Impor Bahan Baku RI Anjlok Ketika Manufaktur Balik Ekspansi

Impor Bahan Baku RI Anjlok Ketika Manufaktur Balik Ekspansi

Impor bahan baku RI turun 0,83% di 2025, meski manufaktur ekspansif. Indeks manufaktur naik, didorong permintaan domestik, sementara ekspor melemah.

(Bisnis.Com) 02/02/26 13:27 122569

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa nilai ekspor bahan baku penolong selama tahun 2025 mengalami kontraksi sebesar 0,83%.

Kondisi tersebut seolah berbanding terbalik dengan indeks manufaktur Indonesia yang selama beberapa bulan terakhir kembali ke level ekspansi.

Data BPS menunjukkan bahwa total impor bahan baku pada Januari-Desember 2025 tercatat sebesar US$169,3 miliar. Angka ini terkoreksi tipis dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar US$170,7 miliar.

Sementara itu dari sisi proporsinya, bahan baku penolong juga mengalami penurunan dari 72,58% menjadi 70% dari total keseluruhan impor senilai US$241,8 miliar.

Impor barang modal menjadi satu-satunya importasi yang tumbuh positif di angka 20%. Nilainya mencapai US$50,1 miliar dengan proporsi 20,72% dibandingkan dengan tahun 2024 yang hanya di angka 17,75%.

Sementara itu impor barang konsumsi tercatat mengalami kontraksi sebesar 1,3% dengan nilai sebesar US$22,4 miliar atau 9,27% dari total seluruh impor Indonesia pada tahun 2025.

Indeks Manufaktur Indonesia

Sebelumnya, ekspansi manufaktur Indonesia berlanjut dalam 6 bulan terakhir. Pada Januari 2026, indeks produktivitas mencapai level 52,6 atau naik dari Desember 2025 yang berada di angka 51,2.

Laporan terbaru S&P Global, Senin (2/2/2026), menunjukkan perbaikan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia didorong oleh kenaikan pesanan baru dan produksi, meski pasar ekspor masih tertahan.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti menilai pemulihan ini masih bertumpu pada pasar dalam negeri. Perekonomian manufaktur Indonesia dinilai sedikit membaik pada Januari, didorong oleh peningkatan berkelanjutan pada output dan permintaan baru.

“Sekali lagi, nampaknya ekspansi didorong oleh perekonomian domestik karena permintaan ekspor baru mengalami kontraksi berkelanjutan,” kata Bhatti dalam laporan tersebut.

Dia juga menyoroti ekspektasi dunia usaha yang semakin positif untuk tahun ini. Pengusaha industri optimistis bahwa kondisi permintaan yang lebih kuat pada awal tahun ini akan berlanjut sepanjang sisa tahun ini, bersamaan tumpukan pekerjaan sebagai indikator aktivitas jangka pendek naik tiga bulan berturut-turut.

“Pada saat yang sama, kepercayaan diri tentang perkiraan 12 bulan mendatang juga menguat ke level tertinggi sejak bulan Maret lalu,” tuturnya.

Peningkatan kinerja terutama ditopang oleh pesanan baru yang terus tumbuh dan telah meningkat selama enam bulan berturut-turut. Permintaan domestik menjadi motor utama, di tengah laporan bahwa permintaan dari luar negeri masih lemah. Pesanan ekspor baru kembali mencatat kontraksi.

Sejalan dengan itu, output produksi juga naik untuk beberapa bulan beruntun dan mencatat laju tercepat dalam 11 bulan terakhir. Perusahaan merespons peningkatan permintaan dengan menambah aktivitas pembelian bahan baku serta memperbesar persediaan input dan barang jadi.

Meski demikian, laporan mencatat ketenagakerjaan turun sejak Juli 2025. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya beban kerja, yang tercermin dari penumpukan pekerjaan yang belum terselesaikan selama 3 bulan berturut-turut.

#impor-bahan-baku #manufaktur-indonesia #ekspor-bahan-baku #impor-barang-modal #indeks-manufaktur #ekspansi-manufaktur #purchasing-managers-index #pmi-manufaktur-indonesia #permintaan-domestik #pesanan

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260202/9/1949274/impor-bahan-baku-ri-anjlok-ketika-manufaktur-balik-ekspansi