring meredanya sentimen penyesuaian indeks MSCI. Berdasarkan data Stockbit pukul 14.00 WIB, saham BBCA tercatat berbalik menguat 0,71% ke level Rp7.075 per saham.

Kinerja BBCA Tetap Solid

Di tengah volatilitas harga saham tersebut, fundamental BCA justru menunjukkan kinerja yang relatif defensif. Sepanjang tahun buku 2025, BCA membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp57,5 triliun, tumbuh 4,9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Merujuk data presentasi BBCA, pertumbuhan laba ini ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan nonbunga yang tetap solid.

Pendapatan operasional BCA pada 2025 tercatat mencapai Rp111,1 triliun, naik 5,4% yoy. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) mencapai Rp85,4 triliun, sementara pendapatan nonbunga tumbuh dua digit sebesar 16% menjadi Rp25,6 triliun, mencerminkan kuatnya kontribusi fee based income dari transaksi dan jasa perbankan.

Dari sisi profitabilitas, rasio return on assets (ROA) BCA tetap terjaga di level tinggi sebesar 3,9%, sementara return on equity (ROE) tercatat 23,3%. Capaian ini menegaskan posisi BCA sebagai salah satu bank dengan profitabilitas paling kuat di industri perbankan nasional.

Likuiditas BCA juga tetap solid. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 10,2% yoy menjadi Rp1.249 triliun, dengan pertumbuhan dana murah (CASA) mencapai 13,1% yoy menjadi Rp1.045 triliun. Rasio CASA terhadap total pendanaan meningkat menjadi 84,6%, memperkuat struktur pendanaan berbiaya rendah perseroan.

Di sisi penyaluran kredit, total kredit BCA tumbuh 7,7% yoy menjadi Rp992,9 triliun. Pertumbuhan terutama ditopang oleh segmen korporasi dan komersial, sejalan dengan aktivitas bisnis yang masih terjaga. Meski pertumbuhan kredit relatif moderat, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross turun ke level 1,7% dari 1,8% pada tahun sebelumnya.

Permodalan BCA juga berada pada level yang sangat kuat. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tercatat 29,8%, jauh di atas ketentuan regulator, memberikan ruang yang luas bagi BCA untuk tetap ekspansif sekaligus menyerap potensi risiko ke depan.

BCA Buyback Saham Rp5 Triliun

Seiring dengan pelemahan saham, BCA mengumumkan rencana pembelian kembali saham (shares buyback) dengan nilai maksimal Rp5 triliun. Rencana ini seiring dengan saham BCA yang ambles 6% ke level Rp7.025 per saham pada penutupan perdagangan Rabu (28/1/2026).

Buyback dilakukan sebagai upaya mendukung stabilitas pasar modal, meningkatkan kepercayaan investor, serta memberikan imbal hasil yang lebih optimal bagi pemegang saham. Rencana buyback tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Maret 2026.

Apabila disetujui, pelaksanaan buyback akan berlangsung selama 12 bulan sejak tanggal persetujuan RUPST, kecuali diakhiri lebih cepat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyampaikan bahwa aksi korporasi ini merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika pasar modal.

“Periode shares buyback akan dilaksanakan selama 12 bulan sejak disetujuinya rencana shares buyback oleh RUPST, kecuali diakhiri lebih cepat oleh Perseroan dengan memperhatikan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujar Hera dalam keterangan resminya, Rabu (28/1/2026).

Adapun nilai pembelian kembali saham ditetapkan sebesar-besarnya Rp5 triliun, termasuk biaya perantara pedagang efek serta biaya lain yang terkait. Jumlah saham yang dapat dibeli kembali tidak akan melebihi 10% dari modal disetor perseroan.

Majemen menegaskan, pelaksanaan buyback tidak akan mengakibatkan penurunan modal di bawah batas minimum sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait kewajiban penyediaan modal minimum bank umum.

Selain itu, BCA menilai aksi buyback ini tidak akan berdampak material terhadap kinerja keuangan maupun kegiatan usaha perseroan.

Adapun, periode pelaksanaan shares buyback adalah 12 (dua belas) bulan sejak disetujuinya rencana shares buyback oleh RUPST, kecuali diakhiri lebih cepat oleh perseroan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#saham-bbca #fundamental-bca #net-sell-bbca #msci-indonesia #saham-perbankan #tekanan-jual-saham #saham-bca-terkoreksi #kapitalisasi-pasar-bca #kinerja-bbca #laba-bersih-bca #pendapatan-bunga-bersih #r

https://finansial.bisnis.com/read/20260129/90/1948398/fundamental-moncer-saham-bbca-kena-badai-net-sell-rp41-triliun-efek-msci